Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 179


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Rena dan Siska masing masing sudah membawa kantong berwarna putih berisi sayur yang mereka inginkan. Dimas dan Tyo yang tadi sudah berjalan lebih dulu, langsung kembali begitu melihat dua perempuan dengan perut besar tersebut berjalan ke arah mereka. Kantong berisi sayuran tersebut merek ambil untuk dibawa dan berjalan kembali pulang, tak mau lagi melanjutkan jalan jalan pagi mereka karena Rena harus membantu kedua anaknya bersiap.


" Kenapa senyum senyum sih sayang? " heran Dimas berjalan menggandeng tangan istrinya menatap wajah cantik dengan rambut terikat dibelakang itu.


" Aku lagi bayangin makan cah kangkung sama sambal terus pakai tempe hangat gitu enak kali mas ya ?" ucap Rena membayangkan sambil mengecap mulut kosong.


" Ampun deh sayang, Aku pikir lagi bayangin apa. Aku aja nih daritadi cuma bayangin Kamu pas lagi mandi, gemas banget " sahut seorang suami yang memang menahan keinginan daritadi.


" Hm jadi pengen " tambah kembali Dimas menyandarkan kepala miring pada bahu istrinya.


" Katanya engga mau, soalnya perutku besar? kenapa sekarang pengen? " goda Rena lirih.


" Ya masa puasa lagi sih sayang? kan udah engga bisa puasa Aku, udah berapa lama engga jenguk Adiknya di dalam, pasti Dia juga kangen sama Papinya" memelas Dimas selalu tak tega jika ingin menyentuh istrinya falam keadaan hamil besar.


" Ya kan yang mau puasa Kamu mas bukan Aku yang suruh " sahut Rena mengembangkan senyum Tyo yang daritadi sengaja diam untuk menyimak.


" Tau ah " singkat jengkel Dimas, mengembangkan tatapan heran istrinya.

__ADS_1


Sambil tetap berjalan, Dimas terus saja menggerutu dengan senyum geli dari Tyo juga Siska yang berjalan di depan. Kedua calon orang tua baru itu, tetap diam mendengarkan baik baik setiap apa yang di gumamkan oleh Dimas seperti anak kecil.


Sampainya dirumah, lebih dulu Rena dan Siska mencuci kaki pada kran di taman sebelum masuk, dengan suami mereka sudah menyediakan alas kaki. Begitu sampai dalam, sudah dilihatnya Aulia dan Brian bersama Neneknya. Wajah segar dari anak anaknya langsung di hamoiri dan di cium Rena juga Siska, sementara kedua lelaki dengan kantong belanjaan itu masuk ke dalam dapur meletakkan belanjaan di atas meja.


" Kok sudah di mandiin Ma? baru aja Rena mau mandiin mereka" tanya Rena segan karena kedua anaknya harus dimandikan mertuanya.


" Enga apa apa sayang, Mama senang kok " senyum Natalie pada menantunya.


" Makasih ya Ma " senyum Rena menatap wajah cantik dengan rambut setengah basah tersebut. karena memang Natalie lebih suka membiarkan rambutnya kering tanpa pemanas.


" Siska, jangan berdiri aja kaki Kamu sudah bengkak loh. Sini duduk sama Mama " pinta Natalie meluhat kaki menantunya bengkak dari kemarin.


Rena lebih dulu meminta ijin untuk pergi ke kamar, karena dari jauh suaminya sudah melambai mengajak istrinya. Aulia dan Brian masih duduk bersama Om, tante juga Neneknya mengekus lembut perut Siska dan menciuminya.


" Udah pengen " ucap Dimas seketika keduanya sudah masuk ke dalam kamar.


" Mas, masih pagi juga udah mesum aja sih? " tanya heran istri sudah dipeluk dari belakang di balik pintu terkunci.


" Biarin aja deh sayang, Aku udah engga tahan tahu dari tadi " manja Dimas menggelayut pada pundak istrinya.

__ADS_1


" Aku lagi bau keringat mas, kan baru jalan jalan " lembut Rena membelai tangan suami yang ada di perut bawah.


Tanpa lagi perduli, karena memang istrinya tak bau keringat seperti ucapannya, Dimas mulai melakikan apa yang sudah Ia tahan dari sebelum melaksanakan ibadah mereka dini hari tadi. Tak perduli lagi bagaimana tidak nyamannya dengan perut besar, seorang suami yang sudah berpuasa lumayan lama itu menjalankan kewajiban lain sebagai seorang suami.


Diluar, Aulia yang hendak mencari Papi nya untuk minta di antar mencari buku, di cegah oleh Natalie karena tak mengijinkan cucunya mengganggu ketika orangtuanya sedang berada di kamar. Walaupun Natalie sendiri tak tahu apa yang dilakukan putra dan juga menantunya di dalam begitu lama.


Sebelum memulai memasak, karena memang berencana memasak bersama Kakak iparnya, Siska menanyakan beberapa hal tentang melahirkan dan keperluan yang harus mereka bawa ke rumah sakit nanti. Penuh sabar juga kasih sayang seorang Nenek yang tengah memangku cucu keduanya itu, menjelaskan perlahan hingga Siska mengerti.


Tak lupa Natalie juga memperingatkan putranya yang memiliki sifat mudah panik seperti Dimas, agar tak terlalu panik berlebihan ketika tanda tanda hendak melahirkan sudah mulai dirasakan oleh Siska. Calon nenek itu juga meminta putranya mulai mengemas barang dalam tas atau koper kecil, agar sewaktu hendak berangkat ke rumah sakit tinggal membawanya saja tanpa perlu repot untyk menyiapkan.


Kehamilan pertama bagi Siska membuatnya sedikit merasakan takut akan sakitnya melahirkan. Karena Siska dan Tyo lebih sering melihat video di internet tentang proses persalinan baik caesar ataupun normal, dan menjadi harapan Siska jika dirinya bisa melahirkan secara normal anak pertamanya.


" Tuh dengar kan? jangan panik sayang rileks aja " santai Tyo sudah merangkul pundak istrinya sambil mengusap lembut perut besar milik Siska.


" Yang gampang panik kan Kamu sayang, udah gitu Kamu juga takut sama darah " sahut Siska hanya membuat suaminya cengengesan.


Tyo dan Dimas memang takut dengan darah. apalagi jika darah yang mereka lihat cukup banyak. Entah mengapa dari kecil mereka sudah begitu takut akan darah. Bahkan saat pertama menikah, Dimas begitu panik ketika pertama kali tahu Kiara mengeluarkan darah datang bulan, yang kala itu tak disadari Kiara jika memang dirinya tengah tepat pada tanggal menstruasi.


Ketakutan kedua putranya akan darah, juga mencemaskan Natalie soal bagaimana mereka nanti jika menemani istri mereka melahirkan. Baik Tyo ataupun Dimas tak pernah tahu berapa banyak darah yang akan keluar nanti. Karena meski akan memiliki tiga orang anak, Dimas tak pernah menemani istri pertama ataupun keduanya melahirkan. Dan baru pada kehamilan anak ketika Ia bertekad untuk mendampingi istrinya.

__ADS_1


__ADS_2