
STOP PLAGIAT!
Dimas masih duduk berhadapan dengan Mama nya dan hanya berbatas dengan meja. Tangannya mulai mengisi sela sela jari Rena dan Ia letakkan di atas paha kirinya. Dengan hati hati, perempuan di samping lelaki yang terlihat takut kehilangan dirinya lagi, Rena memulai pembicaraan untuk memecahkan keheningan dalam ruangan yang hanya terdengar samar suara napas suaminya.
" Apa Mama sudah makan? " tanya Rena ke arah wanita yang meneguk sedikit teh hijau buatan Bi Ijah, tanpa memperdulikan pertanyaan menantu nya dan kembali membuat Dimas membuang napas kasar.
" Ma, apa Mama tidak mendengar Rena? " tanya Dimas di usap lembut lengannya oleh Rena agar tak emosi.
" Dimas, sebenar nya apa masalah yang sedang Kamu hadapi? " tanya Natalie membelokkan pembicaraan.
" Tidak ada, semua sudah di selesaikan Rena dan Papa Erwin " sahut dingin lelaki yang merasa istrinya kembali tak di hargai.
" Ma, apa Mama akan terus seperti ini? apa tidak bisa Mama menerima Rena dan merestui pernikahan Kami? sampai kapan? " tanya Dimas beruntun mengeluarkan semua yang ada di kepalanya.
" Dimas, Mama kesini karena khawatir dengan keadaan Kamu, bukan untuk membahas masalah lain nya " jawab Natalie santai dengan sikap elegan nya.
" Baiklah Ma, Aku baik baik saja dan Aku sedang sangat bahagia karena Rena mengandung anak Kami saat ini. Tidak ada masalah dalam hidup Kami, dan Aku harap Mama tidak datang untuk memisahkan Kami. Aku rasa Mama sudah tidak perlu menghkawatirkan Aku lagi karena Istriku sudah sangat menjagaku " jelas Dimas panjang lebar, memenuhi tiap katanya dengan penekanan.
" Baiklah Dimas, kalau begitu Mama akan pergi sekarang jika memang semua sudah tidak ada masalah " ucap Natalie mengambil tas tangan yang Ia letakkan di sofa sampingnya duduk.
" Ma, apa Mama ingin Kita bersimpuh di kaki Mama agar mendapat restu? "tanya Dimas beranjak dari duduk melihat Natalie hendak pergi.
" Dimas, jika kebahagiaanmu ada padanya, maka Mama akan merestui kalian. Tapi untuk menerima sepenuhnya, Mama masih butuh waktu " ucap Natalie membahagiakan Rena juga Dimas yang saling tatap mengembangkan senyum.
" Terimakasih banyak Ma, paling tidak Mama sudah mau merestui. Dimas yakin suatu saat Mama akan menyayangi Rena seperti Mama menyayangi Siska " senyum Dimas menghampiri Natalie dan memeluk tubuh Mama nya.
" Mama hanya ingin Kamu bahagia Dimas " tambah Natalie mengusap lembut punggung putranya.
__ADS_1
Mata berkaca kaca dari Rena seakan ingin meluapkan rasa bahagia dalam batinnya, meski mertuanya belum bisa menerima dirinya sebagai anak menantu, paling tidak restu dari Mama mertua nya sudah cukup untuk membuat kehidupan rumah tangga nya berjalan lebih baik lagi.
Perempuan yang masih berdiri di samping meja itu, sangat ingin memeluk Natalie. Namun Ia tak berani untuk melakukannya karena takut akan membuat Mama mertuanya emosi, dan berpengaruh pada jantung nya.
Natalie berjalan meninggalkan ruang tamu dan meminta Pak Adi mengantarkannya ke rumah Tyo. Dan dengan cepat lelaki yang masih berdiri di teras itu mengirim pesan pada Papa nya mengabarkan jika Natalie akan pergi ke rumah Adik nya. Tak lupa Ia juga mengatakan tentang restu yand di berikan Natalie pada pernikahannya.
Kabar dari Dimas melegakan ketiga pria yang masih ada dalam kemacetan jalan raya, dan meminta supir untuk langsung mengantar mereka ke rumah Tyo. Dimas harus menutupi tentang Natalie yang belum bisa memperlakukan Rena dengan baik, karena tak ingin adanya keributan di rumah Adiknya mengingat kandungan Sonya masih dalam kondisi lemah.
Selepas kepergian Natalie bersama Pak Adi, Dimas bergegas kembali ke ruang tamu menghampiri istrinya dan langsung memeluk erat. Mata yang sudah sangat berkaca kaca, langsung mengurai bulir air mata dalam dekapan bahagia suami nya.
" Kenapa Kamu nangis? sayang, Aku yakin Mama akan bisa menyayangi Kamu sama seperti Kamu sayang sama Mama " ucap Dimas melepas pelukan istrinya dan memegang kedua sisi wajah cantik di hadapannya.
" Aku nangis karena bahagia mas, akhirnya Mama bisa merestui Kita. Itu sudah cukup mas, paling tidak Mama sudah membuka pintu hatinya untuk Aku " ucap perempuan dengan ekspresi bahagia dan senyum mengembang.
" Iya sayang, Kamu tahu? Aku orang paling bahagia di dunia karena memiliki istri seperti Kamu, hati Kamu benar benar tulus dengan kebaikan. Aku cinta Kamu sayang, sangat sangat mencintai Kamu " bahagia Dimas dalam rasa syukur teramat besar dan memeluk kembali istrinya.
Walaupun harus melewati begitu banyak perpisahan dan rintangan dalam rumah tangga, Rena dan Dimas sama sama bersyukur karena semua yang terjadi semakin menguatkan perasaan di antara mereka.
Hadirnya seorang anak lagi, juga restu Natalie seakan menjadi sebuah anugrah paling indah dalam kehidupan mereka berdua. Restu yang sudah lama mereka nantikan, restu yang akan mengubah segalanya menjadi lebih baik.
***
Pukul delapan malam, usai menikmati santapan yang di masak Bi Ijah, Dimas mengajak istri juga kedua anak nya berkumpul di ruang tv. Ia berniat memberitahu putrinya jika dalam keluarga mereka akan kehadiran anggota baru.
Dengan mengapit Aulia bersama istrinya juga memangku Brian, Dimas memulai dengan hati hati menyampaikan pada Aulia, karena Ia tak ingin putrinya nanti merasa terabaikan ataupun cemburu kepada adik adik yang sudah Ia pahami jika mereka hanyalah saudara tiri.
" Auli, Papi mau ngomong sesuatu sama Kamu " ucap Dimas berhati hati.
__ADS_1
" Apa Pi? " tanya Aulia sembari memainkan jari Maminya dan menyandarkan kepala pada dada perempuan yang merangkulnya.
" Sekarang Mami sedang hamil, yang artinya.... " sahut Dimas terpotong karena teriakan Aulia yang langsung mengangkat kepala dari dada Maminya.
" Apa Pi? Auli mau punya Adik? " seru Aulia setengah berteriak mengembangkan ekspresi bahagia yang mengejutkan Dimas dengan membulatkan mata.
" Engga usah teriak, Papi kaget. Iya Kamu mau punya Adik lagi, sekarang Mami sedang hamil " ucap Dimas sambil mengusap telinga kirinya, diiringi senyum Rena.
" Mami, Aku seneng banget mau punya Adik lagi. Cewek kan Mi? cewek ya Mi " bahagia Aulia memeluk Maminya yang tersenyum, dengan tangan mengusap rambut putrinya.
" Cowok ataupun cewek kan sama aja sayang, yang penting Adik Auli sehat " lembut Rena mengembangkan senyum.
" Iya sih Mi, tapi kalau cewek Aku bisa main barbie bareng. Masa sama Adik Aku cuma main mobil mobilan sama puzle aja, kan bosen Mi. Udah gitu Papi pasti marah marah kalau Adik Aku ajak main barbie atau masak masak " jelas Aulia memelas.
" Ya iya, orang Adik cowok Kamu dandanin pakai gaun sama mainan Barbie, jelas Papi marah " ucap Dimas sering melihat Brian di dandani putrinya menggunakan gaun pesta miliknya saat usia 2 tahun.
" Kan lucu " gumam Aulia cemberut, mengembangkan senyum Maminya.
" Doain aja ya sayang, tapi engga boleh terlalu berharap nanti Kamu kecewa malah engga sayang sama Adik Adik nya nanti " lembut Rena kembali.
" Iya Mami, pasti Aku bakal sayang sama mereka karena mereka Adik Aku dan Aku harus jadi Kakak yang dewasa " ucap Aulia langsung di acak rambut nya oleh Dimas.
" Jangan dewasa dewasa, ngeri Papi kalau Kamu udah sok dewasa suka ngomel " sahut lelaki dengan terus mengacak rambut putrinya, karena selalu di omeli ketika Rena pergi ke Paris.
" Ih Papi jangan gitu dong, nanti Aku engga cantik kaya Mami " protes Aulia merapikan rambutnya.
" Kan emang cantikan Mami daripada Kamu, Kamu sekarang hitam dekil " goda Dimas tersenyum dipukul lembut pundaknya oleh Rena yang juga tersenyum.
__ADS_1
" Mami lihat tuh Papi megelno, Aku ora seneng ( Papi menyebalkan, Aku tidak suka) " protes Aulia membulatkan mata Rena dan tertawa karena putrinya berbicara bahasa jawa, membingungkan Dimas yang masih tak mengerti bahasa jawa.