
Dimas yang masih menunggu di ruangan tersebut mulai merasa jenuh karena harus berdiam diri saja.
" Kamu selesaikan magang istri saya hari ini dengan penilaian terbaik" perintah Dimas dingin pada pria berkacamata yang sudah kembali ke ruangannya dan duduk di sofa ruangan tersebut bersama Dimas.
" Tapi masih kurang beberapa bulan lagi pak" jawab pria tersebut yang langsung mendapat tatapan dingin mematikan dari Dimas " I.. iya pak segera saya laksanakan" tambah manager itu dengan gemetar karena tatapan Dimas seakan ingin membunuhnya saat itu juga.
" Saya mau semua siap dalam waktu satu jam" tambah Dimas menepuk pundak pria yang duduk di sofa samping.
" Baik pak segera" jawab nya langsung bergerak cepat mengerjakan perintah Dimas.
" Saya mau semua sudah ada di meja saya satu jam lagi " perintah Dimas lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut menuju ruangan nya sendiri saat Rena sedang memfotokopi di sudut ruangan yang membelakangi ruang manager tersebut.
Dengan cepat Dimas bergegas menuju lift khusus menuju ruangan nya menunggu hasil laporan magang Rena dari manager devisi Rena magang.
***
Belum sampai satu jam manager tersebut telah sampai di depan ruangan Dimas dengan membawa semua laporan magang Rena untuk ditandatangani. Usai menandatangani semua nya Dimas bergegas untuk pergi dan menelfon petugas valet agar menyiapkan mobil nya karena ia akan segera turun untuk pulang yang tentu saja ia telah memerintahkan manager divisi Rena magang agar meminta Rena kembali pulang karena magang nya yang sudah selesai hari ini.
Dimas sudah siap menunggu istri tercinta nya di dalam mobil yang sengaja ia parkir dekat arah pintu masuk kantor agar jika Rena tidak curiga dan mengira jika Dumas baru saja datang. Dari arah kejauhan Dimas melihat Rena memegang ponsel nya di luar kantor dan di hampiri oleh mobil pajero putih tepat dihadapannya.
" Ngapain Tyo kesini" gumam Dimas yang sangat mengenal mobil adik nya.
Tyo yang mulai menuruni mobil menghampiri Rena dengan pengamatan Dimas dari jauh. Tyo yang sebenarnya sudah mengetahui jika kakaknya menunggu Rena di dalam mobil ketika ia mulai memasuki area kantor malah berniat untuk mengerjai Dimas dan mengantar Rena pulang.
" Kok naik sih? " gerutu Dimas mendapati Rena memasuki mobil Tyo dengan bantuan Tyo membukakan pintu untuk kakak iparnya.
__ADS_1
Dengan cepat Dimas langsung menghubungi Tyo melalui sambungan telfon " Dek, kamu mau bawa Rena kemana? " tanya Dimas langsung.
" Kok mas tahu aku sama mbak Rena, mas dimana? " goda Tyo pura pura tak tahu
" Mas nunggu aku di kantor ya? " tambah Rena karena sambungan telfon yang terhubung dengan bluetooth mobil sehingga Rena bisa mendengar dan berbicara langsung dengan suami nya.
" Eng, engga.. ini.. anu.. " bingung Dimas karena tak tahu harus menjawab apa dan membuat Tyo menahan tawa nya.
" Tadi aku yang telfon mas mbak, makanya mas tahu" kilah Tyo membantu kakaknya yang gelagapan dan di angguki mengerti oleh Rena.
" Aku tunggu di rumah ya mas, jangan telfon sambil nyetir" seru Rena yang langsung meminta Tyo mematikan sambungan telfon nya.
Sampai nya di rumah ternyata Dimas lebih dulu sampai dari pada adiknya karena memotong jalan agar tak terkena macet agar ia lebih mudah beralasan pada istrinya ketika ia lebih dulu sampai.
" Mas Dimas engga usah kerja juga dapat uang mbak" goda Tyo yang menyusul Rena di belakang membuat Dimas menggaruk tengkuknya kebingungan dengan Tyo yang sengaja menggodanya dari tadi.
" Kok bisa? " tanya Rena heran membuat Dimas semakin gelagapan dan dengan cepat mengalihkan pembicaraan agar Rena tak bertanya lebih lagi.
" Kamu kok udah pulang? bukannya masih nanti sore" tanya Dimas cepat yang membuat Tyo tersenyum karena tingkah kakaknya yang kebingungan.
" Iya mas tadi aku di panggil katanya masa magangku udah selesai sekarang dan suruh aku pulang, padahal kan masih kurang beberapa bulan mas" jelas Rena yang memang merasa bingung dari tadi dengan keputusan manager.
" Bagus dong, jadi kamu bisa istirahat" sahut Dimas meraih pundak Rena mengajak nya masuk.
" Pasti nilai mbak bagus semua kan? " tebak Tyo yang mengetahui jika itu ulah kakaknya.
__ADS_1
" Kok kamu tahu dek? " tanya Rena terkejut.
" Ya jelas dia tahu dong sayang, kan masa magang kamu dipercepat karena kerja kamu bagus" seru Dimas cepat memberi alasan dengan matanya melirik ke arah Tyo memberikan isyarat agar adiknya diam saja.
Tyo yang memperhatikan Dimas salah tingkah hanya mengangguk mengerti sambil terus menahan tawanya karena tingkah Dimas seperti anak kecil yang sedang berbohong.
Mereka memasuki rumah dan duduk di ruang tamu yang tanpa menunggu lama 3 gelas jus segar sudah di antar oleh bi Ijah ke ruangan besar tersebut.
" Hari ini kita jemput Auli terus langsung ke rumah sakit ya" ajak Dimas sambil meraih gelas di hadapannya.
" Siapa yang sakit? " tanya Tyo terkejut sebelum Rena menjawab suaminya.
" Oh, ini mas mau punya anak lagi dong" jawab dimas bangga dengan memegang perut Rena di samping nya.
Tyo yang sangat terkejut langsung memberi selamat pada Dimas dan Rena lalu menghubungi istrinya agar menyusul ke rumah Dimas untuk bersama mengantar Rena ke dokter tanpa meminta ijin dulu pada Dimas dan Rena.
" Mas kan engga ajak kamu sama siska " ucap Dimas heran karena adiknya terlihat sangat semangat.
" Engga apa dong mas, kita juga seneng mau lihat ponakan baru" jawab Tyo menaik turunkan alisnya ke arah Dimas dengan senyum mengembang yang langsung membuat Rena dan Dimas tersenyum melihat ekspresi Tyo.
" Makanya kamu punya anak dong, mau sampai kapan kalian nunda momongan" tambah Dimas karena memang Tyo yang belum siap memiliki anak karena harus bolak balik paris jakarta setiap beberapa bulan sekali mengurus bisnis keluarga nya.
" Aku juga mau mas, nanti deh aku nanya kakek dulu" jelas Tyo.
" Kamu yang mau punya anak kok kakek yang di tanya sih dek" tanya Rena heran yang semakin membuat kedua nya memaksa senyum mereka karena keceplosan tentang kakek mereka yang meminta Tyo harus mengurus bisnis di luar negri. Dengan cepat Tyo dan Dimas berkilah dengan alasan mereka lalu mengalihkan pembicaraan agar Rena tak lagi bertanya.
__ADS_1