Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 164


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Pukul 16.30, Dimas sudah tiba di rumah sakit bersama istri juga kedua anaknya, karena Ia ingin mengajak keluarga kecilnya makan malam bersama di luar untuk merayakan kehamilan istrinya. Selain itu Dimas juga ingin mengunjungi kafe miliknya.


Dalam ruangan Dokter kandungan, sudah ada pria paruh baya yang sama ketika pertama kali Rena memeriksakan kandungan dulu. Dokter ahli kandungan senior yang amat sopan kepada cucu juga cucu menantu pemilik rumah sakit, mempersilahkan mereka untuk ikut ke dalam ruang pemeriksaan, dimana sudah ada seorang perawat siap membantu Rena di dalam.


Brian juga Aulia tak ketinggalan untuk ikut melihat calon Adik baru mereka. Dokter dengan kemeja biru muda berlapis kemeja putih itu, tak jarang menggoda calon Ayah yang menggenggam tangan istrinya seperti seorang yang baru akan memiliki anak.


"Pak Dimas semakin hari terlihat seperti anak muda, tidak kelihatan kalau akan memiliki anak tiga," goda Dokter dengan mulai menggerakkan transducer pada perut Rena yang sudah di olesi gel oleh perawat.


"Kalau punya istri lebih muda harus gitu Dok, biar engga dikira Ayahnya," sahut lelaki yang menujukan mata pada istrinya seraya menggoda perempuan cantik yang melempar senyum padanya.


"Pak Dimas bisa saja," tawa Dokter dengan masih memeriksa dengan seksama perut Rena.


Dokter menjelaskan semua tentang gambar yang terdapat pada monitor, menunjukkan kehamilan istrinya yang sudah berjalan di bulan ke dua. Kesehatan Rena juga calon anak nya tak luput dari keterangan Dokter yang sudah begitu akrab dengan lelaki tampan penuh rasa haru terlukis pada ekspresi wajah juga mata nya itu.


Usai pemeriksan, Dimas berencana menanyakan tentang hubungan yang sudah Ia tahan dari tadi, sehingga meminta perawat mengajak kedua anaknya keluar lebih dulu karena tak ingin Aulia bertanya tentang hal tak seharusnya Ia dengar.


Senyum geli dikembangkan Dokter ketika dengan santai Dimas bertanya mengenai hubungan dan posisi yang aman, seketika memerahkan wajah perempuan dengan dress pink kombinasi biru muda di samping nya.

__ADS_1


Setengah jam sudah mereka berbincang dengan Dokter untuk menggali informasi tentang apa yang boleh dan tidak boleh dimakan serta dilakukan istrinya. Diam diam suami yang ingin membahagiakan istrinya itu, juga bertanya tentang melakukan perjalanan jauh dengan pesawat. Dan sudah mendapatkan surat ijin dari Dokter, sehingga membuatnya mudah memberikan kejutan pada istrinya nanti.


"Mama sayang," ucap Dimas tiba tiba dengan melihat ponsel berdering yang sudah Ia ambil dari saku celana.


"Angkat aja mas. siapa tahu penting," sahut perempuan yang sudah berjalan menuntun putrinya menuju tempat parkir.


Sambil menggendong Brian untuk mempercepat langkah, karena bocah kecil tersebut terus saja berbelok ingin tahu ke setiap ruangan, Dimas mengangkat telpon dari Natalie.


"Kenapa Ma?" tanya Dimas begitu ponsel sudah terhubung dengan Mama nya.


" Kamu dimana nak? repot gak?" sahut Natalie dari ujung telpon yang sedang duduk di teras menemani Siska mencari udara segar.


"Aku baru keluar rumah sakit habis periksa kandungan Rena. Ada apa sih?" penasaran lelaki yang membukakan pintu mobil untuk kedua anak nya juga istrinya.


"Besok aja gimana Ma? soalnya Aku udah jalan nih mau makan, Aku lagi pengen banget ayam bakar soalnya, udah pesan tempat juga," jelas lelaki yang sudah melajukan kendaraan usai menghubungkan ponselnya pada earphone bluetooth.


Dimas juga masih tak begitu yakin jika Mama nya sudah menerima Rena, makanya dengan sengaja Ia menolak karena tak ingin melihat istrinya nanti bersedih seperti dulu.


"Ya udah deh engga apa apa, kalau sempat aja," kecewa Natalie yang sudah menyiapkan makan malam juga di rumah Tyo.

__ADS_1


Dimas dan Natalie bersamaan menutup telpon, usai lelaki yang masih meragukan perubahan Mamanya itu meminta maaf. Walaupun Natalie sudah memasak untuk istrinya, bahkan rela memasak lagi ketika tahu menantunya itu tengah jengkel karena makanan yang dihabiskan suaminya, tak lantas membuat Dimas percaya akan perubahan yang dinilai nya terlalu mendadak.


Tyo tak pernah menceritakan jika Natalie sempat memintanya pergi meminta maaf ketika di Belanda, hingga membuat Dimas berpikir jika perubahan Mamanya seperti sebuah ketenangan sebelum badai besar yang harus Ia cegah.


Sementara Natalie memegang ponsel dengan binar mata kecewa di samping menantunya. Ia begitu berharap bisa menikmati makan malam bersama cucu juga kedua anak serta menantunya. Dengan sengaja Ia menyiapkan banyak makanan berbeda dan merupakan kesukaan masing masing anak juga menantunya serta cucu nya.


Siska merasa tak tega melihat mertuanya, dan meminta ijin untuk ke dalam sebentar. Siska hendak meminta suaminya agar mau membujuk Kakak iparnya untuk datang ke rumah. Dengan cepat Ia menghubungi suaminya yang masih di hotel, menceritakan semua nya serta berharap jika suaminya mampu untuk meyakinkan Kakaknya.


Mendengar cerita istrinya, Tyo langsung mencoba menghubungi Kakaknya begitu sambungan telpon dari Siska berakhir. Seorang Adik yang sudah melihat sendiri banyaknya perubahan mamanya, tak mampu meyakinkan Dimas untuk datang karena tetap ingin lebih dulu memastikan jika benar benar Rena dan Brian yang pernah dipisahkan darinya sudah diterima oleh Mama nya.


"Kenapa mas?" tanya Rena terus mendengar penolakan suaminya ketika menelpon.


"Ini Mama sama Tyo ajak makan malam bareng tapi Aku engga mau, Aku lagi pengen makan ayam bakar sayang," kilah Dimas tak mengatakan ketakutannya.


"Habis makan kan bisa ke sana mas, atau Kita bungkus aja nanti di makan di sana gimana?" usul Rena dengan nada lembut nya menatap ke arah lelaki yang masih mengemudi menuju warung lesehan.


"Engga ah, capek. Besok besok aja kan bisa, lagian Aku pengen makan langsung di tempatnya sayang," sahut Dimas tetap tak ingin mengubah keputusannya, membuat istrinya menghela napas panjang.


"Mas, jangan pernah menolak keinginan orang tua selama itu bukan hal yang buruk. Lagipula kalau dengan mas datang ke sana bisa buat Mama bahagia itu juga pahalanya besar loh mas," coba Rena menasehati suami keras kepala di sampingnya.

__ADS_1


"Iya Aku tahu," singkat Dimas masih terus pada keputusan yang sudah Ia ambil.


Napas kasar ditunjukkan Rena sebagai ungkapan jika dirinya sudah menyerah ketika keras kepala suaminya sudah datang. Seperti apapun usahanya tak kan bisa mengubah keputusan yang sudah di ambil dengan watak keras suaminya. Melihat istrinya membuang napas kasar dan menatap lurus ke depan, Dimas hanya menaikkan kedua bahunya sambil tetap mengemudi.


__ADS_2