
STOP PLAGIAT!
" Kamu mau mandi dulu apa langsung makan mas? " tanya Rena begitu mereka kembali kedalam rumah usai mengantar Tyo pergi.
" Mandi aja ya sayang udah lengket banget " jawab Dimas tersenyum sembari menggendong Brian.
" Ya udah, pakaiannya udah Aku siapin di atas tempat tidur " seru Rena yang lebih dulu menyiapkan pakaian suaminya sebelum Ia turun ke bawah.
" Makasih sayang " sahut lelaki yang mencium lembut kening istri juga anaknya dan berlalu pergi usai memberikan Brian pada gendongan istrinya.
Rena mengajak putranya untuk masuk ke dalam dapur dan mengambilkan puding untuk putranya.
" Bi, bahan makanan udah banyak yang habis ya?" tanya Rena begitu melihat isi lemari es yang hampir kosong.
" Iya Bu, ini Bibi lagi tulis semua yang habis " sahut Bi Ijah sopan.
" Makasih ya Bi, nanti Kita belanja sekalian jemput Auli aja ya " ucap Rena tersenyum dengan masih menggendong Brian.
" Iya Bu sama sama " sahut Bi Ijah kembali melanjutkan untuk melihat semua bahan masakan serta keperluan rumah yang habis.
__ADS_1
Perempuan yang masih menggendong tubuh putranya dengan membawa satu piring kecil bercampur fla itu menempatkan Brian pada sebuah kursi di meja makan sembari menunggu suaminya yang masih mandi. Setiap hari Ia selalu sabar dan tlaten dalam mengurus kedua anaknya meski kadang mereka harus berebut untuk bisa di suapi oleh Maminya yang membuat Ibu dua anak tersebut harus rela telat makan dan kehilangan waktu untuk dirinya demi mengurus kedua kesayangan yang manja terhadapnya tanpa membedakan usia antara keduanya dan mungkin membuat Aulia tersinggung merasa tidak lagi diperhatikan.
Derasnya air shower yang mengguyur kepala hingga tubuh lelaki yang menyandarkan tangan pada dinding seraya menundukkan kepala di bawah guyuran air tersebut mengantarkan kembali semua memori tentang kejadian yang tak pernah mampu Ia ingat hingga saat ini.
Dimas hanya mengingat jika dirinya meminum secangkir teh ketika meeting di luar Kota namun pagi hari Ia malah terbangun tanpa busana dengan sekretaris yang memeluk tubuh polosnya. Ia bergegas bangun dan menghempaskan tangan Ana kasar mencoba mengingat apa yang terjadi namun tak satupun kembali pada memori otaknya membuat Dia begitu frustasi jika mengingat hal itu.
Ia menceritakan semua tentang yang terjadi pada Tyo usai menanyakan sendiri pada Ana dan tak mendapat jawaban pasti membuat lelaki yang merasa di jebak tersebut memaki Ana tanpa henti dan meninggalkan perempuan dalam tubuh berbalut selimut itu sendirian di kamar hotel. Dimas masih berharap jika Ia tak pernah melakukan apapun dengan Ana dan bisa kembali mengingat apa yang terjadi karena jika pernah menyentuh sekretarisnya mungkin tak akan sanggup lagi dirinya menatap wanita yang kini menjadi ibu bagi kedua anaknya.
Hingga sekarang Tyo juga Rian temannya yang selalu membantu dirinya untuk menyelidiki setiap permasalahan juga menghentikan perbuatan Kiara dulu masih terus mencari tahu tentang kejadian setelah satu setengah tahun kepergian Kakak iparnya itu. Tyo juga Rian amat yakin jika Dimas hanya di jebak oleh Ana, karena jika memang mereka melakukan sebuah hubungan terlarang mungkin Ana sudah menuntut sebuah tanggung jawab dari Ayah dua anak itu, tapi hingga saat ini tak ada tanda dari Ana yang menuntut semua kejadian yang mereka yakini tak ada apapun yang terjadi begitu juga Dedrick dan Teddy ketika mereka di ceritakan saat di Belanda meyakini hal yang sama dengan Tyo, Dimas serta Rian.
Segala pemikiran yang membuatnya dalam dilema besar harus jujur atau terus menutupi dari istrinya bergejolak dalam kepala dan hati lelaki yang sudah mulai mengganti pakaiannya itu. Ia takut jika istrinya tak mau mengerti ataupun memahami tanpa adanya bukti yang tengah Ia cari bersama Tyo juga Rian ketika Ia harus jujur. Namun jika Ia terus menutupi, rasa takut akan kehilangan Rena ketika istrinya tahu dari orang lain juga terus menghantui pikirannya. Dimas sendiri tak pernah menyangka jika dirinya akan kembali bersama Rena hingga tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya, namun sepulangnya dari Belanda segala kemungkinan yang di berikan oleh Dedrick akan hubungan pernikahan cucunya membuat pikiran Dimas kalut dan sensitif hingga sanggup memperlakukan kasar istrinya hanya karena pekerjaan kecil yang juga membangkitkan kenangan buruk masa lalunya ditinggalkan Kiara.
" Engga mas, cuma jadinya sarapan di gabung sama makan siang ini " sahut Rena tersenyum menggoda suami yang hampir dua jam hanya untuk menyelesaikan acara mandi hingga membuatnya sangat lapar.
" Maaf sayang habisnya gerah banget makanya betah di kamar mandi " kilah Dimas tersenyum.
" Mas, habis ini Aku pergi sama Bibi ya buat belanja keperluan rumah sekalian jemput Auli " ijin Rena sembari mengisi piring suaminya dengan makanan.
" Sama Aku aja ya kan Aku libur daripada di rumah aja mending keluar sama anak anak juga " sahut Dimas.
__ADS_1
" Malah seneng Aku kalau Kamu mau antar mas " jawab Rena tersenyum cantik ke arah suaminya.
Rena dan Dimas memulai acara makan berdua mereka sementara Brian meminta tidur bersama Bi Lastri di kamar Aulia karena lama menunggu Papinya. Dengan sesekali menyuapi istrinya untuk makan Dimas tak henti melontarkan kata kata pujian pada istrinya meski pikirannya masih dalam kekacauan karena Tyo mengingatkan kembali permasalahan yang belum mereka temukan jawabannya.
Usai makan, Dimas tak pernah membuang sedikitpun waktu untuk bisa bermanja manja pada Rena dengan tidur di pangkuan istrinya sambil menikmati waktu untuk menunggu jam pulang sekolah Aulia juga menunggu Brian terbangun.
" Sayang nanti liburan semester Auli, Kita ke rumah Papa di Paris ya " ajak Dimas seketika membahagiakan Rena yang sudah merindukan kembali suapan dari Erwin seperti selama Ia tinggal bersama waktu di Paris.
" Beneran? " tanya Rena bahagia juga tak oercaya akan perkataan suaminya.
" Iya sayang, sekalian mau minta maaf ke Papa udah buat Kamu berhenti kerja " jawab Dimas dengan memainkan rambut panjang istrinya seperri anak kecil.
" Engga usah mas, Papa udah ngertiin kok. Papa juga minta Aku buat fokus ke Kamu sama anak anak aja " sahut Rena membelai lembut wajah suami yang masih begitu manja dalam pangkuan menghadap ke arah perutnya.
" Makasih ya sayang " jawab Dimas mencium perut datar istrinya.
" Kok di cium sih " protes Rena ketika suaminya mencium lembut perutnya dengan tangan melingkar pada pinggangnya.
" Belajar kalau punya anak lagi biar Kamu engga geli kaya hamil Brian dulu " seru Dimas tersenyum manja mengingat dimana istrinya selalu protes geli saat dirinya mencium perut yang sudah ada janin di dalamnya ketika mengandung Brian.
__ADS_1
" Ada aja Kamu mas " jawab Rena tersenyum geli karena bibir suami tak henti menciumi perut datarnya seraya berharap jika Ia akan kembali di percaya untuk memenuhi keinginan suaminya memiliki anak kembali.