Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 206


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Mobil yang membawa Dimas sekeluarga sudah tiba di depan rumah Dedrick. Banyak pelayat berlalu lalang mempersiapkan pemakaman di rumah dengan pagar terbuka lebar tersebut.


Langkah Dimas gemetar untuk melangkah, hatinya masih tak mempercayai jika pria yang menjadi pedoman hidupnya selama ini telah tiada. Rena mencoba menguatkan suaminya, menggandeng lengan lelaki dengan mata kembali berkaca kaca. Tyo pun juga sama, tak sanggup untuk melangkah ke dalam.


Teras tempatnya dan Dedrick membersihkan wayang sembari bercanda, kini hanya terlihat seperti sebuah teras hampa tanpa senyum juga canda tawa Kakeknya. Tyo tidak sanggup menahan air mata dan tumpah begitu saja.


Teddi yang mendengar kehadiran putra putranya langsung menyusul ke depan. Cepat Dimas juga Tyo memeluk Papanya, saling menguatkan dalam ketidak berdayaan. Aulia, Rena dan Siska sama sama berdiri di belakang suami mereka yang memecahkan kembali tangis dalam dekapan Teddi.


" Kakek sudah dimandikan, tapi belum ditutup untuk menunggu kalian " lembut Teddi berucap sambil menyeka air mata di wajah kedua putranya.


" Kalian harus kuat jika ingin melihat Kakek, jangan menangis " tambah kembali Teddi di angguki kedua laki laki bertubuh tinggi dan tegap di hadapannya.


Menarik napas dalam, mencoba mengatur sendiri emosi masing masing. Dimas melangkah masuk bersama Tyo, diikuti istri istri juga anak anak mereka di belakang. Bersalaman dengan setiap pelayan yang hadir, mencoba tegar dan kuat mengikhlaskan segala suratan yang sudah terjadi.


Dilihatnya sebuah sudut ruangan tertutup kain, dimana didalamnya Kakek mereka terbaring. Mata kedua saudara itu terpejam kilas, saling merangkul untuk menguatkan. Kembali mengatur napas mereka dan berjalan melihat untuk terakhir kali, pria yang amat mereka sayangi.


Tubuh kaku tertutup kain batik, dibukanya perlahan oleh tangan Dimas. Wajah tersenyum Kakeknya terlihat tenang dan bahagia. Sekuat tenaga Dimas juga Tyo menahan air mata, mencium wajah dingin di hadapan mereka.

__ADS_1


" Dimas ikhlas kek " seru lirih Dimas.


" Tyo juga ikhlas kek " seru Tyo menambahkan.


Tetap membungkuk mendekatkan wajah pada wajah Kakek mereka, Dimas dan Tyo kembali menciumi wajah dingin terukir senyum dan ketenangan itu. Rena dan Siska mendampingi Natalie bersama Aulia. Sedangkan Rendi, Brian, dinda dan Sandra di temani oleh Teddi yang meminta keempatnya duduk bersama mengaji usai mensucikan diri mereka.


Siska dan Rena bergantian bersama suami mereka untuk melihat wajah terakhir kali orang yang mencintai mereka seperti cucu kandung. Rena dan Siska yang sudah bersama melihat Kakek mertua mereka, cepat keluar karena air mata tidak bisa di bendung.


Dimas dan Tyo yang melihat istri mereka bergegas keluar lalu memeluk, membiarkan mereka menumpahkan air mata dalam dekapan. Terisak di atas dada suami mereka masing masing, mengingat semua canda tawa juga kehangatan Kakek mertua mereka.


" Sayang kamu harus kuat " ucap Tyo pada Siska.


Banyaknya pelayat di ruang tamu luas tersebut, membuat Dimas dan Tyo membawa istri mereka untuk melangkah menjauh demi menenangkan sejenak keduanya.


" Sayang, semua pasti akan kembali. Kita harus ikhlas, kita harus kuat demi kakek " ucap Dimas menahan air mata ke arah istrinya.


Rena hanya mengangguk mencoba menghentikan air matanya sendiri. Rasa kehilangan begitu kuat mendera diri Rena yang merasakan sendiri kasih sayang Dedrick. Bahkan saat Natalie kuat menentang hubungannya dengan Dimas, Dedrick lah yang ada untuk menguatkannya juga Dimas menghadapi segala ujian. Petuah petuahnya tak pernah dilupakan Rena sedikitpun, untuk selalu melewati apapun dengan kesabaran.


" Kamu suciin diri dulu mas, lalu bantu lainnya " lirih Rena tetap di hadapan suaminya.

__ADS_1


" Iya sayang, kamu juga lalu ngaji buat kakek ya " ucap Dimas juga tulus sambil menyeka wajah basah karena air mata istrinya.


Dimas dan Rena sama sama pergi untuk mensucikan diri mereka, begitu juga Tyo dan Siska. Sementara Aulia sudah mengaji bersama neneknya, usai mensucikan lebih dulu dirinya. Setiap sudut rumah diperhatikan Aulia, terlihat jelas bayangan masa kecil dirinya di rumah itu. Sikap manja pada kakek buyutnya, canda tawa menggoda Papinya bersama om juga kakek buyutnya, semua tergambar jelas pada ruangan dimana hanya menggema lantunan ayat suci saat ini.


Pakaian serba putih hingga peci pun sudah membalut tubuh juga kepala Dimas dan Tyo. Mereka menghampiri Teddi dan mengaji bersama, hingga seseorang menghampiri agar melakukan sholat jenasah dan menguburkan Almarhum secepatnya, karena sudah terlalu lama menunggu.


Ketiganya mengangguk menyetujui, membantu mempersiapkan segala yang diperlukan. Keranda sudah masuk kedalam ruang tamu tersebut, siap mengantarkan pada peristirahatan terakhir seseorang dengan kasih sayang juga cinta tanpa batas untuk keluarganya.


Tak lama setelah di tempatkan pada keranda, semua melakukan sholat jenasah sebelum mengantarkan Almarhum bersama. Setelah selesai, Dimas, Tyo dan Teddi ikut mengangkat keranda bersama pelayat lainnya. Brian membawa batu nisan bersama Rendi, sedangkan Dinda dan Sandra berjalan di belakang bersama Siska, Natalie, Aulia juga Rena.


Di tempat pemakaman, sudah ada beberapa pelayat menunggu dan membantu prosesi pemakaman. Dimas, Teddi dan Tyo turun dengan satu orang lagi ke dalam lubang tanah tempat persemayaman Almarhum. Dengan tangan mereka, mereka memakamkan orang terkasih yang meninggalkan banyak pelajaran hidup melalui petuah dalam candanya.


Sedikit demi sedikit tanah menutupi seluruh tubuh Dedrick, tetap dengan ketiga orang turun tangan memberikan kasih sayang mereka untuk Almarhum Dedrick. Bunga tersebar di atas gundukan tanah dengan batu nisan tersebut.


Setelah semua acara pemakaman selesai, Keluarga tak langsung pulang dan tetap duduk mengelilingi pusara masih merah tersebut. Tangan Dimas lembut membelai nama yang tertulis pada batu nisan berwarna putih, bibirnya terkatup rapat menahan air mata yang siap membasahi kembali wajahnya. Tyo menggenggam kuat pundak kakaknya, lalu saling memeluk.


" Engga boleh nangis dek, gak boleh " ucap Dimas menepuk punggung Adiknya.


" Kamu harus bias dek, mas tau kamu orang yang kuat " tambah kembali Dimas.

__ADS_1


Tyo. menangis sejadi jadinya, melupakan status sebagai kepala rumah tangga juga Ayah dari dua orang anak. Menyandarkan kepala dalam dekapan kakaknya, mengeluarkan semua air mata, Tyo terus meluapkan kesedihan. Dimas sendiri mencoba kuat dan tegar, walau hatinya menangis dan menjerit sangat keras. Terus Dimas mencoba menenangkan adiknya, dengan menepuk lembut punggung lelaki dalam pelukannya.


__ADS_2