
STOP PLAGIAT!
Melihat kondisi Dimas terus mual hingga lemas, Rena memutuskan untuk meminta Dedrick mengijinkan suaminya untuk tak bekerja sementara waktu.
Mendengar semua perkataan cucu menantunya dari ujung telpon, bergegas Dedrick, Teddy juga Erwin mengunjungi Dimas untuk melihat langsung kondisi lelaki yang kini masih manja pada istrinya di teras, untuk menghirup udara segar usai mengantar Aulia ke depan berangkat sekolah bersama Pak Adi juga Bi Lastri dan Brian setengah tujuh pagi ini.
" Apa dulu Kamu juga gini sayang? " lirih Dimas menempel pada dada istri yang duduk di atas pangkuannya.
" Iya mas, bahkan sampai mau lahiran masih seperti itu dan engga bisa makan apa apa karena selalu mual " cerita Rena mengingat kehamilannya tanpa Dimas, hingga membuat Erwin cemas akan kondisi dirinya.
" Pasti berat buat Kamu jalani semuanya sendiri, maafin Aku sayang " sesal Dimas karena ketidak berdayaannya waktu itu, membuat dirinya terpisah saat istrinya sedang membutuhkannya.
" Mas, semua sudah berlalu jangan di bahas lagi ya. Yang penting kan sekarang Kamu bisa rasain yang dulu Aku rasain mas, selamat berjuang ya " goda Rena tersenyum nakal pada suaminya.
" Engga apa-apa yang penting Aku bisa sana Kamu apapun akan Aku tanggung " senyum lelaki dengan gemas menempelkan hidung mancung mereka.
Pukul setengah 8, Dedrik serta Teddy juga Erwin sudah tiba beriringan bersama Tyo dan Siska yang Ia hubungi untuk mengabarkan jika Kakak nya tengah sakit. Melihat Dimas begitu manja memangku istrinya, menyiratkan tatapan pilu semua orang yang menuruni mobil.
" Kakek, kenapa semua kesini? " tegur Rena menghampiri semua bersama Dimas untuk memberikan salam mereka.
" Dek, bau banget sih Kamu " gerutu Dimas ketika Tyo memeluk tubuh nya hingga lelaki tersebut menutup mulut karena kembali merasa mual.
" Aku udah mandi mas" memelas Tyo menatap Kakaknya mual dengan aroma tubuh nya.
" Sayang, cium deh Aku bau ya? " pinta Tyo pada perempuan di samping nya yang langsung mengendus setiap tubuh atas suaminya.
" Engga sayang, Kamu wangi " ucap Siska dengan heran melihat ekspresi Dimas.
Segera Dimas berlari ke kamar mandi bawah karena perut kembali tak enak akan rasa mual, mencium parfum pada tubuh Adik nya. Dengan heran keluarga Dimas mengikuti ke dalam melihat lelaki yang masih berdiri di dera rasa mual itu di dalam kamar mandi.
Mereka amat tak tega melihat kondisi Dimas, dan meninggalkan Dimas juga Rena ke ruang tamu masih tetap pada ekspresi heran serta iba. Dedrick merasa tak sanggup lagi melihat kondisi cucunya, hingga memutuskan membawa lelaki tersebut ke rumah sakit dan di setujui oleh semua orang.
__ADS_1
Teddy membujuk mengajak Rena berbicara berdua mengenai keputusan Dedrick, usai Ia membantu suaminya duduk di ruang tamu dengan begitu lemas kembali.
" Nak, Kita khawatir sama kondisi Dimas. Kamu bujuk Dia agar mau ke rumah sakit ya " pinta Teddy dengan nada halus dalam kekhawatiran.
" Mas Dimas engga sakit Pa, Dia cuma ngidam " jelas Rena mengembangkan senyum membulatkan mata Teddy.
" Apa? " seru Teddy setengah berteriak tetap melihat senyum terukir pada wajah menantunya.
" Kenapa Ted? " teriak Dedrick khawatir mendengar teriakan Teddy dari teras rumah.
Dengan mengembangkan senyum heran, Teddy kembali bersama menantunya untuk duduk di ruang tamu diiringi tatapan semakin heran lainnya.
" Dim, ini tuh hukuman karena Kamu pernah jahat sama Rena! " tegas Teddy menundukkan wajah Dimas yang masih terlihat lemas.
" Teddy!" tegur Dedrick mengingatkan ucapan putranya.
" Pa, Kita engga perlu bawa Dimas ke rumah sakit. Dia engga sakit tapi ngidam gantiin Rena " jelas Teddy mengejutkan semua orang yang langsung tertawa terbahak dengan tatapan jengah Dimas.
" Papa, masa suami Aku di bilang gila sih? " protes Rena masih diiringi wajah jengah Dimas.
" Dimas... Dimas.. Kakek jadi ingat jaman Kakek dulu, gini sama persis kaya Kamu hampir 6 bulan Kakek engga bisa kerja " seru Dedrick mengenang masa masa almarhumah istrinya ketika mengandung Teddy.
" Masa sih Kek? 6 bulan? " tak percaya Tyo menatap Kakeknya.
" Iya, jadi Kakek itu lemes banget bau apa apa mual, tiap pagi mual sampai mau nya cuma makan sambal pakai jeruk tiap hari. Makanya muka Papa Kamu asam kaya jeruk " cerita Dedrick tertawa menggoda anak semata wayang nya.
" Kalau mas Dimas makan nya malah banyak Kek, bahkan semua kesukaan Aku yang Dia engga pernah mau, diminta semua sekarang dan kemarin malah minta mi instan" cerita perempuan di samping suaminya tersenyum sambil terus membiarkan suaminya menggenggam tangan dengan kepala bersandar pada bahunya.
" Mi instan? " seru keluarga Dimas heran bersamaan.
" Nama nya juga ngidam " lirih Dimas menggerutu karena terus di goda.
__ADS_1
" Tapi mas Dimas makin manja ya " goda Siska melirik Kakak ipar nya.
" Mas Dimas engga ngidam aja manja, apa lagi ngidam " celetuk lelaki dalam balutan kaos serta jaket hitam itu tersenyum.
" Diam Kamu Dek, bau " jengkel Dimas di tertawakan semua orang.
Mereka begitu menikmati menggoda calon Ayah dari anak ketiganya itu, karena sikap manja tanpa mengingat usia nya sendiri. Tapi hebatnya, Rena justru bersedia memanjakan suaminya tanpa sedikit pun protes.
Mendengar Erwin mendapat telpon dari pengacara tentang kasus Ana, dimana keluarga Dimas di minta untuk datang ke kantor polisi pagi ini, mengingatkan Rena akan sebuah informasi yang Ia dapat dari pengacara Papa nya itu. Rena dengan sengaja meminta pengacaranya untuk datang ke rumah Ana, demi untuk mengetahui kehidupan Ana yang sampai hati menjebak suami nya.
Dengan pikiran yang sudah Ia matangkan, terlebih kini kehamilannya juga menjadi pertimbangan dirinya, Rena mengutarakan semua apa yang Ia inginkan terhadap Ana pada keluarga dan berharap jika mereka semua dapat memahami.
" Pa, bisakah Kita menutup kasus ini? Aku sekarang sedang hamil dan tidak mau bermusuhan dengan siapa pun " ucap Rena hati hati menimbulkan protes seluruh keluarga juga suaminya.
" Sayang, Dia udah salah dan Dia pantas di hukum " protes keras Dimas di setujui semua orang dengan anggukan kepala.
" Mas, Ibu Ana sekarang sedang di rawat di rumah sakit. Jika Ibu nya tahu Ana dalam penjara, maka semua akan fatal mas. Biarkan Ana bebas dan merawat Ibu nya, Kita bisa memberinya pesangon untuk menambah biaya pengobatan dan Aku juga akan memberikan uang pribadiku untuk melunasi biaya rumah sakit " jelas Rena perlahan dan sudah mentransfer sejumlah uang ke rumah sakit tempat Ibu Ana di rawat tanpa sepengetahuan Dimas.
" Tapi Rena, Dia bisa mengganggu rumah tangga Kamu lagi " jelas Teddy mengingatkan.
" Tidak Pa, Aku sekarang sudah sama mas Dimas dan Aku yakin Dia tidak akan kembali lagi pada kehidupan Kami " sahut Rena tetap memberikan pengertian.
" Ya udah kalau itu keputusan Kamu nak, Papa akan urus segalanya " lembut Erwin memahami kebaikan serta ketulusan putrinya.
" Aku engga habis pikir sama Kamu " jengkel Dimas pada istrinya.
" Mas, memaafkan itu lebih baik dan lagipula Kita tidak memiliki hak untuk membalas dan menghukum manusia. Kalau Tuhan saja bisa memaafkan, kenapa Kita tidak mas " coba Rena membujuk suami nya.
Walaupun berat, semua mengerti akan maksud Rena yang melakukan semua demi Ibu dari perempuan yang telah menjebak suaminya. Rasa bangga akan ketulusan hati Rena juga timbul di dalam hati mereka, karena perempuan yang kini masih terus membujuk suaminya itu memiliki jiwa begitu besar hingga mampu memaafkan siapapun dengan kesalahan apapun.
Seakan mereka yakin jika Rena bukan hanya seorang manusia biasa sampai memiliki hati begitu mulia. Siska mulai banyak belajar dalam menyikapi rumah tangga semenjak Ia mengenal baik Kakak ipar nya. Kebaikan, ketulusan, cinta, kasih sayang, pengertian, perhatian dan segala yang ditunjukkan Rena menjadi sebuah contoh untuknya berubah menjadi lebih baik dalam segala hal.
__ADS_1
Ajaran Nesa benar benar diingat dan di lakukan dengan baik oleh Rena, semakin membuat Erwin begitu bangga mempunyai anak dengan hati serta paras begitu mirip Nesa. Bahkan tutur kata lembut yang bahkan mampu menggoyahkan kerasnya hati, membanggakan Erwin sebagai seorang Ayah. Dia berharap putrinya bisa menemukan kebahagiaan karena ketulusan hatinya.