Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 22


__ADS_3

STOP PLAGIAT, HARGAI KERJA KERAS SAYA JUGA KELUARGA SAYA SELAKU PEMILIK KISAH.


Dimas yang masih tertidur di kamar dengan tubuh hanya berbalut selimut, mulai menggerakkan tangannya ke samping. Mencari cari keberadaan Rena, namun tidak dirasakan keberadaan perempuan telah memberikan harta berharganya semalam itu di sampingnya.


Lelaki masih dalam selimut tersebut, mulai membuka mata perlahan untuk melihat disekitar kamar, namun tak bisa menemukan istrinya di kamar. Ia bangkit dari tidur dan meraih celana piyama panjang yang terdapat di sofa samping ranjang. Dimas duduk di tepi ranjang untuk meminum segelas air putih yang selalu Rena sediakan di meja samping tempat tidur Dimas setiap malam. Karena memang Dimas setiap membuka mata akan selalu langsung meminum air putih terlebih dahulu.


Setelah meminum air di gelas nya sampai habis, ia berdiri untuk mengenakan kimono piyama senada dengan celana piyama sudah dikenakan lebih dulu. Usai membalut dada bidang nya, lelaki tengah mengumpulkan nyawa sepenuhnya, melangkahkan kaki keluar kamar dan mulai menuruni anak tangga. Setelah mencuci muka dan menggosok gigi lebih dulu di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


"Bi Ijah lihat Rena?" tanya Dimas pada Bi Ijah yang sedang membersihkan ruang TV.


"Lihat, Pak. Ibu sedang menyiram tanaman di taman depan," sahut Bi Ijah sopan.


"Perlu Bibi panggilkan, Pak ?" tambah Bi Ijah lagi pada Dimas yang tengah menuruni anak tangga.


"Engga usah, Bibi lanjut pekerjaan Bibi saja. Aku ke taman lihat Rena," sahut Dimas berjalan ke arah depan rumah hanya mengenakan piyama tidur.


"Baik, Pak." Pungkas Bi Ijah, melanjutkan kembali kegiatannya.


Berjalan keluar rumah, tersenyum mengenang yang telah terjadi. Begitu sampai di teras rumah, dilihat seorang perempuan tengah mengenakan daster setinggi lutut membalut tubuh putih bersihnya, dengan rambut tergulung ke atas memperlihatkan leher jenjang mulus, sedang asik menyirami bunga di taman. Santai memegang sebuah selang air panjang berwarna biru muda, terlihat cantik meski sederhana. Dimas tersenyum, bergegas melangkah mendekati istrinya.


"Kenapa kamu ninggalin Aku di kamar sendirian?" tanya Dimas memeluk tubuh Rena dari belakang dan meletakkan wajahnya bertumpu pada pundak perempuan tak mengetahui kehadirannya, sontak saja langsung membuat Rena kaget bukan main.

__ADS_1


"Kamu masih tidur jadi aku engga tega bangunin kamu, Mas." Sahut Rena gugup dengan posisi suaminya sekarang.


"Aku cari kamu tau engga, Aku pikir bisa lihat wajah Kamu pertama kali aku bangun pagi ini," seru Dimas lembut di samping wajah istrinya.


"Mas, jangan gini nanti ada yang lihat kan malu!" ucap Rena bergidik geli karena Dimas mencium leher jenjangnya, tanpa perduli tempat.


"Engga apa apa kan sudah nikah," santai lelaki yang masih menciumi leher jenjang Rena dan semakin mengeratkan pelukan di perut istrinya.


"Geli, Mas." Pekik Rena merasa geli dengan sentuhan bibir lembut Dimas di leher beriringan napas terasa hangat.


Dimas yang biasanya terlihat dingin dan cuek pada Rena, pagi itu menjadi sangat manja menggantikan putrinya. Ia masih saja terus menempel pada istrinya yang tengah menyirami tanaman, seolah tak ingin lagi terpisah.


"Maaf, Pak," terdengar suara Bi Ijah dari arah samping kedua orang masih tetap lengket.


"Tunggu, Bi. Ada apa?" tanya Dimas santai sambil memasukkan kedua tangan dalam saku kimono.


"Maaf, Pak. Saya engga tahu kalau bapak__" ucap Bi Ijah tidak berani melanjutkan perkataan.


"Engga apa apa, Bi. Kenapa ngomong aja," jawab Dimas tersenyum agar Bi Ijah tidak merasa bersalah karena datang tiba tiba di saat ia bermanja pada istrinya.


"Ehm, ini Pak. Ibu sama Bapak mau di buatkan sarapan apa ya?" tanya Bi Ijah sedikit gugup.

__ADS_1


"Terserah Ibu aja, Bi" Jawab Dimas sembari menatap wajah istrinya yang tertunduk.


"Saya bantu masak, Bi. Tunggu sebentar," sahut Rena sambil meletakkan selang air di tanah.


"Engga boleh masak, tangan Kamu baru sembuh. Nanti kalau sudah benar benar pulih baru Kamu boleh masak lagi!" cegah Dimas agar istrinya tidak melakukan kegiatan dapur dulu, karena takut jika istrinya tersiram air panas lagi.


"Aku mau masakin buat kamu, Mas." Rena menjawab dalam wajah berharap.


"Aku bilang engga ya engga!" sahut Dimas dingin dan tegas, amat tak menyukai adanya bantahan ketika berucap apapun.


"Iya. Mas." jawab Rena dengan menyunggingkan senyuman ke arah lelaki berekspresi masam di depannya.


"Ya udah Bibi masak yang ada aja ya, pasti kita makan kok." Sopan Rena pada Bi Ijah dengan senyum manis, yang membuat ia terlihat sangat cantik meski dengan wajah polos tanpa make up.


"Baik, Bu. Mari Pak, Bu!" pungkas bi Ijah meninggalkan kedua majikannya.


Bi Ijah kembali masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan sarapan majikannya. Tidak adanya Bi Lastri yang ikut serta ke Bali, membuat pekerjaan Bi Ijah bertambah dan bertanggung jawab penuh atas rumah. Walaupun Bi Lastri memang seorang baby sitter, tapi kehadirannya mampu meringankan pekerjaan Bi Ijah.


"Yaudah sekarang Kamu bantu Aku siapin baju ya, Aku harus berangkat kerja pagi ini." Dimas mendekat ke arah Rena, lebih dekat dari sebelumnya karena sempat menjauh ketika asisten rumah tangganya datang tiba tiba.


"Iya, Mas." sahut Rena sedikit canggung karena tingkah Dimas pagi ini benar benar baru pertama kali ia rasakan.

__ADS_1


Dimas menarik pinggang istrinya dan mengajak masuk ke dalam rumah, setelah mematikan saluran air yang berada di taman terlebih dahulu.


"Mas, aku bisa jalan sendiri. Malu kalau kelihatan Bi Ijah lagi," seru Rena sesekali menggigit tipis bibir bawah, dengan napas tidak bisa lancar seperti biasa. Namun Dimas tidak menghiraukan dan tersenyum sambil terus berjalan melingkarkan tangan di pinggangnya. Setiap tingkah juga ucapan Dimas, selalu berhasil membuat wajah Rena memerah beserta jantung berdegup kencang.


__ADS_2