
STOP PLAGIAT!
Tak sedetik pun Rena meninggalkan Dimas usai keluarganya kembali pulang. Rasa khawatir akan kondisi psikologis suaminya membuat Rena selalu menatapnya iba dengan perkataan lembut yang selalu Ia lontarkan. Sikap manja Dimas juga selalu Ia turuti meski harus merelakan kedua anaknya hanya bisa bersama dengan Bi Ijah juga Bi Lastri.
Aulia juga merasa heran akan tingkah Papinya, harus rela mengalah saat lelaki yang ingin tidur di pangkuan istrinya itu menggeser tubuh Aulia meski putrinya sedang asik merebahkan kepala di pangkuan Maminya.
" Sayang, Aku mau makan martabak manis " ucap lelaki yang kini sudah merebahkan kepala di pangkuan istrinya di depan TV.
" Kamu kan engga suka manis mas " sahut Rena mengusap lembut kepala suaminya sambil terus memperhatikan kedua anaknya yang masih sibuk bermain di atas karpet meski sudah pukul delapan malam.
" Sekali kali engga apa-apa, Aku pengen banget " ucap Dimas dengan nada manja.
" Ya udah Aku minta tolong Pak Adi ya " sahut Rena lembut dan mengangkat kepala suaminya perlahan.
" Sayang, bilang Pak Adi yang keju tapi suruh agak banyak nanti tambah uang engga apa-apa " teriak Dimas ke arah istrinya yang sudah berjalan ke arah belakang untuk memanggil Pak Adi.
__ADS_1
Dengan langkah pelan, Rena berjalan ke arah belakang sambil terus memanjatkan doanya dalam hati agar bisa menguatkan suaminya menghadapi semua yang terjadi. Tak henti hari ini perempuan yang sudah berbalut daster batik itu dibuat terkejut oleh semua permintaan suaminya. Dari baso, gorengan, es krim bahkan martabak manis yang semua adalah makanan paling di hindari oleh suaminya. terlebih ketika Dedrick berpesan agar terus menjaga Dimas tanpa sedikitpun meninggalkannya karena takut akan melakukan hal yang bisa melukai dirinya sendiri.
" Pak, bisa minta tolong belikan martabak manis di tempat biasa Pak Adi belikan gak ? " tanya rena begitu sudah menjumpai supir rumahnya di halaman belakang tengah meminum kopi.
" Bisa Bu " sahut Pak Adi langsung berdiri dengan sedikit membungkukkan tubuhnya sopan.
" Makasih ya Pak, minta tolong nanti kejunya suruh kasih agak banyak ya nambah uang engga apa-apa kok. Beli dua ya Pak yang satu terserah pak Adi saja " ucap Rena tersenyum sambil menyodorkan uang pada Pak Adi.
" Baik Bu, terimakasih " sahut Pak Adi kembali dan bergegas pergi lewat samping rumah untuk membelikan majikannya martabak.
Dirumah Tyo menceritakan segala yang terjadi pada Siska mengenai semua masalah Ana juga kekhawatiran keluarga akan kondisi mental Kakak satu satunya hingga membuat istri yang kini mengandung anak pertamanya meras begitu iba dan kasihan terhadap Dimas bahkan meminta agar suaminya segera membawa Dimas ke Dokter karena akan lebih menderita Rena juga kedua anaknya jika sampai terjadi apa apa.
Siska yang tahu tentang Ana juga merasakan khawatir dan mewanti wanti suaminya agar tak menggunakan sekretaris perempuan karena tak ingin apa yang menerpa keluarga Kakaknya juga terjadi pada keluarganya. Ia mengatakan pada suaminya jika dirinya mungkin tak akan mengambil langkah seperti yang di ambil oleh Kakak ipar yang begitu baik masih memaafkan dan menerima suaminya.
Dedrick juga Teddy dirumah tak kalah khawatir akan kondisi Dimas juga esok hari yang akan terjadi jika Erwin datang. Entah seberapa terguncangnya lagi mental dari anak tertua keluarga itu jika sampai esok terjadi semua hal yang mereka takutkan bahkan jika sampai Erwin membawa paksa Rena juga Brian. Mereka tak sanggup membayangkan jika sampai lelaki tampan yang selalu membanggakan mereka dalam memimpin perusahaan akan menjadi gila hanya karena masalah rumah tangga yang tak kunjung usai menerpa bertubi tubi.
__ADS_1
Sementara Pak Adi yang sudah kembali setelah 30 menit pergi dan sukses membuat Dimas mondar mandir di teras karena rasa ingin segera menikmati martabak kejunya. Begitu melihat mobil sedan hitam memasuki rumah, lelaki yang masih setia berdiri di teras dengan di tunggu istrinya itu langsung berlari menghampiri Pak Adi dan mengambil martabak miliknya. Tanpa menunggu lama, Ia langsung melahap martabak yang masih panas itu di teras rumah diiringi tatapan istrinya.
Setelah puas dengan satu kotak martabak yang hanya menyisakan dua potong itu, Rena mengajak suaminya untuk beristirahat karena sudah tak sanggup lagi harus melinhat tingkah suaminya dari tadi.
" Kenapa sih ?" tanya Dimas heran melihat Rena membantunya mengganti pakaian begitu mereka sampai kamar.
" Apanya sih mas? " sahut Rena terus membantu melepaskan pakaian suaminya yang masih melekat.
" Sayang, Aku bukan Brian kenapa harus gantiin baju Aku kaya gini sih ?" tanya Dimas kembali masih penuh keheranan.
" Kamu kan biasa bantu Aku mas sekarang giliran Aku dong biar adil " sahut Rena mengembangkan senyumnya.
" Aku sayang banget sama Kamu, cinta banget sama Kamu mas. Kita engga akan pernah terpisah sampai kapanpun, dan Kita bisa melupakan semua yang terjadi " ucap Rena memeluk suaminya dengan erat usai melepaskan kaos yang melekat pada tubuh tegap suaminya.
" Makasih ya sayang, maafin Aku selalu sakiti Kamu. Aku janji akan jadi suami juga Papi yang baik buat Keluarga kecil Kita, jangan pernah tinggalkan Aku " sahut lelaki yang mengeratkan pelukannya pada istrinya.
__ADS_1
Tanpa melepaskan tangannya, Rena membawa suaminya ke arah ranjang dan membantu suaminya untuk merebahkan diri lalu menciumnya lembut usai Ia selimuti dulu tubuh suami yang selalu tidur tanpa mengenakan pakaian atas setiap hari. Perempuan dengan balutan daster batik itu langsung merebahkan diri di samping suaminya dan mengusap lembut wajah brewok di hadapannya dengan begitu lembut penuh kasih sayang sebelum mereka mulai mengarungi mimpi indah bersama.