Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyat 195


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Malam hari, masih dengan Sandra yang belum juga di jemput oleh Tyo, Dimas sekeluarga menikmati acara kebersamaan mereka di ruang TV. Aulia dan Brian asik bermain play station, sedangkan Dinda, Rendi dan Sandra memilih bermain dengan permainan mereka sendiri.


Dimas Dan Rena sudah duduk di sofa bed panjang ruang TV dengan anak anak juga keponakannya. Rendi yang awalnya ogah ogahan bermain dengan Sandra, kini sudah terlihay santai dan menikmati walau tak ingin berbicara kardna sifat dinginnya. Dimas memang mengijinkan mereka bermain, karena masih masa liburan.


" Eh lihat deh ada cicak tawuran " celetuk Dimas duduk di samping istrinya.


" Mana Pi? " tanya Rendi ke arah Papinya.


" Tuh di atas, lihat ke atas deh tuh dekat meja makan " seru Dimas menunjuk dan langsung membuat kelimanya menoleh ke arah dimana Dimas menunjuk.


Begitu mengetahui semuanya tengah mencari dimana cicak yang di maksud, langsung saja bibir Dimas mengecup lembut bibir istrinya sedikit lama sampai terpaksa harus di dorong Rena. Mata Rena memercing beriringan bibir bawah Ia gigit, senyum genit juga bahu terangkat ditunjukkan Dimas yang tengah merasa puas bisa mengerjai kelima anak kecil di ruangan tersebut.


" Papi bohong ya? " celetuk Dinda ke arah Papinya.


" Engga ada ya? udah ditangkap polisi kali gara gara tawuran " santai Dimas tak berekspresi, membuat istrinya tersenyum.


" Kamar yuk " ajak Dimas berbisik.


" Engga mau " singkat Rena menggelengkan kepala seraya memalingkan wajah melihat ke arah Dinda di sampingnya.


" Jahat banget " gerutu Dimas kembali membuat istrinya tersenyum.


Terdengar suara mobil Tyo masuk ke dalam halaman rumah, dan tak di pedulikan oleh Dimas yang masih menciba merayu istrinya.


" Pricess Papa, Papa coming " ucap Tyo berjalan memasuki rumah Kakaknya.


" Pakai pembatu dong mas, tiap kali kesini masa Aku buka tutup pagar sendiri sih " gerutu Tyo pada Kakaknya, sudah berdiri di samping pria yang tak melihatnya.


" Duduk Dek, mba buatin minum dulu " lembut Rena beranjak dari duduk, di tarik oleh suaminya.

__ADS_1


" Engga usah, nanti lama lagi Dia nunggu minumnya habis " ucap Dimas menahan istrinya pergi.


" Mas jahat banget sama Adek sendiri " gerutu Tyo mendorong tubuh samping Kakaknya.


" Papa, you know what? dari tadi itu Papi jahat banget sama inces " ucap Sandra memainkan tangan layaknya bermain piano, dengan bibir maju maju dan mata bermain.


" Kamu mah pantas di jahati, siapa yang engga jengkel lihat Kamu kaya gitu? Papa aja nahan bangey selama ini " sahut Tyo, di tertawakan Dimas juga Rena serta anak anaknya.


" Papa, Akiu bilangin Nenek ya ngomong kaya gitu sama inces " ucap Sandra masih dengan tingkaj sama lalu melipat kedua tangan.


" Aku! Akiu Akiu, Aki apa?! belajar bahasa indonesia yang baik dulu sana baru ngomong " celetuk Tyo selalu menyela ucapan putrinya setiap hari.


" Amit amit, amit amit " ucap Dimas mengetuk sandaran sofa dan beralih ke keningnya melihat Sandra.


" Mami, engga ada yang sayang sama Akiu. Hati Akiu sakit Mami " memelas Sandra memeluk Rena yang tersenyum mengusap rambutnya.


" Sayang nya Mami kok ini ya " lembut Rena memeluk Sandra, mendapat protes keras Dinda.


" Tuh kan Mi " manja kembali Sandra.


Melihat Sandra, Tyo dan Dimas sama sama bergidik jijik. Tyo sudah duduk di sandaran tangan sofa, terus memperhatikan putrinya. Setiap hari juga Sandra selalu drama ketika di rumah, ketika Siska menggendong Keno yang masih berusia empat bulan.


" Mas, ambil deh kali aja pengen anak lagi " celetuk Tyo ke arah Kakaknya.


" Gratis juga engga mau mas Dek, daripada stres sendiri " sahut lelaki dengan kaki melipat dan punggung bersandar tersebut.


" Rendi, mau tukar jadi anak Om gak? " celetuk Tyo ke arah keponakannya.


" Engga mau, gantengan Papi sama Om " sahut Rendi di tertawakan Dimas dan mengulurkan tangan ke arah putranya ber high five dalam tawa.


" Enak dong Om ada Sandra di rumah, engga pernah sepi tiap hari " seru Aulia dengan mata tertuju pada layar TV.

__ADS_1


" Emang bener engga pernah sepi, sampai Mamanya ngeluh gara gara Keno engga bisa tidur " sahut Tyo.


Terkadang memang rasa ingin tahu jug cerewetnya Sandra selalu membuat Siska sendiri lelah menjawab. Apalagi ketika tak di jawab dan mulai berlebihan, tak jarang membangunkan Adiknya yang tengah terlelap. Hingga membuat Tyo harus repot menidurkan Keno yang selalu sulit untuk memulai tidur.


" Brian, ganti Om sini " ucap Tyo duduk di samping Brian merebut stik yang masih di pegang Brian.


" Lah Om, kan belum selesai " protes Brian harus kalah.


" Pulang sana, malah mainan. Bayar listrik mahal tahu gak " celetuk Dimas pada Adiknya.


" Udah anak anak Aku jagain, Mas ke kamar aja sama Mba " sahut santai Tyo sempat melihat tingkah manja Kakaknya ketika baru masuk rumah.


" Cerdas, ayo sayang kerokin gih masuk angin nih " kilah Dimas tersenyum.


" Dinda kerokin Pi " celetuk Dinda cepat menacungkan jari telunjuk ke atas.


" Akiu juga Pi " tambah Sandra juga mengacungkan jari.


" Dinda, Sandra, Papi itu kerokannya lain. Kalian engga bisa jadi biar Mami aja yang kerokin " seru Tyo sudah mulai bertanding dengan Aulia.


" Lama banget sih? buruan keburu ikut semua nanti " seru Dimas sudah berdiri menarik tangan istrinya.


" Mas, engga malu banget sih? " ucap Rena menatap ke arah suaminya.


" Udah ngebet kali sayang, masa mikir malu sih? " sahuy Dimas menarik istrinya kembali dan berjalan ke arah kamar berdua.


Semenjak adanya anak mereka, Dimas selalu kekurangn waktu bersama istrinya. Karena Dinda selalu tidur bersama dengan kedua orang tuanya dan bergilir bersama lainnya setiap hari. Saking jengkelnya, terkadang Dimas malah cepat menutup pintu kamar sebelum salah satu anaknya masuk.


Aulia memang menjadwalkan untuk bisa bergantian tidur bersama kedua orang tuanya. Bahkan Aulia yang sudah besar juga masih suka tidur bersama Dimas ataupun Rena, karena memang keduanya tak. pernah berubah memperlakukan Aulia walau sudah besar.


Mereka tak mau Aulia menjadi tersingkir dengan adanya ketiga Adiknya. Lagipula sikap manja Aulia dari kecil, masih tak ingin dilepaskan begitu saja oleh seorang Mami yang selalu memperlakukan semua anaknya seperti anak kecil. Bagi Rena, berapapun usia anaknya, mereka tetaplah anak kecil di mata orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2