Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 176


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Sore hari, sengaja Natalie mengajak kedua menantu juga du cucunya berjalan jalan untuk membeli keperluan bagi kedua calon cucunya. Walaupun sudah banyak barang di beli, namun wanita yang selalu mengenakan celana selutut itu tak pernah merasa cukup.


Bahkan Dimas dan Tyo sama sekali tak bisa membeli apapun untuk calon anak mereka, karena semua sudah di sediakan oleh Mama nya. Untuk pakaian hamil saja, Natalie sendiri yang membelikan. Meski memang hobi Natalie berbelanja, namun menurut kedua anak juga kedua menantunya semua sudah berlebihan karena kamar bayi yang mereka sediakan hampir tak cukup lagi untuk menampung.


Rena dan Siska tak berani untuk memprotes mertua yang begitu terlihat bahagia dan antusias, dalam menyambut kedua calon anggota keluarga barunya. Mereka hanya bisa menuruti apapun yang diinginkan mertuanya, dan menerima segala pemberian wanita yang tak pernah telat merawat tubuh juga wajahnya itu.


Sebuah toko perlengkapan bayi di lantai dasar mall, sudah mereka masuki dengan hanya menempuh jarak kurang dari satu jam. Tanpa membiarkan Brian dan Aulia menjauh. Natalie meminta kedua cucunya untuk selalu berada di kedua sisi tubuhnya. Sementara dirinya sibuk memilih sepatu juga pakaian bayi.


" Nenek, Adiknya kan cuma dua. Kenapa beli bajunya banyak banget sih? " polos Aulia melihat almari milik calon Adiknya di rumah sudah begitu penuh.


" Kan Adiknya pasti berkeringat Auli dan juga ngompol " santai Natalie membuka lipatan baju bayi panjang berwarna putih, untuk Ia lihat dengan seksama bahan dan modelnya.


" Udah Kamu mending bantu Nenek cari buat Adik deh, tapi jangan warna pink sama merah ya kan belum tahu Adiknya cewek apa cowok " tambah wanita dengan wajah selalu segar dan cantik itu..


Aulia hanya menaikkan kedua bahu dan berlalu pergi ke arah kaos kaki juga sepatu. Matanya mulai mencari cari warna dan model lucu untuk kedua calon Adiknya, sementara Rena dan Siska sudah diminta duduk oleh Natalie hanya melihat saja sambil tersenyum, walaupun benar benar segan dan tak enak membiarkan mertuanya sibuk sendiri.


Ponsel Rena panggilan dari Dimas, segera Ia angkat karena Dia dan Adiknya sudah berada di parkiran mall. Keduanya sengaja meminta ijin sebelum pergi, namun tak menyangka jika suami suami mereka akan menyusul. Rena dan Siska meminta ijin pada Natalie untuk menunggu suami suami mereka di tempat yang mudah di lihat.


Cukup sebentar menunggu, mata keduanya sudah melihat ke arah kedua lelaki yang tersenyum dalam setelan pakaian kerja. Wajah tampan keduanya, mengembangkan senyum kedua perempuan yang sama sama memegangi perut bawah mereka masing masing.

__ADS_1


Tanpa melihat dimana pun mereka berada, Kakak beradik yang tengah memenuhi perasaan mereka dengan cinta pada istrinya, tak segan untuk langsung mencium istri mereka masing masing di depan umum.


" Mas " protes Rena ketika bibir suaminya turun dari kening ke bibir.


" Kenapa sih? " tanya Dimas ketika tubuhnya sedikit terdorong oleh istrinya dan bingung.


" Tempat umum main cium cium aja sih, engga enak kelihatan orang " protes kembali istri yang mencoba mengingatkan suaminya dimana mereka berada saat ini.


" Biarin aja, kalau ada yang protes tinggal dipukul aja tuh mulutnya pakai buku nikah " santai Dimas tersenyum mengangkat kedua alisnya.


" Wah bener tuh mas, boleh di coba " sahut Tyo ikut ikutan mencium bibir istrinya.


" Iya Dek, jadi engga berasa ya " senyum genit Dimas melirik ke arah istrinya, yang mengerti apa ucapan suami mesumnya itu.


Cubitan kecil langsung di daratkan Siska juga Rena pada perut suami mereka, karena memahami betul apa maksud dari arah pembicaraan keduanya. Senyum dikembangkan Dimas dan Tyo lalu sama sama melingkarkan tangan pada pinggang istri mereka, berjalan ke tempat dimana Natalie masih sibuk memilih bersama Aulia dan Brian.


Lelaki berparas tampan tersebut langsung mencium tangan Mamanya, serta mencium pipi wanita yang selalu menunjukkan senyum setiap hari. Tak seperti dulu, jangankan untuk tersenyum dan bicara lembut, Natalie bahkan tak pernah ingin melihat wajah lawan bicaranya karena sifat angkuhnya.


" Udah Ma? " tanya Dimas sudah bersama kedua anaknya.


" Sebentar lagi ya, Kalian bantuin dong biar cepat " jawab Natalie sudah memenuhi tas belanja namun merasa belum cukup juga.

__ADS_1


" Oke " singkat keduanya dan berlalu pergi bersama istri mereka masing masing.


Dimas bersama Brian juga istrinya mulai memilih milih, begitu juga Tyo dan Siska. Sementara Aulia tertahan oleh Natalie karena tak ingin sendirian di pusat perbelanjaan, dan hanya bisa dituruti oleh gadis dengan rok pendek putih serta kaos pink tersebut.


" Ini sih bikin Papinya yang mudah, bukan anaknya " celetuk Dimas melihat bra menyusui, yang langsung ditarik Rena karena malu dan diletakkan kembali pada tempatnya.


" Mas, Kamu ini ya banyak orang kok malah di angkat angkat kaya gitu. Kamu cari lainnya aja deh " protes Rena dengan wajah sudah memerah malah membuat Dimas cengengesan, meletakkan kepala di bahu istri yang sudah memunggunginya karena malu.


" Beli aja ya sayang, di pakai sekarang juga engga apa apa " goda Dimas tahu jika Rena sudah sangat malu. dan semakin gencar menggoda dan merayu dari balik tubuh istrinya.


" Mas, Kamu tuh ya " bergidik Rena dan berlalu pergi meninggalkan suaminya yang tetap cengengesan sendiri.


" Anak udah banyak masih malu malu aja, gemesin banget sih. Engga hamil udah habis Kamu " senyum Dimas menggigit bibir bawah melihat perempuan dengan rambut panjang terikat setengah di hadapannya.


Wajah memerah juga malu malu Rena, tetap menjadi daya tarik bagi suaminya yang suka menggoda dengan ucapan ucapan nakal. Terlebih ketika istrinya mulai bergidik karena ucapan mengarah ke hal sensual yang Ia lontarkan.


Tak ada bedanya dengan Kakaknya, Tyo juga sama sama suka menggoda istrinya. Bahkan lelaki cengengesan tersebut lebih gila dari Kakaknya, saat menggoda istri tercinta. Tak jarang godaan yang Ia lontarkan juga membuat dirinya berhasrat sendiri hingga berakhir dengan sesuatu hal yang panas.


Dua jam sudah Natalie berbelanja dan menjadikan kedua anaknya sebagai pembawa barang, sementara dirinya berjalan mendahului dengan kedua cucu dan menantunya. Keinginan untuk bisa berjalan dengan istri mereka, langsung dihancurkan sesaat ketika banyaknya tas belanja harus mereka bawa menggunakan kedua tangan mereka.


Walaupun menggerutu. namun Tyo dan Dimas terus mengikuti langkah Mamanya yang menuju ke sebuah counter penjual mainan bayi. Dan lagi lagi membuat kedua lelaki tersebut membuang napas kasar, karena pasti akan disuruh untuk membawa lagi belanjaan. Mereka tak pernah suka jika di ajak belanja, dan kalaupun harus belanja selalu mengajak asisten rumah tangga untuk menemani istri mereka. Sedangkan Dimas ataupun Tyo lebih memilih untuk menunggu di sebuah food court, jika tak terpaksa karena istri yang mengomel dan mengharuskan menemani berkeliling.

__ADS_1


__ADS_2