Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 161


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Usai merasa sedikit baikan, Dimas langsung menyusul istrinya ke kamar sembari terus memegang perut nya. Dilihatnya seorang perempuan dengan gaun tidur memperlihatkan punggung putih mulus, dengan rambut panjang terarah keatas bantal. Tubuh menghadap ke samping meja dengan berbalut selimut menutupi sampai batas pinggang, dihampiri oleh Dimas untuk merebahkan diri di belakang.


" Sayang, Aku mual perut Aku engga enak " nanja Dimas pada istri yang pura pura tidur tanpa membalik tubuhnya.


Tak mendengar jawaban atau gerakan dari istrinya, Dimas mulai membuang napasnya kasar dan ikut memunggungi istrinya sambil bergumam sendiri.


" Udah kaya tukang sayur kompleks aja, sibuk ngomong tapi engga ada yang jawab " gerutu Dimas memunggungi istri yang mengembangkan senyum masih dalam posisi yang sama.


Dengan tujuan mencari perhatian istrinya, Dimas dengan sengaja menarik selimut ke arah nya. Tubuh terus berbolak balik tak henti seakan mencari posisi nyaman, dengan kaki sengaja Ia gunakan menendang selimut seperti anak kecil, meski di tariknya kembali.


Rena masih sengaja tak ingin merespon kelakuan aneh suaminya, meski harus menahan tawa dengan tetap memunggungi lelaki yang sesekali melirik ke arah nya. Kembali Dimas bergumam mencari perhatian namun tetap tak di hiraukan oleh Rena, dan memilih untuk tertidur karena sudah sangat mengantuk.


Selimut yang sengaja di tarik, di betulkan kembali oleh Dimas untuk menutupi tubuh calon Ibu di samping nya. Perlahan Ia mengintip istrinya dengan hati hati tanpa sedikitpun menyenggol tubuh Rena. Napas sengaja Ia tahan agar tak ketahuan jika dirinya diam diam mencari tahu apakah istrinya sudah tertidur atau hanya pura pura.


" Ternyata udah tidur, terus Aku tadi cari perhatian ke siapa" lirih Dimas berguman dan memeluk istrinya untuk terlelap bersama.


***


Sarapan sudah tersusun rapi di atas meja makan, begitu juga semua keluarga kecil sudah berkumpul dengan wajah segar masing masing siap menikmati masakan Bi Ijah yang di bantu oleh Rena dari pukul 5 pagi.


Kebiasaan tak pernah berubah untuk selalu mengambilkan makan suami serta anak anaknya lebih dulu, baru untuk dirinya. Menikmati santapan sambil menyuapi Brian dan Aulia juga tak pernah berubah dari calon Ibu yang duduk di antara kedua anaknya.

__ADS_1


Mata lelaki yang menyantap malas makanan nya, terus tertuju pada perempuan cantik dalam balutan jumpsuit pink lengan pendek, yang dengan sabar menyuapi kedua anaknya lalu menyuapi dirinya sendiri.


" Auli, Kamu ngerasa gak sih kalau rumah Kita sekarang sedikit angker " sindir Dimas melirik ke arah istrinya.


" Papi, jangan takut takutin Aku dong " protes Aulia yang dasarnya penakut dari kecil.


" Eh beneran, dari kemarin tuh kaya ada perempuan cantik rambutnya panjang, diam aja engga ada suara" tambah Dimas menyindir kembali perempuan yang menahan senyumnya.


" Papi ih, malas deh kalau udah kaya gini. Emang Papi lihat dimana? " jengkel Aulia mendekat pada Maminya.


" Kemarin malam lihat di kamar Kamu, terus di kamar Papi, sekarang ada di sebelah Kamu " ucap lelaki yang membulatkan mata menakuti putrinya yang sudah begitu ketakutan dengan bulu kuduk berdiri.


" Ih pokoknya horor banget deh Auli, beneran " tambah Dimas dengan bergidik lalu melanjutkan makan sambil mengembangkan senyum.


" Mami, Aku takut. Nanti malam Mami tidur kamar Aku ya " lirih Aulia menarik lengan baju Maminya sambil mata terus menoleh kesana kemari, membulatkan mata Dimas seketika.


" Ya udah Aku sama Adik tidur di kamar Papi " sahut Aulia tak mau kalah.


" Engga boleh, ranjang nya engga muat! Kamu tidur di kamar sendiri !" jengkel Dimas kembali.


Pagi yang diawali dengan perdebatan seperti biasa untuk merebutkan Rena, sudah membiasakan telinga kedua asisten rumah tangga dengan mengembangkan senyum mereka. Dimas dan Aulia sama sama tak pernah mau mengalah ketika berdebat, apalagi untuk bisa dekat dengan perempuan yang selalu sabar meski harus di tarik kesana kemari oleh kedua orang yang masih terus berdebat hingga masuk ke dalam mobil.


" Mana Papi, mana anak sih " gumam Rena begitu mobil yang membawa suami juga anaknya pergi meninggalkan halaman.

__ADS_1


Langkah Rena terhenti ketika melihat mobil Siska yang dikendarai Tyo mulai memasuki halaman. Senyum Ia kembangkan pada Adik ipar yang lebih dulu tersenyum ke arahnya dari balik kemudi. City car merah berhenti tepat di hadapan Rena, dengan Tyo yang sudah mengenakan pakaiam kerja turun membawa tas berwarna pink kombinasi hijau tosca.


" Mas Dimas baru aja keluar sama Brian buat antar Auli " seru Rena ketika Adik iparnya mulai berjalan mendekat.


" Aku cuma mau antar ini kok buat mba " sahut Tyo menyerahkan tas di tangannya.


" Apa ini? " tanya Rena sambil membuka tas yang sudah Ia pegang dengan kedua tangan.


" Masuk dulu yuk " tambah kembali perempuan dengan senyum cantik pada wajah segar.


Tyo dan Rena memasuki rumah dengan Rena berjalan lebih dulu ke ruang tamu meletakkan tas berisi kotak makan itu di atas meja ruang tamu, dan kebelakang untuk meminta Bi Ijah membuatkan teh buat Tyo.


Perlahan Rena yang sudah kembali membuka dua kotak berisi makanan dan langsung menelan ludah dengan wajah berseri.


" Kamu kok tahu sih makanan kesukaan mba " seru bahagia Rena melihat opor juga rujak serut yang Ia buka dari dua tempat makan berbeda.


" Bukan Aku mba, tapi Mama. Dari tadi pagi udah sibuk masak itu katanya buat mba, dan Aku cuma di suruh antar aja " jelas Tyo duduk di hadapan Kakak iparnya menceritakan Natalie yang sibuk di dapur dari pukul 4.


" Mama? " terkejut Rena membulatkan mata tak percaya namun bahagia.


" Iya, tapi Aku engga boleh bilang sebenarnya Mba. Jadi jangan bilang bilang Mama ya nanti Aku di marahi " senyum Tyo sembari menerima teh dari Bi Ijah.


" Kata Mama itu kesukaan Mba dari kecil makanya sengaja buat itu khusus untuk Mba. Baru kali ini Aku lihat Mama masuk dapur dan masak sendiri " jelas Tyo menambahkan makin membahagiakan Rena.

__ADS_1


" Bilang terimakasih banyak sama Mama ya Dek, mba seneng banget pasti mba habiskan " ucap Rena berkaca kaca untuk pertama kalinya mendapat perhatian juga kasih sayang mertuanya.


" Sebenarnya Mama sudah sayang sama Mba, tapi Mama masih gengsi aja " ucap Tyo merasakan perubahan Natalie yang sudah sering menanyakan Kakak ipar nya semenjak di Belanda, namun tak berani mengatakan jika Rena sudah kembali bersama Dimas karena kondisi Natalie yang belum sepenuhnya pulih. Bahkan Natalie secara khusus meminta Tyo untuk menyusul Rena ke Paris dan meminta maaf atas namanya pada Rena juga Erwin.


__ADS_2