Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
BAB 67


__ADS_3

Pukul 9 pagi, Dimas yang sudah mengantar putrinya ke sekolah dan Rena memeriksakan kandungan, melanjutkan perjalanan mereka bersama.


" Mas, ini kan buka jalan ke rumah? " tanya Rena menyadari jalanan yang mereka lalui malah menuju ke kantor suami nya.


" Iya sayang, aku ada meeting sebentar ya " sahut Dimas dengan mata tertuju ke jalanan.


" Aku turun di sini aja ya mas, nanti aku telfon pak Adi biar jemput aku " pinta Rena karena tak ingin datang bersama suami nya dengan status istri yang mungkin banyak yang belum mengetahuinya membuat Rena khawatir jika di anggap sebagai anak magang yang menggoda pemilik perusahaan.


" Apa an sih kok malah ngomong gitu " protes Dimas tak menyukai permintaan Rena.


" Aku cuma engga enak aja mas sama lain nya " jelas Rena malah membuat Dimas merasa jengah.


" Kita udah nikah, kamu istri aku itu fakta nya dan engga ada yang perlu di tutupi lagi. Kamu harus mulai terbiasa dong Ren " pinta Dimas karena merasa jika Rena ingin terus menutupi status nya.


" Iya mas, aku ikut kamu ya " jawab Rena ketika mendapati wajah Dimas mulai tak enak dan takut jika suaminya mulai marah.


" Sayang, udah aku bilang kamu harus mulai terbiasa dengan semua ini " jelas Dimas menggenggam tangan Rena yang ada di atas paha istri nya.


" Iya mas, aku usahain ya " jawab Rena tersenyum mengarah ke Dimas.


Setelah hampir setengah jam lebih Dimas dan Rena membelah jalanan menuju kantor, mereka pun tiba di depan pintu kantor dengan security yang membukakan pintu untuk Dimas.


Dimas yang kala itu hanya mengenakan pakaian santai menuruni mobil yang beralih untuk membukakan pintu Rena lalu menggandeng tangan wanita yang dengan ragu melangkahkan kaki nya masuk. Tatapan semua orang yang mengarah tajam ke arah Rena semakin membuat Rena merasa tak nyaman bergandengan dengan Dimas yang hanya mengenakan celana pendek serta kaos yang ia balut jaket hitam serta topi dengan sepatu kets putih.

__ADS_1


Dimas menuntun Rena berjalan menuju lift pribadi untuk menuju ke ruangan nya, yang juga akan dilaksanakan meeting di lantai yang sama.


" Sayang, kamu beneran mau tunggu disini? apa engga ikut aku aja? " tanya Dimas begitu mereka memasuki ruang kerjanya merasa tak tega meninggalkan Rena sendirian di ruangan tersebut.


" Engga usah mas, aku tunggu kamu di sini ya " sahut Rena dengan melangkah duduk ke sebuah sofa berwarna hitam di ruangan Dimas.


Dimas mulai menekan nomor dan meminta sekretaris nya membawakan beberapa camilan serta minuman untuk Rena.


" Lihat apa sih? " tanya Dimas yang hendak menghampiri Rena dan mendapati istrinya mengamati tiap sudut ruangan nya.


" Ruangan kamu kaya kamu ya mas, elegan tapi aura dingin nya kuat banget " seru Rena mengamati desain ruangan yang terbalut warna hitam kombinasi abu muda dengan tirai tinggi menjuntai di jendela yang mampu mengamati jalanan kota. Langit langit ruangan berwarna putih yang terhias lampu lampu kecil dan meja kerja panjang berdiri kokoh kursi hitam dengan sandaran tinggi yang terdapat rak buku di sisi kanan dan kiri tertata rapi karena hobi membaca suami nya.


" Masa aku dingin sih? " tanya Dimas langsung membungkukkan tubuhnya mendekatkan wajah tampan berjenggot nya dengan wajah mulus Rena yang terbalut sedikit make up tipis di sana.


Rena yang terkejut dengan tindakan Dimas tiba tiba menelan kasar ludah nya serta menarik duduk hingga menempel pada sandaran sofa menghindari suaminya yang semakin mendorong wajah nya lebih dekat lagi.


" Kenapa sayang? " goda Dimas dengan suara dibuat nya sexi lalu menikmati bibir Rena yang duduk bersandar di hadapan nya gugup takut jika ada yang tiba tiba datang.


Kedua tangan Rena menghentikan aktifitas Dimas pelan agar suaminya tak merasa jika Rena merasa tak nyaman melakukan hal tersebut di tempat kerja.


" Mas ada orang " seru Rena mendengar suara ketukan pintu.


" Masuk " teriak Dimas duduk di sandaran tangan sofa yang di tempati Rena.

__ADS_1


" Maaf pak, saya cuma mau mengantar pesanan Bapak " ucap seorang gadis dengan tubuh tinggi ramping mengenakan setelan rok kerja ketat sampai lutut serta blazer hijau tua yang membalut kemeja putih di dalam nya mulai masuk dan meletakkan beberapa camilan serta jus buah untuk Rena yang menatap jeli ke arah perempuan tersebut.


" Terimakasih, kamu bisa lanjutkan pekerjaan kamu" seru Dimas pada perempuan berkulit putih dan rambut panjang hitam yang ia rapikan ke belakang dengan ikatan di tengkuknya.


" Baik pak " sahut perempuan dengan poni samping panjang yang ia sisipkan di balik telinga melangkah keluar ruangan bos nya.


Rena yang tak pernah bertemu dengan perempuan tersebut merasa tak suka ketika ia mulai tersenyum pada Dimas.


" Siapa? " singkat Rena ingin mengetahui tentang perempuan yang baru saja keluar.


" Ana sayang, sekretaris aku. Kenapa? " sahut Dimas datar dengan tangan mulai menyalakan ponsel untuk mengirim chat pada Tyo yang masih berada dalam perjalanan.


" Setahu aku sekretaris kamu cowok deh kok ganti cewek? " tanya Rena dengan nada tak suka yang dengan cepat di sadari oleh Dimas jika istri nya tengah merasa cemburu.


" Engga usah cemburu sayang, aku emang pakai 2 sekretaris soal nya kerjaannya banyak biar cepat selesai " jelas Dimas menatap wajah cemberut Rena.


" Oh, jadi itu yang buat kamu betah di kantor mas? " tanya Rena Dimas dulu sering pulang larut dari kantor sebelum kedekatan mereka.


" Aku jarang ngantor sayang, aku paling sering main musik jadi ya engga ketemu dia. Lagian dia juga keluar cuma nemenin aku ketemu klien diluar habis itu aku pulang sayang ketemu sama kamu istri aku yang cantik cemburuan lagi " seru Dimas mencubit tipis dagu Rena gemas.


" Wajar aku gini, suami aku kerja sama cewek cantik kaya gitu " gumam Rena sangat pelan yang masih bisa di dengar Dimas yang mulai melebarkan senyum nya dan duduk berjongkok di hadapan Rena.


" Sayang, udah ya jangan banyak mikir " pinta Dimas menggenggam kedua tangan Rena.

__ADS_1


" Aku takut kamu suka sama dia mas " sahut Rena mengungkapkan isi hatinya.


" Engga mungkin, orang istri aku cantik gini " ucap Dimas meraih tubuh Rena dalam pelukan dada bidang nya agar istrinya tak lagi memikirkan yang bukan bukan.


__ADS_2