Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 184


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Mengingat istrinya juga akan melahirkan, dan dirinya akan berada di posisi sama seperti Adiknya, Dimas pun mulai mencari tahu tentang bagaimana proses melahirkan dan apa yang harus Ia lakukan di dalam ketika istrinya melahirkan.


Banyak sekali pertanyaan mulai bersarang pada kepala laki laki yang tak henti bergelayut pada pundak istrinya manja itu. Seakan semua harus terjawab hari ini juga, agar nanti saat Rena melahirkan Dia bisa benar benar bersiap.


Melihat Adiknya tak berdaya tadi sewaktu di angkat perawat, cukup membuat Dimas bergidik membayangkan berapa banyak darah yang akan keluar Bahkan hingga saat ini Dia sendiri belum bisa mengatasi rasa takutnya. Walaupun banyak video coba ditonton, tetap membuat nyalinya memciut.


Merasa mungkin akan mengalami nasib sama dengan Adiknya, Dimas mulai maju mundur untuk menemani istrinya ketika melahirkan. Namun tetap harus berusaha membulatkan tekad karena Ia juga ingin tahu, ingin menjadi bagian dari peristiwa paling berarti dalam hidup rumah tangga nya.


" Kamu tadi di dalam ngapain aja Dek? waktu Siska lahiran Kamu ngapain? " penasaran Dimas ingin mulai belajar akan sikapnya nanti.


" Ya engga ngapa ngapain mas, cuma pengangin tangan Siska aja sama bilang kuat ya sayang, gitu " sahut Tyo memang hanya bisa melakukan hal itu, dan membuat keluarganya tersenyum aneh.


" Gitu doang? engga ngapa ngapain? cuma kuat sayang aja? " tak percaya Dimas bahkan tak terpikirkan jika hanya semudah itu.


" Itu karena Kamu nya jadi suami engga peka Tyo " celetuk Natalie menggelengkan kepala sembari membuang napas panjang.


" La terus mau ngapain lagi Ma, orang di dalam udah ada perawat sama Dokter. Masa iya Aku mau gantiin Dokter bantuin anak Aku lahir " panjang lebar Tyo membela diri, makin membuat keluarganya iba akan nasib Siska memiliki suami seperti Tyo.

__ADS_1


" Sabar ya Nak " seru Natalie mengusap lembut lengan Siska yang tersenyum.


Mendengar ucapan Tyo meyakinkan Dimas jika memang tak ada yang perlu ditakutkan kecuali darah. Tapi ayah tampan tersebut juga tak begitu yakin akan jawaban dari Adiknya yang suka bercanda dan jarang serius.


" Sakit engga Sis ngelahirin? " tanya kembali Dimas pada Adik iparnya yang masih terbaring.


" Ya sakit Mas, mba Rena juga kan sudah pernah " jelas Siska baru merasakan sakit begitu hebat ketika proses pembukaan hingga melahirkan buah hati pertamanya bersama Tyo.


" Sakit lah Mas, bayangin aja nih punya Kita segini terus kepala bayi segini, gimana tuh sakitnya? orang pertama kali aja keluar darah padahal cuma kemasukan benda satu genggam, tapi meringis sakitnya bikin engga tega lanjutin " celetuk asal laki laki masih duduk di atas ranjang tersebut, memainkan tangan yang Ia kepal dan Ia buka kembali membentuk lingkaran kepala bayi, sontak mendapat pukulan keras Natalie dan Alena bersamaan.


" Ini anak emang ya kalau ngomong engga ada remnya kaya Auli" gerutu Dimas.


" Tapi bener juga " tambah kembali lelaki dengan fantasi liar dikepalanya, terbahak bersama Tyo lalu menyatukan tangan bertos ria.


Dengan memaksakan senyum, Rena sudah merah padam bersama Siska akan ucapan yang dilontarkan suami mereka masing masing. Dimas dan Tyo ketika bersama memang selalu bercanda tanpa batas, terkadang harus terpaksa ditinggalkan oleh istri istri mereka karena malu sendiri.


" Punya anak dua duanya engga tahu malu banget " gumam lirih Natalie menggelengkan kepala.


" Gitu gitu juga anak Kamu Ma " sahut Teddy tersenyum, mendengar ucapan istrinya walau pelan.

__ADS_1


" Anak Kamu Pa! kalau pas engga tahu malu gini anak Kamu, kalau baik baru anak Aku " celetuk Natalie masih tak habis pikir akan kelakuan dua anaknya ketika bersama, meskipun baru selama kehamilan menantunya bisa menyaksikan kegilaan keduanya ketika dewasa.


Pasalnya Dimas selalu terlihat dingin dan tak perduli selama ini, tapi selama Natalie tinggal bersama anak anak juga para menantunya, Ia baru menyadari sisi lain Dimas. Namun untuk Tyo memang sudah dari dulu sangat dihapal jika memang putranya doyan bercanda dan konyol pada siapapun.


" Tyo, engga pengen tahu anaknya dimana ya? " tanya Alena karena sedari tadi menantunya tak sekalipun bertanya akan keberadaan putri pertamanya.


" Oh iya, anak Kita dimana sayang? sehat kan? kok engga di bawa kesini? harusnya kalau sehat pasti sudah di antar kesini kan? " tanya Tyo beruntun hampir melupakan jika kini dirinya sudah menjadi seorang Ayah, karena saking asiknya bercanda dengan Kakaknya.


" Udah lah sayang, engga usah nanya " jengkel Siska karena suaminya baru bertanya.


" Lah sayang jangan marah dong, Aku beneran nanya ini anak Kita baik aja kan? " gusar seorang Ayah baru tersebut menatap istrinya.


" Sehat Tyo tapi masih di ambil foto kata Dokter, nanti juga di bawa kesini. Makanya kalau udah sadar pingsan langsung nemenin istri bukan lanjut tidur sama Kakak Kamu" panjang lebar Teddy, membuat putra keduanya tersenyum sambil menggaruk tengkuk.


Terasa lega mendengar perkataan Papanya, Tyo memilih untuk lebih dulu membersihkan diri sebelum nanti putri mereka diantarkan ke kamar oleh perawat. Sementara Dimas mengajak putranya keluar mencari makan untuk semua orang, usai dirinya mencuci muka karena akan pulang lebih dulu untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Karena merasa jika kamar mandi pasien terlalu bau obat hingga membuatnya mual.


" Nak, sini ikut Mama duduk jangan berdiri terus pinggang Kamu sakit " lembut Natalie menuntun menantunya duduk di sebuah sofa dalam ruangan.


Perlahan Natalie menuntun menantunya duduk, dan langsung membantu mengusap lembut pinggang Rena. Memang sering kali Rena merasakan sakit teramat pada punggungnya, dan harus membuat suaminya rela terus mengusap setiap hari.

__ADS_1


Sedangkan Dimas sudah beberapa kali juga merasakan hal sama seperti istrinya, terkadang juga perut terasa mulas tanpa alasan. Rasa mual juga keinginan memakan makanan apapun masih tetap di rasakan oleh suami setia tersebut, namun tak seperti dulu yang setiap hari terjadi.


Hingga dirinya merasa jika masalah kesehatan mulai timbul akibat gaya hidup yang Ia jalani selama kehamilan istrinya, sampai terkadang merasa mulas dan sakit pinggang tanpa diketahui pasti kejelasan penyebabnya. Namun sakit pinggang dan mulas hanya terjadi beberapa detik saja, tak membuatnya menceritakan pada istrinya karena takut jika nanti akan membuat kekhawatiran.


__ADS_2