Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 189


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Tiga jam berlalu, Dimas sudah merasa benar benar baikan usai istirahat sejenak bersama Dedrick yang menemani. Langsung saja Ia bergegas menghampiri istrinya yang sudah pindah di ruang rawat. Karena tadi, Dedrick sengaja meminta cucunya lebih dulu menenangkan diri usai tersadar dari pingsan.


" Udah bangun Dim? " ledek Teddy begitu putranya masuk ke ruangan.


Hanya tersenyum menggaruk tengkuk, Dimas berjalan menghampiri istrinya yang tertidur di atas ranjang.


" Jangan di bangunin, kasihan Dia pasti lelah " lirih Natalie setia mendampingi menantunya.


Rena memang sudah kehabisan banyak tenaga, dan langsung pulas begitu selesai melakukan IMD dan dipindahkan ke kamar rawat.


Tyo sudah merasa gatal pada mulutnya ingin meledek Dimas, namun terpaksa di tahan karena tak ingin mengganggu Kakak iparnya. Sedangkan Erwin belum kembali usai tadi menerima telpon dari sekretarisnya.


Natalie sengaja pindah untuk duduk bersama Tyo, Teddy dan Dedrick agar Dimas bisa duduk di samping ranjang menunggu istrinya.


Tangan lelaki dengan perasaan bahagia itu, tak henti mengusap lembut rambut istrinya. Matanya tersirat kebahagiaan juga rasa cinta pada perempuan yang masih terlihat begitu lelah dalam wajah lelap.


" Mas Dimas sekarang anaknya banyak banget ya Kek " lirih Tyo memperhatikan Kakaknya dari jauh, mengembangkan senyum Natalie, Dedrick juga Teddy.


" Itu karena Dimas doyan " celetuk Dedrick asal, membuat Tyo tertawa kecil.


" Rekor keluarga Pa " tambah Teddy tersenyum.


" Iya ya, mbak Rena anak tunggal dan Mama cuma punya anak dua " ucap Tyo tak tahu cerita tentang saudara kembar Kakaknya yang telah tiada.


" Ya itu, kalau dilanjutin udah bisa buat tim bola keluarga Dimas " tawa Dedrick memiliki watak sama seperti Tyo yang suka menggoda.


Ketiga laki laki yang masih duduk berjajar itu tak henti membicarakan Dimas, hingga membuat telinga Dimas panas. Walau mereka merasa suaranya sudah lirih, tetap saja mampu di dengar oleh lelaki yang kini sudah berjalan ke arah sofa bed.


" Kalau mau ngomongin orang tuh keluar dulu, Aku dengar semua " jengkel Dimas malah ditertawakan ketiganya.


" Diam dong, kasihan kan Rena lagi tidur " seru Natalie mengingatkan ketiganya.


" Tuh kan bangun " tambah kembali Natalie melihat menantunya perlahan membuka mata.


Cepat Dimas menghampiri istrinya kembali, dan meraih air yang sudah di beri sedotan ke arah istrinya.

__ADS_1


" Masih sakit mas? udah periksa? " tanya Rena langsung usai meminum air yang di betikan suaminya.


" Engga usah sayang, udah engga sakit Aku. Kamu sendiri gimana sekarang? ada yang sakit gak? " jawab laki laki masih berdiri memegang botol air mineral.


" Aku khawatir sama Kamu, beneran udah enakan? " tanya kembali perempuan masih menampakkan kelelahan pada wajahnya.


" Dimas pingsan gara gara lihat darah Kamu nak, bukan sakit " ucap Natalie menghampiri dan duduk di atas ranjang menantunya.


" Iya mba, engga usah di perhatikan lagi itu mas Dimas " celetuk Tyo ingin berusaha membalas Kakaknya.


Erwin yang baru masuk langsung menghampiri putrinya untuk melihat langsung kondisi anak tunggal kesayangannya.


" Papa.. " seru Rena tersenyum.


" Kamu baik saja? kenapa engga pernah bilang kalau Kamu hamil anak kembar sih nak? " tanya Erwin memegang tangan putrinya.


Dimas hanya tersenyum mendengar ucapan mertuanya.


" Erwin, lebih baik Kamu bawa Rena kembali ke Paris. Kasihan kalau disini nanti di suruh hamil lagi sama Dimas " celetuk Dedrick sengaja menggoda.


" Engga boleh !" tegas lelaki yang sudah memeluk istrinya tersebut, mengembangkan senyum semua orang di ruangan.


" Kenapa? Rena kan anak Papa Dim, jadi mau Papa bawa juga terserah dong " seru Erwin makin gencar melihat tingkah Dimas.


" Pa, Papa mertua tega banget sih? masa mau dipisahin lagi? anak Aku udah empat loh Pa " memelas Dimas masih memeluk istrinya.


" Yang suruh punya anak empat ya siapa " lirih Natalie bergumam sambil tersenyum.


" Udah Win bawa aja Rena, percuma punya suami juga engga bisa di andalkan. Istru sakit mau lahiran malah Dia nya ikut sakit, udah gitu pingsan lagi. Gimana bisa jaga anak sama istri kalau letoy gitu " tambah Teddy ikut menggoda.


" Papa, Tyo juga pingsan tapi Siska engga di bawa pulang sama orang tuanya. Kenapa Aku malah mau dipisahin lagi sih? bunuh aja sekalian! " jengkel kesal Dimas menatap ke arah Papanya.


" Udah nanti mas Dimas pingsan lagi " celetuk Tyo menghampiri Kakanya.


" Gara gara Kamu tuh Dek pakai pingsan segala, jadinya kan Aku ketularan! " jengkel Dimas melirik ke arah Adiknya yang malah tertawa.


" Mau berangkat hari apa Om? biar Aku pesan tiket buat semuanya " ucap Tyo mengambil ponsel, langsung di tarik oleh Dimas jengkel.

__ADS_1


" Mas, kasar banget sih? " lirih Rena melihat suaminya yang cepat merampas ponsel dari tangan Adiknya.


" Tyo duluan sayang " manja laki laki masih dengan wajah kesal tersebut.


" Emang Aku yang minta Papa buat jemput Aku sama anak anak pulang ke Paris kok mas " ucap Rena tanpa ekspresi, mengejutkan semuanya terlebih Dimas.


" Apa maksud Kamu? Kamu pergi sama anak anak tinggalin Aku gitu? " sendu Dimas ke arah istrinya dengan perasaan campur aduk.


" Mba, ini serius? Aku cuma becanda loh mba " takut Tyo mengarahkan tatapan ke arah Kakak iparnya.


Natalie, Dedrick, Teddy dan Erwin juga masih terkejut mendengar pernyataan Rena. Semuanya berkumpul di dekat ranjang dengan tatapan membulat.


Erwin sendiri tak mengetahui apapun juga tak kalah terkejut, pasalnya Rena tak pernah mengatakan apapun sebelum pernyataan hari ini.


" Kalau emang Kamu pergi, terus kenapa Kamu kasih Aku kebahagiaan kaya gini? harusnya dari dulu Kamu bilang kalau emang udah engga mau sama Aku, jadi Aku engga terlalu berharap sama hubungan Kita " sendu Dimas, membuat keluarganya tak tega.


" Enak aja Kamu main pergi pergi engga mikirin perasaan Aku " tambah kembali laki laki yang sudah terduduk lemas itu.


Senyum Rena langsung mengembang melihat ekspresi wajah suaminya dan di ketahui oleh Tyo.


" Mba bercanda ya?! " jengkel Tyo merasa tertipu dan di angguki oleh Rena.


Seketika wajah tertunduk Dimas di angkat mengarah ke perempuan yang masih mengukir senyum.


" Aku cuma mau kerjain Mas Dimas kok semuanya kaget sih? " ucap Rena langsung melegakan hati keluarganya, tak dengan Dimas masih menatap bingung.


" Kalai mau kerjain suami Kamu bilang dong nak, Mama juga kaget " ucap Natalie megang kaki menantunya.


" Maaf Ma " senyum manja Rena. menggelakkan tawa semua orang merasa lega.


" Rese banget sih Kamu tuh?! Aku pikir beneran, wajah Kamu serius banget. Nyebelin tahu gak?! " jengkel Dimas malah di tertawakan keluarganya.


" Mana mungkin sih Aku tinggalin suami kaya Kamu mas, udah ganteng baik lagi " goda Rena memegang sisi wajah suaminya.


Refleks Dimas langsung beranjak dari duduk dan membungkuk mencium lembut bibir istrinya. Pukulan pedas pun di daratkan Tyo tepat pada punggung Kakaknya. Sementara lainnya hanya menatap sambil tertawa melihat laki laki berbadan tegap itu tak malu mengungkapkan perasaannya.


Menyadari tawa semua orang, Rena mendorong lirih kedua pundak suaminya dengan wajah malu. Sedangkan Dimas malah cengengesan sendiri, saking bahagianya hingga melupakan adanya keluarga disana dan untungnya tak ada Aulia ataupun Brian.

__ADS_1


__ADS_2