
STOP PLAGIAT!
Puas menyantap ayam bakar, Dimas mengajak istri juga kedua anaknya mengunjungi kafe mereka yang sudah lama tak dikunjungi oleh Ayah tampan tersebut, dan hanya menerima laporan yang dikirimkan setiap minggu oleh manager kafe.
Sampainya di kafe dengan live musik tersebut, Dimas langsung menuju ruang kerja bersama istri juga kedua anak nya untuk mengecek sendiri laporan keuangan kafe. Tempat dengan nuansa romantis itu tak pernah sepi pengunjung dan selalu tak menyisakan satu tempat kosong pun di sana.
"Mas, Kamu engga pengen bawain lagu gitu buat Aku? kaya waktu Kamu lamar Aku dulu?" manja Rena duduk di kursi di ahadapan meja kerja suaminya.
Senyum mengembang dari lelaki yang sudah sibuk dengan laptop di meja kerja itu menatap wajah penuh harap istrinya dengan memainkan pulpen, dan membiarkan kedua anaknya sibuk sendiri dengan tumpukan majalah yang mereka acak acak.
"Kaya nya engga pengen deh sayang, Aku lagi sibuk ini. Kamu dengerin di depan aja ada live musiknya kan," goda Dimas memasang wajah sok cuek sambil menatap ke arah layar laptop.
"Jahat banget sih mas, engga ada gaji nya ya kalau main buat Aku?" ucap Rena dengan wajah memelas terus memainkan pulpen diiringi lirikan gemas suaminya.
"Bukan jahat sayang, Akun emang belajar main piano dari dulu buat cari uang, kalau engga ada uang nya ya Aku engga mau lah. Mau makan apa nanti anak istri kalau Aku engga di bayar," goda Dimas kembali mengembangkan tatapan tak percaya dari istri yang tersenyum paksa.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Rena menghampiri kedua anaknya yang sudah duduk di lantai membuka buka majalah, yang langsung Ia minta pada keduanya untuk berpindah duduk di sofa panjang ruangan Papinya karena tak ingin kedua anaknya masuk angin.
Ketukan pintun dari pelayan yang mengantarkan makanan juga minuman untuk keluarga bos nya itu, memaksa Rena yang sudah sangat jengkel pada suaminya untuk membukakan pintu. Senyum dari wajah cantiknya pada pelayan diiringi lirikan suaminya tak suka.
Makanan ringan juga minuman sudah di tata rapi di atas meja dengan pelayan yang sudah pamit pergi dengan sopan. Dengan duduk di samping kedua anaknya, Rena menyuapi keduanya kentang goreng bergantian usai mengenakan hand sanitizer yang selalu tersedia di dalam tas nya.
__ADS_1
"Sayang, Kamu tuh jangan gampang senyum sama pria lain bisa gak sih?" jengkel Dimas memperhatikan istrinya tersenyum pada pelayan dan berbicara sangat lembut seperti nada bicaranya selama ini.
"Ya ampun mas, masa iya Aku harus cemberut di depan orang sih?" sahut Rena menyadari kecemburuan suami dari wajah juga nada bicara nya.
"Papi, jangan cemburuan nanti Mami lari loh," sahut Aulia menggoda Papinya sambil mengunyah kentang goreng.
"Anak kecil, Kamu ya masih kecil tahu cemburu dari mana ? tahu kalau Mami bakal lari dari mana ?" protes lelaki yang menatap aneh ke arah putrinya.
"Kata Om Tyo, katanya suruh bilangin Papi biar engga suka marah sama cemburu nanti ditinggal Mami ke Paris nangis lagi kaya dulu," santai Aulia membulatkan mata Papinya dan mengembangkan senyum perempuan yang merasa geli akan ucapan putrinya.
"Eh anak kecil, kalau Om Kamu bilang apa-apa engga usah di dengar. Lagian mana pernah Papi nangis waktu Mami ke Paris? engga ada, itu karangan Om Kamu," kilah Dimas lalu bergumam memaki Adiknya yang suka berbicara asal pada putrinya.
"Ih, emang nangis kok. Tiap malam juga Papi selalu nangis bahkan Papi banting foto nikah sama Mami kan waktu itu," ucap Aulia mengingat frustasi Papinya ketika dua tahun ditinggal istri, dan langsung membuat laki laki yang duduk menatap laptop itu berlari membungkam mulut putrinya dengan tangan, seraya mengembangkan senyum paksa ke arah istri yang menatapnya tajam.
"Iya Mi, bahkan semua barang Mami di kamar sudah di pindah ke gudang," tambah Aulia membuka paksa telapak tangan Papinya, semakin membulatkan mata Rena dan rasa jengkelDimas pada putri yang sudah Ia lingkarkan tubuhnya menggunakan lengan sambil menutup kuat mulut cerewet Aulia.
"Lepasin mas, Auli engga bisa napas itu," tarik kuat Rena ke arah tangan suami nya.
"Kalau di lepas Dia ngomong aneh aneh lagi sayang, Kamu jangan dengerin," seru Dimas takut kemarahan istrinya.
Karena tak ingin putri kesayangannya kembali di bungkam oleh tangan kuat suaminya, rena meraih tubuh Aulia dan Ia pindahkan ke belang tubuh nya. Dengan wajah berekspresi cemas, Dimas duduk di samping Brian diiringi tatapan tajam Istrinya.
__ADS_1
"Masa ya Mi, barang barang nya Mami dilempar keluar kamar semua sama Papi, sama foto Kita yang digantung di atas tempat tidur itu dulu udah pecah Mi, terus Papi teriak marah marah suruh Bibi sama Pak Adi buat buang semua nya" tambah Auli menceritakan kemarahan Papinya yang membuatnya takut.
"Eh Auli, ngomong lagi Papi engga mau bayar sekolah Kamu ya" ancam Dimas sudah merasa hawa horor dari tatapan istri juga ekspresi wajah tertekuk malas.
"Sayang, jangan dengerin, Dia cuma ngarang sayang. Engga ada kaya gitu, buktinya pas Kamu balik semua masih di tempatnya semula kan?" kilah Dimas karena sudah menyuruh Pak Adi dan kedua asisten rumah tangga nya untuk mengembalikan semua seperti sebelum istrinya pergi, begitu Ia kembali lebih dulu dari Jogja.
"Ih Aku engga ngarang, Aku engga bohong, Mami tanya Bibi deh, Aku engga pernah bohong Mi," bela Aulia.
"Kamu engga bohong sayang, yang suka bohong bukan Kamu," sindir Rena melirik tajam ke arah suami yang mengalihkan pandangan menatap ke arah langit langit ruangan.
"Papi takut," tawa Aulia pecah melihat Papinya salah tingkah sendiri.
"Sayang, engga gitu ceritanya, Kamu jangan dengar Auli. Aku emang keluarin barang Kamu karena Aku pikir Kamu engga balik lagi, jadi dari pada penuh penuhi kamar makanya Aku suruh pindahin ke gudang dan pas Kamu mau pulang sudah Aku minta balikin lagi," jelaas Dimas memainkan jari jari istrinya seperti anak kecil untuk membujuk perempuan yang masih terlihat jengkel itu.
"Oh jadi barang barang Aku penuh penuhi kamar mas? ya udah Aku pindah di kamar tamu aja kalau gitu," sahut Rena jengkel diiringi tawa Aulia yang masih memperhatikan kelakuan Papinya.
"Engga sayang engga, Aku seneng kok ada barang barang Kamu di kamar. Sama sekali engga penuh sayang," bela Dimas langsung menatap wajah istrinya penuh ketakutan jika istrinya benar benar pindah kamar.
"Salah ngomong lagi," gerutu lirih Dimas menyadari ucapannya sendiri yang mengatakan barang istrinya membuat kamar terlihat penuh.
Rena hanya diam mendengar semua pembelaan dari suaminya, karena juga merasa jengkel akan kebohongan suaminya yang mengatakan jika semua tak pernah berubah walau dirinya tak pulang. Ia paling tidak menyukai di bohongi, lebih baik jujur seberapa menyakitkannya itu dari pada berbicara manis namun penuh kebohongan.
__ADS_1
Aulia masih saja menggoda Papinya dengan menceritakan semua ketika dua tahu Mamainya pergi dari rumah, hingga membuat Dimas harus merengek manja pada istrinya agar tak marah. Brian sudah Ia pangku agar bisa dapat menyandarkan kepala pada pundak istri yang Ia mainkan jari jarinya tanpa henti sambil terus membujuk agar tak marah.
Tawa Aulia terus mengembang melihat Papinya begitu merasa takut hingga bertingkah seperti anak kecil. Bahkan Dimas tak segan mengusap peryt sitrinya untuk mengadukan tingkah putrinya pada calon anaknya agar membela dirinya saat sudah lahir. Bahkan Brian yang tak mengerti apapun terus Ia ajak bicara agar membela dirinya di depan istrinya, karena ucapan polos dari cerita Aulia sudah sukses membuat Maminya terlihat begitu kesal, terlebih hormon kehamilan selalu cepat berubah dari istrinya membuatnya khawatir.