
pukul 14.00 Siska yang sudah kembali bersama Ulia karena ia memutuskan untuk sekalian ke rumah Dimas dengan menjemput keponakannya dulu agar tidak perlu bolak balik dan Aulia bisa mengganti pakaiannya dulu. Sampai nya di rumah Siska langsung memeluk Rena sembari mengucapkan selamat lalu bersama sama membantu Aulia untuk bersiap dan makan setelah nya baru berangkat. Setelah usai dengan urusan Aulia tepatnya pukul 16.15 mereka memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit terbesar di kota itu yang juga milik keluarga Dimas dan di kelola oleh Dimas sehingga dia bisa datang kapan saja tanpa menunggu jadwal praktek dokter.
Sampainya di Rumah sakit Rena mengamati semua pegawai di sana yang dengan hormat menyapa mereka yang baru datang dan semakin membuat Rena bertanya tanya kenapa di kantor dan juga di rumah sakit suaminya selalu mendapatkan sambutan luar biasa hormat dari seluruh staff padahal suaminya hanyalah seorang pemain piano kafe. Rena yang menjadi semakin heran saat melihat jadwal praktek dokter yang tertera di dinding samping pintu ruang periksa kandungan karena memang bukan waktu nya praktek dan mulai bertanya pada suaminya.
" Mas, kaya nya buka prakteknya masih nanti jam 6 deh" seru Rena menunjuk tulisan di dinding dan hanya di balas senyum oleh Dimas, Tyo dan Siska lalu mengajak Rena yang masih kebingungan untuk masuk.
Terlihat seorang dokter yang sudah berumur di dalam ruangan putih berbalut walpaper bunga berjalan menghampiri Dimas dan Tyo lalu saling memeluk untu menyapa.
" Ini istri pak Dimas? " tanya dokter pria dengan kemeja abu abu berbalut jas dokter di hadapan Dimas menujukan matanya ke arah Rena.
" Iya " jawab Dimas singkat dengan menyematkan senyum di wajah nya, sedangkan Rena memaksa senyum penuh tanya di wajah cantik berbalut riasan tipis itu.
" Seperti biasa, bapak memang sangat jeli dalam berbagai hal" goda dokter tersebut tertawa disambut dengan tawa lainnya namun tidak dengan Rena yang masih heran.
__ADS_1
Dokter mulai mempersilahkan Rena untuk menuju tempat tidur periksa yang sudah ada wanita cantik berpakaian perawat berwarna hijau siap membantu Rena dengan senyum sopannya. Perlahan Rena menaiki brankar untuk periksa di ruangan ber skat gorden putih tersebut dengan bantuan Dimas serta di ikuti oleh Tyo yang menggendong Aulia dan Siska memasuki ruang periksa tersebut.
Suster yang dengan lembut membantu Rena mengangkat kaos nya yang telah di tutupi bagian bawah nya dengan selimut lalu memberikan gel untu persiapan USG sembari menunggu dokter mengecek tekanan darah Rena.
" Permisi ya pak Dimas" ucap dokter tersebut mengambil transducer untuk memulai menggerakkannya di perut Rena dengan mata dokter yang menuju pada layar lcd yang terdapat disampingnya dan terhubung langsung pada layar LED tepat di hadapan Rena menggantung di dinding.
Dokter mulai menjelaskan tentang kantung kehamilan yang terlihat dalam layar datar tersebut, Rena yang menyaksikan dan mendengar penjelasan dokter itu tak kuasa menahan linangan air mata di ujung matanya serta menggenggam erat tangan Dimas di sampingnya yang langsung mencium kening Rena hangat " Terimakasih sayang" seru Dimas lirih sembari menyeka air mata bahagia istrinya yang melebarkan senyum haru dengan mata tertuju pada layar.
Usai pemeriksaan yang dinyatakan Rena tengah hamil 4 minggu dan menebus beberapa vitamin Rena, mereka menuju sebuah mall untuk makan malam yang tentunya sudah di tentukan oleh gadis kecil yang ikut dengan mereka sekarang. Auli yang sangat ingin memakan es krim meminta agar papi nya membawanya ke tempat biasa ia dan mami nya ke sana dan juga karena Rena yang sangat ingin makan seafood di tempat biasa ia berkumpul dengan teman temannya.
" Rena " terdengar teriakan kencang yang sangat akrab ditelinga Rena yang ternyata memang sahabat dan juga teman kos nya Andin dan Sonya. Rena yang sangat bahagia melihat 2 sahabat nya yang sudah lama tak bertemu karena mereka magang di Bandung langsung menghampiri sahabat sahabat yang sangat ia rindukan atas ijin suami nya.
" Kalian kapan balik dari bandung? bukanya telfon gue? " seru Rena cepat dan langsung memeluk dua sahabat nya itu bergantian meninggalkan Dimas, Aulia dan adik iparnya mencari tempat duduk dan memesan makanan.
__ADS_1
" Kita baru datang pagi tadi soalnya harus ke kampus dan lusa udah harus balik magang lagi" jawab Andin menghela nafas panjang nya.
" Gue mau telfon lo, tapi masa iya istri CEO mau angkat telfon dari kita, ya gak Din? " goda Sonya yang tak tahu jika Rena belum mengetahui siapa Dimas.
" Maksud lo siapa? " tanya Rena heran membuat sahabat sahabat nya malah tersenyum meledek Rena yang di anggap nya pura pura tak faham.
" Gaya lo Ren, ya lo lah Ren. Rena istri CEO perusahaan terbesar nomor 2 di Asia, pemilik kafe juga pemilik beberapa rumah sakit mewah di berbagai kota" jelas Andin mengangkat tangan dan melebarkan seakan membentuk sebuah garis pengumuman semakin membuat Rena bingung namun menganggap sahabatnya itu tengah bercanda
" Gila lo " seru Rena tertawa memukul tangan Andin yang masih melayang di udara.
" Tapi nih ya, lo tuh beruntung banget dapat Dimas, udah ganteng tajir pula iri gue" seru Sonya
" Iya, apalagi foto Dimas pas di majalah ganteeeeng banget" tambah Andin memuji ketampanan Dimas yang mengundang rasa penasaran Rena.
__ADS_1
" Mana? lo bawa gak? gue lihat dong" pinta Rena bertingkah wajar agar ia bisa menemukan jawaban tentang perkataan sahabat nya tadi serta semua pertanyaan di kepala nya.
" Bawa dong, gue masih syok tau gak lihat majalah di kantor magang gue tentang suami lo, makanya gue beli barusan " jelas Andin mengeluarkan sebuah majalah bisnis dari tas ransel miliknya yang dengan cepat di raih oleh Rena