Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 148


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Sore harinya, Erwin sudah datang dengan di jemput oleh Tyo dari bandara sesuai dengan permintaan Dedrick yang sudah bersiap menunggu kedatangan Erwin di rumah Dimas bersama Teddy. Dedrick sengaja meminta kedua asisten rumah cucunya pergi membawa Aulia dan Brian kerumahnya bersama dengan Pak Adi juga Siska yang sudah menunggu dirumah Dedrick agar tak ada yang mendengar semua pembahasan yang mungkin akan berujung dengan sebuah emosi.


" Nak, pelipis Kamu kenpa ?" tanya Erwin pertama kali begitu putri cantiknya mencium tangan serta memeluk lelaki yang baru memasuki rumahnya itu.


" Oh ini, Aku engga sengaja jatuh di kamar mandi Pa " sahut Rena memegang bekas luka pada pelipisnya diiringi tatapan Dimas di sampingnya.


" Papa duduk dulu ya " tambah Rena menuntun Erwin duduk di sofa panjang bersama dengan Teddy juga Dedrick yang sudah menyapanya lebih dulu.


" Aku buatkan minum dulu ya Pa " seru kembali Rena beranjak untuk pergi ke dapur namun ditahan oleh Papanya.


" Papa sudah minum nak, Papa datang jauh jauh bukan untuk minum tapi mau mendengar penjelasan suami Kamu tentang ini " ucap Erwin sinis dengan mengeluarkan ponsel berisi foto juga rekaman yang Ia minta dari pengacaranya begitu sampai di bandara.


Semua orang di ruangan tersebut amat terkejut melihat Erwin sudah memiliki semua bahkan sebelum mereka sempat mengatakan apapun. Meski putrinya sudah melarang untuk mencari tahu sendir, namun rasa penasaran Pria yang sudah menahan segala amarahnya selama perjalanan itu tidak bisa menunggu lagi untuk mengetahui apa yang terjadi hingga langsung menghubungi pengacara pribadinya.


" Pa, Aku bisa jelaskan semuanya. Ini benar mas Dimas tapi se...." ucap Rena terpotong karena isyarat tangan Erwin memintanya untuk berhenti dengan tatapan tertuju tajam pada lelaki yang sudah di genggam tangannya oleh istrinya.


Dengan menarik napasnya dalam, Dimas memulai untuk cerita segala kejadian tentang penjebakan Ana dengan rinci tanpa menambah ataupun mengurangi sedikitpun semua kejadian yang Ia alami. Bahkan Ia juga mengaku jika luka pada pelipis istrinya karena perbuatan kasarnya sepulang dari Belanda yang sontak mengejutkan semua orang karena Dimas selalu terlihat begitu menyayangi keluarganya.

__ADS_1


Perasaan kecewa Dedrick juga Teddy mereka luapkan melalui kata kata juga tingkah laku yang langsung mendaratkan tamparan keras pada wajah Dimas oleh Dedrick tak menyangka jika cucunya mampu berbuat seperti itu. Tamparan yang dilayangkan pada lelaki yang masih duduk di atas sofa itu langsung memecahkan tangis Rena yang memohon agar tak memperlakukan suaminya dengan emosi karena semua yang terjadi juga atas kesalahannya.


Dengan emosi sudah memuncak mendengar semua pengakuan menantunya, Erwin beranjak dan menarik keras tangan Rena yang kini masih mendekap kepala suami yang menunjukkan rasa bersalah amat dalam.


" Rena bawa Brian pergi dari sini, kalian ikut Papa ! " tegas Erwin penuh emosi menarik tangan putrinya yang di tahan oleh Dimas dan beranjak dari duduknya.


" Jangan bawa anak sama istri Aku Pa, Aku mohon kasih Aku satu kesempatan " pinta Dimas seraya memohon dengan wajah begitu diliputi rasa takut mengingat semua kejadian waktu istrinya di bawa pergi dengan paksa beberapa tahun lalu.


Tanpa mendengar perkataan menantunya, dengan keras Erwin menyeret putrinya menuju ke arah pintu dan dengan cepat di kejar oleh Dimas yang langsung bersimpuh memegang kaki Erwin agar tak pergi diiringi tatapan istri yang sudah penuh dengan air mata tak tega melihat suaminya memohon.


" Jangan bawa Rena Pa, Aku mohon. Hukum Aku apapun tapi jangan pisahkan Kami " seru Dimas memohon dengan menitika air mata.


" Mas! " teriak Rena menghampiri suaminya.


" Jangan pergi, Aku mohon jangan tinggalkan Aku " pinta Dimas begitu tulus pada istrinya.


" Aku engga akan pergi mas " sahut Rena memeluk suaminya dengan air mata yang sudah sama sama mereka tumpahkan.


" Rena ! apa Kamu masih mau tinggal dengan laki laki seperti ini ?! Dengar Papa, orang yang sudah pernah menikmati tubuh perempuan lain dan berbuat kasar tidak akan pernah berubah sampai kapanpun ! Papa engga akan biarkan Kamu tinggal lagi di sini untuk menderita ! " tegas Erwin menarik paksa putrinya agar melepaskan pelukan pada suami yang malah Ia eratkan.

__ADS_1


" Engga Pa, mas Dimas engga akan pernah lakukan itu lagi. Aku engga mau pergi " ucap Rena mengeratkan pelukan pada kepala suami yang Ia sandarkan pada dadanya.


" Erwin, kasih mereka satu kesempatan lagi " pinta Teddy tak tega melihat anak juga anak menantunya.


" Engga ! Kita pergi sekarang ! " bentak Erwin kuat menarik lengan putrinya.


" Papa Aku hamil ! " teriak Rena mengejutkan semua orang termasuk suaminya.


" Apa Kamu bilang ?" tanya Erwin tak percaya.


" Aku hamil Pa, apa Papa tega lihat Aku harus melahirkan tanpa suami lagi ? apa Papa tega anak Aku tidak memiliki kasih sayang Papinya seperti Brian ? " tanya Rena penuh air mata melemahkan seketika tubuh Erwin hingga melepaskan lengan putrinya.


" Kamu hamil ?" lirih Dimas menatap istrinya tak percaya.


" Aku mohon biarkan Aku mengandung dan melahirkan dengan di dampingi suamiku Pa. Kasih satu kesempatan untuk Aku juga mas Dimas " pinta Rena seraya memohon masih tetap bersimpu di atas lantai sambil memegang tangan Erwin dengan kedua tangannya.


" Kamu benar benar licik Dimas, Kamu menyakiti putriku dan membuatnya harus bertahan karena mengandung anak Kamu " seru Erwin dalam dilema amat besar.


Ia tak ingin membuat putrinya menderita seperti saat mengandung Brian, namun juga tak ingin putrinya tinggal dan bertahan bersama laki laki yang mungkin akan mengulangi hal yang sama nanti dan membuat putrinya sangat menderita.

__ADS_1


__ADS_2