Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kecurigaan.


__ADS_3

PLAGIAT? INGAT TUHAN ITU ADA. LEBIH BAIK SUSAH DI DUNIA DARIPADA DI AKHIRAT. NAUDZUBILLAHIMINDZALIK.


"Sebentar" ucap Aulia menghentikan tingkah suaminya, di tatap heran oleh laki laki masih ingin melanjutkan.


"Kenapa?" heran Dion bertanya.


"Aku curiga sama kamu deh dari semalam, kamu kenapa bisa lakuin hal kaya semalam gampang banget sih? terus kamu juga cium aku kaya orang udah sering" tiba tiba Aulia menatap suaminya penuh curiga, langsung mengernyitkan kedua alis Dion cepat.


"Itu semua naluri, cowok mana sih yang gak bisa kaya gitu? kenapa kamu ngomong kaya gitu sih? aku belum pernah kaya gitu sebelumnya sama siapapun dan cuma kamu yang pertama" jelas Dion menatap dalam mata istrinya.


"Masa sih? kok pinter banget?" tetap menatap curiga pada suaminya.


"Kamu tanya Seva deh, dia sering sama aku dan dia juga tau banget aku kaya gimana" jelas kembali Dion menghempaskan punggung di sandaran sofa.


"Ya kan nanya sama kamu, kok malah di suruh tanya orang lain sih?" jengkel Aulia memutar tubuh dan ikut menyandarkan punggung.


"Ya kan udah di jawab tapi gak percaya, mau dijelasin kaya gimana? kamu engga akan mudah percaya sama aku kan? kamu curiga aku udah pernah lakuin itu sama orang lain kan?" beruntun Dion bertanya.


"Udahlah kita ke bawah aja, engga enak kalau di kamar terus. Lagipula sebentar lagi magrib kamu juga harus ke masjid kan?" beranjak Aulia dari duduk di tahan pergelangannya oleh lelaki tetap di atas sofa.


"Aku engga mau kamu curiga sama aku, aku beneran engga pernah lakuin hal itu sebelumnya. Kita baru nikah lo kemarin, masa sekarang udah harus berantem gara gara kecurigaan kamu sih?" lemas Dion berucap dengan wajah murung.


"Aku percaya kok" sahut Aulia tersenyum tipis.

__ADS_1


"Oke aku jujur sama kamu, aku belajar ciuman dari film tapi bukan film yang kay gitu. Aku lihat film film nya Jason Statham, kamu tahu kan? dalamnya ada kaya gitu? aku sengaja belajar satu minggu sebelum nikah sayang, karena aku juga mau bahagiain kamu" jelas Dion mengatakan sejujurnya, membuat Aulia membulatkan mata.


"Kenapa harus lihat kaya gitu sih? kamu engga perlu buat belajar, kita pasti bisa sendiri seiring berjalannya waktu. Kita emang engga pernah lakuin hal itu sebelumnya, dan itu wajar kalau kita engga ngerti. Itu bukan masalah besar, kalau bisa jangan lagi nonton nonton yang kaya gitu di skip aja" lembut Aulia mengatakan.


"Iya, aku skip lain kali kalau nonton film. Tapi kamu jangan marah lagi, aku engga suka" memelas Dion menundukkan wajah, Aulia segera kembali duduk dan meletakkan kedua telapak tangan pada kedua sisi wajah suaminya.


"Aku engga marah, aku cuma nanya karena aneh" kembali Aulia bernada lembut mengangkat wajah suami untuk dilihatnya.


"Aku cuma sayang dan cinta sama kamu, engga ada lainnya" tulus Dion, dicium lembut keningnya oleh Aulia.


"Turun ya" lembut Aulia, memajukan bibir Dion.


"Apa? kok gitu?" polos Aulia aneh.


"Turun kebawah bukan ciumnya yang turun" jawab Aulia menggelengkan kepala tersenyum.


"Aku kira ciumnya yang kebawah, kan enak aku jadi mau" gerutu lirih Dion, menatap istrinya yang meraih sarung juga peci.


Aulia turun kebawah dengan membawakan sarung berwarna putih serta peci rajut berwarna senada. Dion mengikuti istrinya dari belakang tanpa lupa menutup pintu. Namun langkahnya terhenti ketika melangkah dan melihat Brian menapaki dua anak tangga sekaligus menuju kamar.


"Dek, gak usah lari lari!" kesal Aulia hamoir tertabrak adiknya.


Tidak menjawab, lelaki tinggi putih tersebut langsung menuju kamarnya sendiri diiringi tatapan kedua orang yang hendak turun ke bawah. Belum sampai Aulia dan Dion turun, Brian sudah kembali dan berlari menuruni anak tangga, membuat kakaknya jengkel menyerukan nama adiknya sedikit berteriak kesal.

__ADS_1


Lagi lagi Brian tidak memperdulikan ucapan kakaknya dan langsung berlari menuju kamar orangtuanya. Disana sudah ada keluarganya menunggu sampai Dokter telah dipanggil Dimas itu selesai di periksa. Awalnya memang Rena menolak, namun tubuh semakin panas dan menggigil memaksa Dimas harus melanggar permintaan istrinya.


"Nenek, ada apa?" cemas Aulia bertanya pada wanita tengah berada di depan kamar bersama Dinda.


"Mami sakit nak, sekarang udah sama Dokter" jelas Natalie, mengejutkan Aulia dan langsung masuk ke dalam kamar.


"Mami...." seru Aulia langsung naik ke atas ranjang mendampingi maminya masih di periksa.


"Mami kenapa pi? kenapa bisa kaya gini?" tanya Aulia berkaca kaca duduk di samping maminya.


Dimas menggelengkan kepala ke arah putrinya agar tak menangis, karena Rena sengaja menutupi sakitnya agar tak membuat putrinya bersedih di hari bahagianya. Suhu tubuh terlalu tinggi juga tubuh menggigit kuat, membuat Rena tak sanggup membuka kedua matanya walau sangat ingin melihat putrinya.


Tadi sewaktu Dimas tengah menemui tamu bersama Tyo dan Teddi, tiba tiba saja Brian keluar memanggil orang diluar untuk melihat maminya. Brian melihat tubuh maminya menggigil dengan kaki sangat dingin, membuatnya amat ketakutan dan berlari meminta tolong.


Bergegas Natalie dan Siska masuk untuk melihat wanita sudah meringkuk dalam selimut itu dengan tubuh sangat panas. Brian langsung memanggil papinya dan menghubungi Dokter agar cepat datang. Tidak pernah Rena sakit sampai seperti itu dan membuat Dimasa serta keluarganya sangat cemas.


Sedari tadi Erwin terus menggosok telapak kaki putrinya, dan meminta Brian untuk mengambil minyak kayu putih di kamarnya. Untuk itulah tadi Brian berlari cepat ke kamar lalu kembali. Dion menunggu di depan dengan meraih tubuh Dinda yang ia peluk, karena Natalie harus menyiapkan air hangat untuk mengompres menantunya.


Dalam keadaan seperti itu pun, Rena tetap tidak mau untuk di rawat di rumah sakit sehingga Dokter memasangkan infus di rumah saja. Meski hanya menjawab dengan gelengan kepala ringan saat suaminya mengajak ke rumah sakit, Dimas sudah mengerti jika istrinya tidak ingin sampai acara resepsi putrinya harus hancur karena dirinya yang sakit.


Aulia dan Brian tetap berada di atas ranjang bersama mami mereka, tidak ingin meninggalkan sedikitpun. Keduanya menitikan air mata yang langsung di usap cepat agar tak ketahuan papi mereka. Sedangkan Rendi dan Sandra dijaga Siska diluar bersama Keno, lalu dihampiri Tyo yang baru saja mengantar teman Rendi dan papanya sampai teras rumah.


** Maaf kalau aku minta tolong buat Like+Komen kalian, karena memang ada kebiajakan baru dari platform dimana novel kita benar benar diputuskan oleh readers nasibnya. Dan untuk itu aku dengan sangat berharap banget untuk kalian bisa tinggalkan Like+Komen buat setiap bab nya. Aku selama ini engga pernah perduli soal Like, Komen Vote kan? cuma karena kebijakan baru makanya aku minta tolong banget Like+Komennya, terima kasih banyak **

__ADS_1


__ADS_2