
STOP PLAGIAT!
Tepat setengah lima sore, Rena dan Erwin sudah dalam perjalanan pulang. Dimana perempuan cantik yang kini begitu manja menyandarkan kepala pada pundak Papa nya itu meminta untuk langsung di antar ke rumah Tyo, karena kedua anaknya masih terlelap di sana.
Tanpa mengabari kembali suami yang Ia hubungi satu jam lalu untuk bertanya tentang kedua anaknya, Rena langsung memutuskan untuk ke rumah dimana ada mertuanya di sana. Ia juga sangat ingin menemui wanita cantik itu, walaupun dirinya sendiri belum benar benar yakin jika Mama mertuanya sudah bisa menerimanya atau belum.
Erwin tak henti berpesan pada putrinya untuk tak membalas apapun perkataan Natalie jika sampai wanita yang sudah meminta maaf padanya itu berkata buruk. Tetap seorang Papa dengan perasaan sayang itu meminta putrinya agar selalu mengalah dan merendah akan segala sikap mertuanya nanti.
Pria berkacamata yang menitipkan mainan juga coklat untuk kedua cucunya itu, memilih untuk mengantar putrinya hanya sampai depan pagar saja. Karena Ia tak ingin terbawa emosi dan memperkeruh suasana saat nanti melihat putrinya harus kembali menerima hinaan. Erwin pun belum begitu yakin jika wanita yang telah meminta maaf dengan menangis itu, benar benar sudah bisa menyayangi putrinya atau belum. Namun Ia berharap apapun yang kini ada dalam benaknya takkan pernah terjadi dan berharap semua akan baik baik saja.
"Nak, jangan melawan mertuamu nanti jika Dia kembali menyakitimu, dan cepat hubungi Papa jika terjadi sesuatu," pesan Erwin begitu mereka sampai di depan pintu pagar berwarna putih rumah Tyo.
"Iya Pa, tapi Papa juga jangan terlalu berpikiran buruk dulu sama Mama mertua. Aku yakin beliau sudah berubah kok Pa, dan engga akan ada hal hal seperti itu," ucap Rena memahami betul kecemasan pria yang masih duduk bersamanya di baris kedua mobil.
"Papa berharap seperti itu, tapi Kamu harus tetap ingat semua pesan Papa untuk tetap mengalah karena bagaimanapun juga Natalie tetap Ibu dari suami Kamu, apapun yang Dia katakan tetaplah sabar dan jangan pernah melawan," kembali Erwin mengingatkan putri cantiknya dengan membelai lembut rambut panjang perempuan yang tersenyum di depannya.
"Iya Papa.." senyum Rena mengembang dengan wajah manja karena tanpa henti Papanya mengingatkan hal yang sama.
"Ya udah Papa balik dulu, Papa sayang sama Kamu anak kecilnya Papa," gemas Erwin menarik hidung mancung putrinya seraya tersenyum lebar.
__ADS_1
"Aku juga sayang banget sama Papa," peluk seorang anak yang merasa begitu beruntung memiliki Papa begitu pengertian, sabar dan penyayang seperti Erwin.
Dengan bantuan sopir, Rena turun dari mobil dan tak lupa membawa tiga kantong belanjaan berisi mainan juga kue yang sudah di belikan pria yang menyayangi kedua cucunya itu, ketika tadi mampir sebentar ke pusat perbelanjaan.
Sebentar Ia berdiri di depan pagar yang sudah di bukakan penjaga itu untuk menunggu hingga Papanya pergi. CCTV yang mengetahui kehadirannya, membuat penjaga sangat cepat bergerak untuk membuka pagar, bahkan sebelum perempuan cantik yang kini tersenyum sopan ke arahnya itu menekan tombol bel.
"Mbak?" seru Siska melihat kehadiran Kakak iparnya yang mengembangkan senyum dari wajah dengan polesan sedikit make up.
Siska menghampiri Rena dan meninggalkan selang air yang sudah Ia matikan. Sore hari juga menjadi kegiatan baru Siska untuk menyiram taman, sama halnya dengan kebiasaan Rena untuk membunuh waktu menunggu suaminya pulang dari kantor.
Kedua perempuan hamil yang sudah saling berbincang tersebut berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Dimana sudah ada Dimas tengah santai merebahkan kepala di atas pangkuan Mama nya, tak jarang jari jari lembut Natalie membelai rambut putra yang tengah menyaksikan acara olah raga favoritnya di layar TV.
Senyum bahagia seketika mengembang melihat suaminya begitu dekat dengan wanita cantik yang menyandarkan punggung di sofa bed putih, membiarkan putranya bersikap begitu manja.
"Sayang? kok di sini? katanya mau di jemput di rumah Kakek?" terkejut Dimas berjalan menghampiri istrinya yang berdiri tak jauh dari ruang TV.
"Katanya anak anak lagi tidur, makanya Aku langsung kesini Mas," lembut Rena sudah dipeluk oleh suaminya.
Ekspresi canggung jelas terbaca dari wajah cantik wanita yang sudah berdiri di depan sofa bed putih depan TV itu. Jari jarinya saling beradu di atas perut, layaknya seorang anak kecil yang takut akan kesalahannya.
__ADS_1
"Ma, ngapain berdiri di situ? sini dong," sengaja lelaki yang merasa merindukan istrinya seharian ini untuk memancing kedekatan Mama juga istrinya.
Melihat wajah canggung Natalie, mengembangkan senyum Dimas tang melingkarkan tangan pada pinggang istrinya itu mendekat pada Mamanya. Senyuman dalam perasaan gugup di kembangkan Rena sambil terus berjalan mendekati mertuanya. Mata Siska hanya mampu mengamati mereka sambil berharap dalam hati jika Kakak iparnya tak lagi mendapat penolakan.
"Ma.." sapa Rena meraih tangan wanita yang masih sibuk mengadu jarinya di atas perut untuk Ia cium.
Air mata tiba tiba terurai dari mata Natalie yang langsung memeluk tubuh menantunya untuk pertama kali. Rasa haru di ruangan tersebut begitu sangat terasa dengan kuat, hingga tanpa sadar Siska juga Dimas mengurai bulir air mata dari balik senyum bahagia mereka.
"Maafkan Mama," lirih Natalie masih memeluk perempuan cantik yang begitu merasa bahagia dan ikut menangis haru.
"Tidak Ma, jangan membuatku malu dengan permintaan maaf Mama," sahut Rena seakan merasakan kembali bagaimana kasih sayang seorang Ibu.
"Mama banyak salah sama Kamu Ren, Mama sangat malu bertemu dengan Kamu, Mama takut Kamu tidak akan pernah memaafkan Mama atas apa yang sudah Mama perbuat," panjang lebar Natalie membelai rambut dengan aroma shampo itu penuh kasih sayang dan kelembutan.
"Tidak Ma, Mama tidak memiliki salah apapun. Aku yang harusnya minta maaf pada Mama," sahut Rena yang seharusnya mendatangi mertuanya dari hari hari sebelumnya, namun baru bisa datang.
"Udang dong, masa iya mau nangis nangis terus. Rena lagi hamil loh Ma engga boleh nangis, lagian Mama juga kan sudah berumur masa nangis kaya Brian sih," goda Dimas memeluk keduanya dari samping.
"Kamu tuh mas," tawa Rena bersama Natalie yang meraih tubuh Siska untuk Ia peluk bersama.
__ADS_1
"Gini dong ketawa kan cantik cantik semua," goda kembali lelaki yang memeluk ketiganya bersamaan.
Tyo yang baru tiba melihat keempatnya merasakan kebahagiaan tak terhingga, serasa semua mimpi dan doa nya telah menjadi sebuah kenyataan. Kamera ponsel yang sudah siap memotret kebersamaan keempatnya sudah Ia arahkan pada pemandangan mengharukan di depannya. Foto yang telah Ia ambil segera dikirim pada nomor Erwin, Dedrick juga Teddy agar mereka juga dapat menyaksikan bagaimana cara keempatnya saling melempar senyum dalam sebuah pelukan kebahagiaan.