Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
BAB 57


__ADS_3

" Mas, aku pengen makan bakso " rengek Rena manja menarik pelan lengan kaos Dimas.


" Nanti aku beliin ya sayang " jawab Dimas tersenyum membelai pipi Rena.


" Engga usah mas, biasa nya jam segini bakso langganan aku ada di tamam kompleks kok jadi aku makan di sana aja ya" ucap Rena merasa senang karena sudah lama tak makan bakso langganan nya ketika masih kos.


Seketika Dimas membulatkan matanya terkejut ketika Istri yang tengah mengandung anak nya meminta untuk memakan bakso jalanan yang bahkan Aulia saja tak pernah ia ijinkan untuk memakan makanan yang di jual di pinggir jalan.


" Engga, engga boleh " seru Dimas tegas karena tak mau Rena memakan makanan yang tak terjamin kebersihan nya.


" Kok gitu mas? kan tadi katanya boleh makan bakso, lagian anak di perut aku juga mau makan itu mas" seru Rena sedikit merasa jengkel.


" Kalau kamu mau makan bakso nanti mas belikan di restoran sayang bukan yang di jual di pinggir jalan gini, itu engga bersih " jelas Dimas memberi pengertian pada Rena yang memasang wajah cemberut seketika.


" Tuh lihat papi kamu engga mau turuti mau nya kamu nak " seru Rena memegangi perut nya.


" Bukan engga mau turuti, tapi emang engga bersih sayang. Kamu tahu gimana cara mereka cuci peralatan makan nya? kamu tahu gimana mereka membuat makanan itu? kamu bisa jamin kebersihan nya? udah gitu waktu mereka buka makanan itu udah pasti debu polusi jalanan udah lebih dulu masuk ke makanan itu. Habis ini setelah kita pulang aku ajak kamu makan bakso sama Auli ya" jelas Dimas panjang lebar.


Tanpa menjawab perkataan Dimas, Rena memilih untuk menghela nafas panjang dan membuang nya kasar terpaksa menuruti perkataan Dimas yang memang selalu bersikap berlebihan tentang kebersihan dan kesehatan, yang terkadang juga membuat putri nya merasa jengkel ketika mulai di larang untuk ini itu padahal usia Aulia yang selalu ingin mencoba banyak hal. Bahkan untuk bermain saja, Aulia hanya di izinkan main permainan yang ada di kamar bermain dan setiap dua minggu sekali bi Lastri dan bi Ijah selalu mencuci semua mainan yang ada di ruang main Aulia meski tak terdapat debu sedikit pun tetap saja peraturan yang di buat oleh Dimas harus dilaksanakan.

__ADS_1


Dengan perasaan kesal Rena masih mencoba untuk tersenyum berjalan bersama dengan Dimas mengikuti Aulia sampai taman. Meski air liur Rena harus rela hanya ia telan kembali sambil mengecap mulut kosong nya membayangkan memakan bakso di taman sore seperti yang biasa ia lakukan bersama 2 sahabat nya.


Sampai nya di taman, Dimas hanya mengijinkan Rena duduk di taman sementara ia bermain bersama Aulia dengan beberapa permainan yang tersedia di sana. Mata Rena yang tertuju pada suami dan anak nya sesekali menengok ke arah bakso langganan nya yang tengah ramai di kerumuni orang karena bakso tersebut sangat enak.


" Aku pengen banget " gumam Rena pelan menelan air liur nya yang terus membayangkan rasa bakso tersebut.


Sorot mata nya yang menyiratkan keinginan menikmati bakso itu tak dapat ia sembunyikan dengan terus membayangkan kuah panas yang beri sambal dengan gorengan yang renyah tak mampu hilang dari pikiran nya.


Dimas yang mendorong ayunan untuk Aulia memperhatikan Rena yang terus menatap sepeda motor yang terdapat rombong alumunium di jok belakang penuh dengan tatanan isi bakso serta panci besar yang mengeluarkan uap panas kuah dengan seorang bapak bapak tengah repot menata isi bakso ke dalam mangkuk pelanggan yang sudah antri mengitarinya. Dimas yang merasa tak tega melihat Rena begitu menginginkan bakso tersebut mulai melangkahkan kaki nya meninggalkan Aulia yang asik bermain dengan teman sekolah dan juga tetangga kompleks mereka tinggal. Dimas mulai duduk di samping Rena dengan tatapan tak tega.


" Ya udah kamu boleh makan tapi satu mangkok aja ya " seru Dimas yang tak ingin istri dan anak nya ngiler.


" Iya sayang tapi makan nya di sini ya jangan di bawah kaya gitu" seru Dimas melihat ke arah orang orang yang asik makan bakso di atas rumput taman.


" Terimakasih sayang ku" ucap Rena bahagia memeluk leher Dimas dan mencium pipi pria yang tersenyum melihatnya bahagia.


" Kalau ada mau nya aja panggil sayang" gumam Dimas tersenyum karena selalu ingin Rena memanggilnya seperti itu namun tak pernah di turuti oleh istri nya.


Dengan berjalan pelan Rena menghampiri abang bakso langganan nya yang menyapa nya dengan senyum ketika Rena tiba dan mulai memesan bakso seperti biasa nya.

__ADS_1


" Sudah lama engga beli neng, katanya sudah menikah ya? " tanya bapak penjual yang akrab dengan Rena dan 2 sahabat nya karena mereka selalu meminta bonus ketika membeli bakso.


" Iya mang, sekarang Rena tinggal di sana " ucap Rena menunjuk ke jalan arah rumah Dimas.


" Pantesan engga pernah kelihatan neng " jawab bapak penjual bakso tersebut dan memberikan satu mangkuk bakso pesanan Rena.


" Aku bawa ke sana ya mang " seru Rena menunjuk ke arah kursi taman yang masih ada Dimas di sana.


" Siap atuh neng " jawab mang udin tersenyum.


Rena mulai membawa mangkuk berisi bakso ke arah Dimas yang berjalan menghampiri nya dan mengambil mangkuk panas yang di bawa Rena.


" Panas sayang, biar aku aja yang bawa " seru Dimas meraih mangkuk yang di bawa Rena.


" Makasih mas " jawab Rena tersenyum bahagia.


Sampai nya di kursi taman Dimas menemani Rena yang dengan lahap memakan bakso yang ia letakkan di kursi panjang taman. Dengan heran Dimas terus memperhatikan Rena yang sangat menikmati bakso tersebut hingga terlihat seperti Rena sedang memakan makanan terenak di dunia. Aulia yang menghampiri Rena dan Dimas mulai merengek lapar dan meminta untuk di belikan sama seperti Rena, yang dengan terpaksa Dimas menuruti juga keinginan putrinya. Karena jika Dimas menolak permintaan Aulia sementara ia mengijinkan Mami nya, tak terbayang bagaimana tangis yang pecah dari bocah manja tersebut.


Rena yang tahu jika Dimas tak ingin berjalan menghampiri mang udin dengan cepat menyelesaikan makan nya, lalu mengajak Aulia ke rombong mang udin dan meminta Aulia memesan yang ia inginkan. Usai pesanan mereka siap, Rena membawa 2 mangkuk bakso ke arah Dimas bersama putrinya yang berjalan di samping tubuh Rena riang, karena sangat lama ia ingin mencoba rasa makanan pinggir jalan yang selalu di larang papi nya.

__ADS_1


__ADS_2