
STOP PLAGIAT!
Berbulan bulan berlalu, terdengar kabar mengejutkan dari keluarga besar Dimas. Siang hari ketika Dimas tenga di kantor, Ia harus menundukkan wajah dalam penyesalan juga rasa bersalah ketika mendapat telpon dari Teddi. Tangannya gemetar, air mata menetes begitu saja membasahi wajahnya. ia menghubngi Rena yang masih ada di butik miliknya bersama Andin dan Sonya.
" Kenapa mas? tumben siang siang gini telpon, biasa sedang sibuk sibuknya " jawab Rena langsung saat mengangkat panggilan suara suaminya.
" Kakek meninggal sayang " lirih Dimas dal air mata, melemahkan Rena yang tengah berdiri dan langsung memundurkan tibih di pengan oleh Andin penuh tanya.
" Sayang ? Kamu kenapa ? " tanya Dimas khawatir mendengar saura gaduh Andin juga Sonya memnaggil nama Rena.
" Kita ke Jogja sekarang " lirih Rena terisak.
" iya, Aku jemput anak anak di sekolah terus pulang ya " ucap Dimas, lalu mengakhiri panggilan.
__ADS_1
Dedrick baru beberapa bulan tinggal di Jogja untuk menghabiskan masa tuanya di sana bersama Natalie juga Teddi menjaga. Seakan memiliki perasaan jika dirinya akan tiada, Dedrick sudah menuliskan wasiat juga mempersiapkan rumah terakhirnya.
Sengaja dedrick kembali ke Jogja karena ingin mengenang semua masa masa indah bersama istri juga anak anaknya dulu. terlalu banyak kenangan dalam rumah yang tak pernah Ia rubah isinya itu, segala canda tawa, juga gambaran gambaran kenakalan masa kecil Teddi serta masa kecil Dimas dan Tyo, seakan terlihat jelas pada tiap sudut ruangan rumah tua itu.
Dimas cepat ke sekolah Aulia lebih dulu meminta ijin untuk membawa putrinya pulang, dan dilanjutkan menjemput Brian lalu Rendi, Sandra juga Dinda. Sedangkan Tyo sudah memesan tiket yang untungnya bisa didapatkannya melalui temannya walaupun mendadak.
Kepergian tiba tiba Dedrick, tak pernah mereka bayangkan sedikitpun. Sesal kuat mendera batin mereka yang selalu mengundur untuk menemui Dedrick karena pekerjaan. hanya seklai ketika Dedrick baru kembali mereka berkumpul bersasma. Namun berulang kali Teddi mencoba menghubungi dan meminta putra putranya kembali, mereka selalu menunda karena memang pekerjaan terlalu banyak.
Sekarang hanya sesal yang bisa meresa rasakan, karena hanya demi pekerjaan dunia, mereka harus kehilangan banyak waktu berharga bersama keluarga. Mereka harus menyesal tak bisa mendampingi Kakek yang selalu ada untuk mereka selama ini, bahkan di ahri hari terakhir hidupnya.
Kepergian mendadak Dedrick, mengajarkan Dimas juga Tyo banyak hal akan pentingnya keluarga. Karena mereka masih bisa mencari uang kapanpun, mereka bisa kehilangan tender ataupun klien, namun masih bisa untuk mendpatkan di lain waktu. Tapi kebersamaan keluarga yang hilang, takkan bisa mereka dapatkan di lain waktu.
Setelah menjemput semua anak anaknya dari sekolah, Dimas menjemput Rena di butik. Ia tak membiarkan Rena mengemudi sendiri usai kabar yang Ia berikan melalui telpon, dan jelas mengguncang istrinya. Masih di temani Sonya juga Andin, Rena terduduk lemas dengan air mata tak henti membanjiri wajah cantiknya. Begitu tiba, Dimas langsung memeluk istrinya yang tengah duduk tak berdaya.
__ADS_1
Cepat keduanya pergi, usai Rena merasa sedikit tenang. Tyo dan Siska juga Keno sudah perjalanan ke bandara usai dari tempat Kakaknya menyiapkan semua barang keperluan. Dimaspun langsung bergegas ke bandara bersama lainnya. Dalam perjalanan, Rena memeluk Aulia di barisan kedua mobil, karena putrinya tak bisa menghentikan air mata saat tahu jika Kakek buyut yang selalu bercanda dengannya telah tiada.
Brian mendampingi Papinya di depan, Dimas sendiri mencoba menguatkan diri untuk bisa mnegemudi sampai bandara. Sedangkan Tyo memilih menggunakan supir bersama Siska juga Keno. Karena goncangan terlalu kuat menimpanya, membuat Tyo tidak berani mengemudi dan membahayakan istri juga anaknya nanti.
" Pa, tolong tunggu Kami, ini Kami sedang perjalanan ke Jogja " telpon Dimas pada Papanya begitu tiba di bandara.
" Iya nak, kalian hati hati " ucap Teddi dari ujung telpon.
Dimas dan Tyo serta lainnya ingin bisa melihat wajah Dedrick untuk terakhirkali, mereka meminta untuk Teddi tak memakamkan lebih dulu Dedrick sampai mereka tiba. Mereka ingin memakamkan sendiri Kakek tersayang mereka dengan kedua tangan mereka sendiri.
Kedua tangan yang dulu pernah di raih Dedrick untuk belajar berjalan, kedua tangan yang selalu di genggam Dedrick ketika dalam masalah, kedua tangan yang selalu menguatkan satu sama lain dalam keadaan apapun. dan kini kedua tangan itulah yangin mereka gunakan untuk mengantar Kakek mereka dalam peristirahatan terakhir.
Penerbangan yang menempuh waktu satu jam itu, mengantarkan mereka tiba di jogja dengan selamat. Seorang sopir pribadi Dedrick yang menemani Dedrick di rumahnya pun, sudah siap mengantar keluarga orang yang baik padanya itu ke rumah.
__ADS_1
Tangan Dimas dan Rena juga Aulia tak berhenti saling menggenggan selama perjalanan. Tyo dan Siska pun juga tak pernah saling melepaskan tangan mereka, hanya demi menguatkan satu sama lain. Tak ingin lagi menangis dan membuat langkah Dedrick menjadi berat, semua mencoba untuk kuat menahan air mata yang sulit untuk tak menetes.