
Pagi itu setelah mengantarkan suami dan anaknya kedepan rumah, Rena beranjak ke kamar untuk bersiap siap ke tempat magang. Setelah selesai mandi, Rena segera mengganti pakaian dengan kemeja warna putih dan rok span berwarna hitam selutut sebagai seragam magang. Ia pun mulai memoles tipis wajah cantiknya itu dengan make up. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 dan Rena bergegas turun untuk memulai aktifitas magang.
"Bu, tadi Bapak pesan kalau Ibu mau berangkat disuruh Pak Adi saja yang antar," kata salah satu pelayan rumah Dimas yang melihat Rena tengah siap berangkat dengan pakaian rapi dan tas di pundaknya menuruni anak tangga dalam rumah besar tersebut.
"Engga usah, Bi. Saya sudah biasa naik motor, biar Pak Adi mengerjakan pekerjaan yang lain saja. Jangan lupa nanti jemput Aulia jangan sampai telat ya, Bi. Kalau begitu Saya berangkat dulu takut telat," sahut Rena sopan kemudian berlalu meninggalkan Bi Ijah yang masih berdiri didekat anak tangga.
Rena mulai menyalakan motornya dan bersiap berangkat, dengan hati hati Rena melajukan motor menyusuri jalanan lumayan padat, hingga sampai ke sebuah perusahaan tempatnya magang. Sesampainya di kantor tersebut, Rena memarkirkan kendaraan dan masuk ke dalam sebuah ruangan tempat karyawan.
Disana ia hanya membantu karyawan lain yang membutuhkan bantuan. Meski belum begitu akrab dengan orang orang di kantor tersebut, Rena selalu ramah dan menawarkan bantuan pada staff karyawan disana. Rena termasuk orang yang sangat cekatan dan mudah memahami pekerjaan, walaupun hal itu adalah hal baru baginya.
****
Waktu menunjukkan pukul lima sore, dan Rena bersiap untuk pulang. Saat tengah bersiap tiba tiba terdengar sebuah suara berat menegurnya.
"Rena, kamu pulang sama siapa?" tegur salah satu karyawan tempat Rena magang yang bernama Anton.
"Saya pulang sendiri, Mas," jawab Rena singkat sambil memasukkan beberapa barangnya ke dalam tas kerja.
"Makan malam bareng dulu yuk sebelum pulang, anggap saja sebagai ucapan terimakasih Saya ke Kamu karena seharian ini kamu sudah banyak membantu Saya," ajak Anton merasa hutang budi.
"Maaf, Mas. Mungkin lain kali, soalnya Saya harus secepatnya pulang ke rumah ada banyak yang harus saya kerjakan. Lagian juga membantu pekerjaan semua staff disini sudah seharusnya Saya lakukan sebagai anak magang, jadi Mas engga perlu sungkan." tolak Rena halus.
"Yasudah kalau begitu, lain kali Kamu janji ya engga boleh nolak lagi!" sahut Anton dengan sedikit kecewa, karena memang Anton menaruh hati pada Rena dari mulai Rena masuk magang di kantor tersebut. Untuk itu Anton kerap kali meminta tolong membantunya mengerjakan beberapa pekerjaan agar bisa dekat.
__ADS_1
"Iya, Mas. Yaudah Aku duluan ya, Mas?" ucap Rena sambil berlalu cepat meninggalkan Anton.
Rena langsung menuju tempat parkiran dimana ia memarkirkan motor, dan bergegas pergi. Namun saat di tengah jalan ia melihat sebuah toko roti dengan bentuk yang lucu lucu, lalu menghentikan laju motor di depan toko. Rena masuk ke dalam dan memilih milih roti di dalam tempat kaca. Matanya tertuju pada satu roti berbentuk gaun princess yang di balut dengan coklat berwarna warni.
"Aulia pasti senang sama kue ini," gumamnya dalam hati, meminta penjaga toko untuk membungkus kue tersebut dan bawa pulang untuk diberikan kepada putri cantiknya.
Rena membayar kue yang dibeli, lalu keluar dan kembali melajukan kendaaran hingga rumah. Sesampainya di rumah Ia mendapati Aulia tengah duduk pada kursi berada di teras rumah, Rena meletakkan motor tepat di depan teras dan meminta tolong Pak Adi untuk memindahkan ke garasi rumah suaminya.
"Loh, putri cantiknya Mami kok ada di luar sih? kan sudah mau gelap?" tanya Rena menghampiri Aulia tengah terduduk dengan wajah masam.
"Mami kenapa lama sih, Mi? Auli kangen sama Mami!" sahut Aulia dan langsung memeluk tubuh Rena yang tengah berjongkok di hadapannya.
"Tadi mami lihat toko kue di jalan, lalu Mami ingat Auli terus Mami beliin satu makanya Mami lama pulang sayang." Sahut Rena berusaha membujuk putrinya agar tidak lagi marah.
Auli pun segera mengambil kue yang tengah dibawa Maminya dan menciumi pipi perempuan tepat didepannya. Rena mengangkat tubuh putrinya dan menggendongnya masuk bersama.
"Iya, Bapak sore sekali sudah pulang?" tanya Rena pada suaminya yang tengah duduk di sofa ruang tamu dengan ponsel ditangan, menghampiri untuk mencium tangan.
"Kebetulan hari ini pekerjaan tidak begitu banyak, makanya siang Saya sudah pulang setelah jemput Auli dari sekolah." Dimas menjelaskan.
"Yaudah kamu bersihkan badan kamu dan ganti pakaian dulu, terus kita makan malam biar Auli sama Saya disini." Timpa Dimas lagi, meraih Auli dari gendongan agar Rena bisa membersihkan dirinya, namun ditolak oleh Aulia yang ternyata sedang marah.
"Auli engga mau sama papi, Auli mau sama Mami!" kesal Auli yang malah menenggelamkan wajahnya di bahu Rena.
__ADS_1
"Loh, kok gitu sih? Yaudah kalau gitu Papi juga engga mau sama Auli, besok Auli berangkat sekolah sendiri. Papi engga mau antar, Pak Adi juga papi larang antar Auli." Dimas berucap dengan gaya yang dibuat ngambek.
"Biarin! Papi jahat! Auli engga mau sama papi!" kesal kembali Auli yang membuat Rena tertawa melihat tingkah Ayah dan Anak itu.
"Sayang, engga boleh gitu dong sama papi," ucap Rena membujuk bocah kecil masih menenggelamkan muka di pundaknya.
"Gini deh, sekarang putri cantiknya Mami cerita sama Mami kenapa marah sama papi," timpa Rena sambil berjalan duduk disebelah suaminya, mengejutkan Dimas karena posisi berdekatan.
"Papi jahat Mami, Papi engga bolehin Auli tidur bareng Mami sama Papi setiap hari," cerita Aulia polos. Rena hanya tersenyum mendengar perkataan putri kecilnya.
"Oh gitu ya maslahnya? Gini saja sayang, kalau setiap hari Auli pinter, jadi anak yang nurut, rajin ibadahnya, engga suka ngambek dan bentak papi, terus selalu habiskan makanannya sendiri tanpa di suapi, Auli boleh tidur sama mami sama papi. Gimana sayang? setuju?" lembut Rena pada Aulia sambil mengusap lembut rambut bocah di pangkuan.
"Mami janji?" tanya Aulia masih belum yakin karena tadi siang papi nya dengan tegas menolak tidur bersama setiap hari.
"Mami janji! iya kan, Pii?" ucap Rena sambil mengarahkan pandangan ke arah suaminya.
"Iya, Papi janji. Jadi sekarang Auli harus dengarkan Papi, sekarang biar Mami mandi dulu terus ganti baju habis itu kita makan. Mami bau banget!" ucap Dimas menggoda sambil menutup hidung, membuat Rena malu.
"Memang saya bau, Pak?" tanya Rena polos dengan menciumi baju yang memang hanya bau parfum bukan keringat.
Dimas hanya tersenyum melihat tingkah istrinya dan mulai menarik Auli dari pangkuan untuk duduk di pangkuannya, membiarkan istrinya ke kamar untuk membersihkan diri. Rena beranjak dari duduk dan mulai berjalan ke arah anak tangga sambil menciumi bau di tubuhnya sembari bergumam.
"Kayanya engga bau deh, masa sih aku bau?" gumam Rena.
__ADS_1
Tanpa disadari Rena ternyata suaminya tengah memperhatikan tingkahnya dengan senyum senyum. Rena meneruskan langkah menuju kamar membawa serta tas kerja dan terus mencari bagian mana dari tubuhnya yang bau.
Bi Lastri dan Bi Ijah yang sedari tadi menatap kebersamaan majikannya, ikut merasakan kebahagiaan. Melihat ketiga orang di ruang tamu berbincang seperti sebuah keluarga yang utuh, asisten rumah tangga itu berharap jika mereka selalu seperti apa yang dilihatnya saat ini, pemandangan sama pernah dilihat dulu.