
STOP PLAGIAT!
Aulia, Dinda juga Randi sudah turun dan menghampiri ketiganya di meja makan. Melihat adanya Sandra melambai dengan genit, langsung membuat Rendi bergidik sendiri. Rendi, Sandra juga Dinda memang teman satu kelas di sekolah. Namun Rendi selalu saja merasa jijik karena sikap genit Sandra padanya setiap kali bertemu.
" Cie, eandi ada yayang inces datang " goda Aulia mencubit lirih perut Adiknya yang bersembunyi di balik tubuhnya.
Dinda hanya tertawa geli melihat Kakaknya terus menggidikan bahu bersembunyi di balik tubuh Aulia. Kerap kali Aulia juga tyo menggoda Sandra dan Rendi ketika berkumpul bersama. Sikap dingin dari Dimas memang menurun pada kedua anak lelakinya, namun Brian terkadang masih sering bercanda menuruni sedikit sifat lain dari Papinya ketika bersama Tyo.
" Morning inces, cari Rendi ya ?" goda Aulia mengacak rambut Sandra sambil berlalu melewati, sedangkan Rendi memilih duduk di samping Papinya.
" Akiu tuh engga mau cari Rendi, tapi Akiu tuh kesini mau cari Kak Brian buat belajar piano " genit Sandra mendikte kata piano dengan memainkan jari jarinya.
" Oh, Kamu sekarang sudah berpaling dari Rendi yang dingin kaya es batu ya ?" sahut Aulia mengikuti gaya genit Sandra dan di lempar Dimas dengan tisu di atas meja.
" Aku greget banget Pi lihat Dia ngomong jadi refleks ikutin " protes Aulia diiringi senyum Rena mengusap rambut putrinya.
" Makan dulu sayang, berantem sama Papi nanti aja ya " lembut Rena mengambilkan makan untuk putrinya.
" Terimakasih Mami " senyum Aulia manja ke arah Maminya yang masih berdiri usai meletakkan piring berisi makanan.
" Mami..." seru Sandra langsung di potong oleh Dimas.
" Udah makan, kesleo tuh bibir Kamu ngomong terus dari tadi " celetuk Dimas mengembangkan tawa kecil keempat anaknya juga Rena.
Sembari menggelengkan kepala lirih, Dimas memulai sarapan seperti biasa hanya satu piring bersama istrinya, dan mengambil kembali jika di rasa kurang. Pemandangan seperti itu sudah setiap hari terjadi dan tak lagi mengejutkan keempat anaknya.
__ADS_1
Sengaja Dimas membuat hubungan rumah tangganya tetap hangat, walau usia sudah semakin tua juga adanya empat orang anak. Ia tak ingin rumah tangganya terasa hambar dan berkurang kehangatan juga cinta di dalamnya. Aulia pun menganggap biasa saja sikap manja Papinya hingga saat ini, karena sudah terbiasa melihat dari dirinya kecil. Tak jarang Dimas ataupun Rena saling menyuapi dan menjadi pasangan favorit keempat anaknya.
Satu setengah jam usai menyelesaiakan sarapan, Sandra sudah berlatih Piano bersama Brian. Memang Brian dan Aulia sering bermain bersama Papinya. Brian kini malah lebih mahir daripada Aulia, dan di dukung sepenuhnya oleh Dimas untuk putranya bermain musik. Bahkan satu minggu sekali, Brian selalu mengisi di kafe milik Papinya saat hari sabtu dengan di dampingi Dimas juga lainnya.
Baik Dimas ataupun Rena sebenarnya tak mengarahkan anak anaknya untuk menjadi seperti apapun, dan tetap memberi kebebasan untuk mengembangkan bakat juga minat mereka sendiri. Terkadang Aulia juga sibuk belajar desain pada Maminya, dan datang ke perusahaan untuk sekedar memberikan rancangannya pada Andin yang ikut bergabung pada perusahaan Erwin yang memang sengaja di bangun di Indonesia untuk Aulia ketika usianya masih 13 tahun, dan sudah berkembang baik saat ini.
Minat dan bakat Aulia serta Brian sudah ditunjukkan keduanya dalam usia dini, dan semakin berkembang ketika mereka bertambah usia. Sedangkan Dinda sudah sedikit menunjukkan minat dalam bidang sama seperti Aulia, namun Randi lebih menunjukkan minat pada perusahaan milik Papinya dimana otaknya juga terkadang ikut menyumbangkan beberapa ide pemasaran pada Papinya.
***
Dua orang teman sekolah Aulia sengaja datang menghampiri ke rumahnya, dan menghentikan sementara kegiatan Aulia yang tengah membersihkan rumah bersama Dinda juga Maminya. Sedangkan Dimas dan Rendi sibuk di dalam ruang kerja bersama, karena Rendi tak mau bertemu dengan Sandra yang membuatnya merinding akan tingkah genit padanya.
" Mi, ada Seva sama Dion nih " ucap Aulia pada Maminya yang tengah membersihkan rak buku di ruang tengah dekat Brian berlatih piano bersama Sandra.
" Silahkan duduk, Tante selesaikan ini dulu ya " lembut Rena tersenyum usai kedua teman putrinya mencium tangannya.
" Iya Mi, Aku sekalian panggil Papi ya nanti marah marah lagi ada teman Aku datang tapi engga di kasih tahu " ucap Aulia di balas senyuman oleh Maminya.
Aulia berlalu pergi ke arah ruang kerja Papinya, dan mengatakan jika ada teman sekolahnya yang datang. Cepat Dimas terperanjat ketika mendengar nama Dion. Seorang teman sekolah putrinya yang sudah terang terangan mengatakan pada Dimas agar tak membiarkan Aulia dekat dengan siapapun, karena ingin menikahi Aulia ketika mereka sudah sama sama bekerja.
" Masih berani kesini Dia ?!" tegas Dimas beranjak dari duduk dan berjalan ke arah pintu.
" Papi ih jangan galak galak kenapa Pi ? engga cocok tahu sama muka gantengnya Papi, nanti cepat tua loh " seru Aulia dicubit pipinya oleh Dimas.
" Cowok yang mau dekati Kamu harus rela dapat galaknya Papi dulu, masih kecil udah berani mau ambil anak orangĀ " ucap Dimas dan keluar menghampiri teman dari putrinya.
__ADS_1
Rena melihat langkah cepat suaminya langsung menarik lembut tangannya, memperingatkan agar suaminya tak terlalu menunjukkan sikap kelewat tegas pada teman putrinya. Namun malah mendapat protes keras dari seorang Papi yang mencoba menjaga putrinya. Tetap saja Rena menahan suaminya agar tak menunjukkan sikap galaknya di depan, dan meminta suaminya membantu membersihkan rak buku bagian atas.Walau jengkel tetap saja Dimas membantu istrinya sambil menggerutu.
Telinganya tetap terpasang sambil mata melirik ke arah ruang tamu, walau tangannya membersihkan rak buku. Tubuh sedikit condong ke samping demi bisa mendengarkan pembicaraan putrinya bersama dua teman sekolahnya.
" Mas, itu mana yang di bersihin sih ?" protes Rena ketika melihat tangan suaminya masih tetap pada posisi sama dari tadi.
" Diam dong sayang, Aku engga dengar nih " lirih Dimas makin memiringkan kepala dengan telinga terbuka lebar.
" Kakak, Papi nguping " teriak Dinda tertawa langsung di angkat tubuhnya oleh Diams dengan menutup mulut putrinya.
" Ini anak ya, mulutnya udah kaya toa masjid aja lama lama " jengkel Dimas membungkam mulut putrinya.
" Mas, mas semua anaknya kok di ajakin ribut terus " lirih Rena tersenyum menggelengkan kepala.
" Sayang, kayaknya butuh satu percobaan buat anak lagi deh, yang agak beneran dikit. Ini anak empat kerjaan nya usil terus sama Papinya " gerutu kesal Dimas hanya di balas senyuman cantik istrinya.
" Papi, anak udah empat masa mau nambah lagi sih ? uang jajan Aku kepotong lagi dong ?" protes Brian mendengar ucapan Papinya.
" Papi, pasti mau bikin tim bola ya ? kata Papa setiap hari Papi suka main bola sama Mami, makanya Aku di suruh kesini hari ini biar Papi engga main bola sama Mami " seru Sandra dengan nada manja juga mulut serta tangan bergerak berlebihan.
" Emang Mami sama Papi main bola ? engga pernah kan Dek ya ?" polos Brian ke arah Dinda masih di gendong oleh lelaki yang menggelengkan kepala tak percaya.
" Sandra, Papi bilangin Kamu ya jangan mau di akal akali sama Papa kamu. yang suka main bola tuh Papa Kamu, coba deh Kamu pulang sekarang pasti Papa Kamu lagi main bola " jengkel Dimas tak mau kalah, dicubit lirih oleh Rena pada pingganggnya hingga memekik kesakitan dan menggeser tubuhnya menjauh.
" Papa itu sukanya badminton bukan main bola Papi " kembali Sandra menggunakan nada manja genit khasnya.
__ADS_1
" Badminton, badminton. Kalau Papa Kamu main badminton engga ada Keno tuh " tak mau kalah kembali Dimas cepat di bungkam mulut nya oleh Rena dengan senyum paksa terarah pada ketiga anak kecil di ruang tengah tersebut.
Dinda, Brian dan Sandra malah tertawa melihat Dimas di bungkam mulutnya oleh Rena dan tidak bisa memprotes. Memang Tyo masih saja suka asal bicara pada anak juga keponakan keponakannya. Terkadang hal itu membuat Dimas harus rela menjelaskan panjang lebar untuk menjabarkan dengan artian lain. Namun tetap saja Ayah empat orang anak itu tak pernah ingin kelah dengan perdebatan dengan keponakannya ketika mengatakan apapun yang pernah dilontarkan Tyo.