
Assalamualaikum, bolehkan sedikit memberikan informasi? boleh lah, boleh. Masa enggak sih🤣
...Novel Dimas Rena, Info lengkap ada di IG Phi_Cute94. Mix buku ketiga....
Beberapa hari setelah ucapan tegas dari istrinya, Dimas mengajak Luna untuk bicara empat mata. Tentu, semua dilakukan atas izin dari istri tercinta, yang memahami jika semua tak bisa disampaikan jika ada orang lain.Â
Rena pun tak ingin ikut campur dalam rumah tangga lain suaminya, memberikan kepercayaan penuh untuk lelaki itu bicara dan mengambil keputusan. Rena tahu, jika Dimas tak akan pernah membuatnya terluka dan berurai air mata, karena ia sangat mencintai tanpa pernah berubah.
Jika mengingat akan pengorbanannya dulu, tentu Rena tak pantas untuk sekedar mencurigai suaminya sendiri. Perjuangan Dimas untuk mendapatkan hatinya juga restu sang ayah, tak perlu untuk dipertanyakan setiap perjuangan tanpa pernah mengenal kata menyerah.
Kini, Dimas dan Luna duduk berhadapan di sebuah rumah makan. Bukan tempat istimewa layaknya restoran bintang lima, hanya rumah makan lesehan yang terkenal dengan ayam bakarnya. Itu makanan kesukaan Luna sedari dulu, tanpa melupakan caranya makan tanpa sendok atau garpu.
"Tumben ajak keluar? Baru dapat lotre? Mba sama anak-anak kenapa gak ikut?" tanya Luna, sembari memotong ayam dan ia pindahkan ke atas piring sudah ada nasi hangat.
"Kita pisah aja ya, Lun? Mas bebasin kamu sekarang," kata Dimas tanpa basa-basi, terangkat pandangan Luna dalam raut wajah terkejut. "Kamu juga maunya gitu kan?"
Sejenak terbengong akan rasa terkejut, Luna tertawa. "Hahaha, mantap tuh! Boleh banget!" jawab Luna semangat, lalu menikmati makanannya tanpa menunggu Dimas lebih dulu.
Lelaki berkaos putih itu menatap Luna, terlihat sangat lahap menikmati nasi hangat juga ayam bakar. Kedua matanya terarah pada makanan, belum sampai mulut kosong sudah ia isi lagi. "Pelan-pelan," ucap Dimas tak dihiraukan.
"Kamu punya sakit maag loh, jangan banyak-banyak kalau makan sambal. Itu ayam bakarnya udah pedes," kata Dimas lagi.
Perkataan itu masih tak dihiraukan oleh perempuan lebih senang menikmati makan, dari pada bicara. Mempunyai sakit maag akut, namun sepertinya tak begitu dihiraukan oleh seseorang yang juga menyukai kopi hitam. Walau kadang, ia sendiri menderita ketika sakitnya kambuh, tetap saja sulit untuk diberitahu.
Dimas merasa seperti orang yang tak memiliki perasaan, bicara dengan mudahnya tanpa ada basa-basi lebih dulu. Ia tak ikut makan, hanya memesan teh hangat saja sebagai teman untuknya berbicara.Â
__ADS_1
Mungkinkah semua diam yang ditunjukkan oleh Luna, adalah kekecewaan tak sanggup terucap? Atau memang ia tak ingin lagi membahas apa yang sudah pasti? Namun, yang jelas ia masih bergeming walau nasi sudah habis dan menikmati ayam bakar dengan sambal saja.
"Mas pesenin nasi lagi ya?" tawar Dimas, tetap saja perempuan itu diam.
Hanya meminta sedikit nasi, yang dijadikan lima suapan saja oleh perempuan yang melahap semua dengan lebih cepat. Ayam tak disisakan, lalu meneguk air putih hangat seperti yang ia minta. Luna berdiri, mencuci tangan pada kran tersedia pada setiap tempat hanya beralas busa kotak untuk duduk.
"Pulang yuk, aku banyak kerjaan. Lagian juga pasti Dinda tungguin di rumah," ucap Luna dan langsung berjalan pergi tanpa menunggu jawaban lebih dulu.
Dimas mengembuskan napas panjang, meraih ponsel di atas meja dan mengikuti Luna. Perempuan itu ada di kasir, membayar sendiri apa yang ia makan dan seketika keluar dari tempat berhias dinding juga atap bambu.
"Apaan sih, Lun?! Mas juga bisa bayarin!" tegas Dimas begitu tiba di lokasi parkir.
"Aku yang makan kok," santai Luna. "Tenang aja, teh nya aku gak itung hutang. Anggap aja traktiran perpisahan."
"Aku pulang naik taksi aja, mas cepetan pulang. Aku mau ke rumah temen buat ambil barang," ucap Luna. "Gak usah dikejar, aku bukan ayam. Makasih banyak,"
...Tahap Revisi Novel Brandon, Up mulai tanggal 2. Info lengkap ada di IG Phi_Cute94...
Mungkin itu yang menjadi salah satu pertimbangan untuknya memantapkan sebuah perceraian sebagai pilihan akhir. Andai saja Alexa mau sedikit berubah dan tak hanya ingin dimengerti, mungkin Pieter akan memilih bertahan dan memperjuangkan hubungan untuk bisa benar-benar mendapatkan restu dari Sasmita.
Dalam sebuah hubungan, jika hanya satu yang berjuang, maka tak akan pernah sanggup untuk mencapai tujuan. Tak ubahnya dengan hubungan pernikahan Pieter dan Alexa, di mana Pieter berjuang untuk mengubah diri dan menumbuhkan cinta tanpa membatasi, namun nyatanya sang istri justru melakukan kebalikan.
Selalu saja mengeluh untuk perhatian dan kasih sayang, bersama waktu yang seolah tak pernah ia dapatkan. Padahal, tanpa pernah dipahami oleh Alexa, suaminya telah mengorbankan pekerjaannya berulang kali hanya untuk menemani.
Ponsel dibiarkan untuk diperiksa setiap hari, tanpa pernah ada kebebasan untuknya berhubungan dengan siapapun. Sudah begitu, masih saja ada kecurigaan tentang pesan atau panggilan yang sengaja dihapus oleh Pieter, padahal tidak pernah untuknya melakukan.
__ADS_1
Saat tiba di rumah, ponsel dipegang oleh Alexa dan diubah dalam mode senyap. Sehingga, Pieter harus merelakan diri untuk mendapat amarah dari Brandon, selaku atasan.
Dianggap tak memiliki keprofesionalan bekerja, dan pernah memintanya untuk mundur saja.
Ia juga pernah menempatkan Brandon dalam bahaya, karena ponsel dihubungi berulang kali tanpa ada jawaban. Entah sudah berapa banyak kesalahan dilakukan oleh Pieter, hanya untuk membuat Alexa bisa tenang tanpa pernah mencurigai dirinya.
Disalahkan karena Queen lebih suka tinggal di rumah Olivia tanpa ingin pulang, dibandingkan dengan Brandon yang memiliki harta dan kekuasaan, Pieter masih bisa menerima. Niat untuk memiliki anak lagi, juga masih saja disalahkan oleh istrinya.
Entahlah, lelaki yang kini masih memfokuskan kedua mata pada layar laptop itu, sudah tak mengerti harus mengambil sikap bagaimana. Pastinya, sekarang Pieter jauh lebih tenang ketika ia tak lagi satu rumah dengan Alexa dan dapat mencurahkan kasih sayang pada putri cantiknya.
Putri cantik, yang kini melakukan panggilan video dengan Brandon dan membuatnya tak henti mengukir senyum juga tertawa. Brandon duduk di sampingnya, membiarkan ponsel di atas meja dengan wajah cantik nan menggemaskan menghiasi layar ponsel.
“Daddy, bisakah mengizinkan papaku pulang? Ini sudah sangat malam, dan aku sudah mengantuk. Aku lelah harus menunggu papa setiap malam,” polos bocah berpiyama merah muda, duduk bersandar di sofa ruang tengah bersama neneknya.
“Papa menyuruhmu?” tanya Brandon melirik sahabatnya.
“Tidak. Aku berbicara dari hatiku, karena aku sudah lelah menunggu papa setiap hari. Daddy juga pulang saja, mommy pasti kesepian. Bukankah, daddy tidak bisa jauh dari mommy? Kenapa meninggalkannya sampai malam setiap hari?” polos Queen, tersenyum dua lelaki dalam ruang kerja.
“Daddy bekerja, itu juga untuk mommy. Sudahlah, daddy akan melempar papamu pulang sekarang.” Brandon menjawab.
“Aku sangat membenci, Daddy!” senyum Queen, seketika maju tubuh Brandon dengan tatapan terkejut.
“Daddy mengizinkan papa pulang, dan kamu bilang benci? Kamu pikir, itu pantas? Bukankah kamu harus bilang terima kasih?” cecar Brandon tak sanggup percaya akan apa didengar.
“Bukankah, itu artinya cinta? Daddy sering mengatakan itu pada mommy, dan selalu bilang akan mematahkan kaki mommy. Bukankah itu artinya, daddy sangat mencintai mommy dan ingin selalu menggendongnya?” polos Queen, melirik Brandon pada sahabat baiknya yang kini tertawa.
__ADS_1
“Kau mengatakan hal itu?” bisiknya pada Pieter.