
STOP PLAGIAT
" Mami " teriak Aulia pada seorang perempuan yang mengenakan daster pink menggendong anak laki laki berusia satu tahun.
Rena yang terkejut mendengar teriakan yang memanggilnya, menoleh ke arah sumber suara yang di dapatinya seorang anak mengenakan celana jeans panjang dengan tubuh kurus berlari ke arah nya.
" Mami ini Auli " seru Aulia yang membuat Rena terkejut dengan perubahan tubuh putrinya yang dulu gemuk.
" Sayang, mami kangen kamu. Kamu udah gede banget sekarang nak, mami sampai engga kenalin Kamu " seru Rena menangis dengan memeluk tubuh putrinya.
Dimas yang terhenti langkahnya di samping mobil yang Ia kendarai begitu mendengar putrinya berteriak memanggil mami dan berlari meninggalkannya. Mata Dimas berkaca kaca melihat adanya Rena memeluk Aulia sambil menggendong anak kecil. Hatinya yang terluka kembali Ia rasakan dengan debaran jantung tak menentu. Langkahnya yang berat coba Ia langkahkan terus untuk menghampiri wanita cantik dengan rambut di gulung ke atas tersebut.
Rena yang terkejut dengan berdirinya seorang laki laki di belakang Aulia melepaskan pelukannya pada putri yang masih Ia rindukan dan beranjak dari posisi jongkok untuk menyapa pria yang mengenakan kemeja hitam tersebut.
" Silahkan masuk " seru Rena tanpa menatap Dimas sama sekali karena luka yang belum sembuh akibat perceraian yang Dimas kirimkan untuk nya.
" Ini anak kita? " tanya Dimas menatap kearah anak kecil yang di gendong Rena, membuat Rena ingin menangis mendengar pertanyaan Dimas.
" Iya " singkat Rena memeluk putranya.
Dimas tak percaya dengan apa yang Ia lihat. Anak yang dulu masih berada dalam oerut Rena ketika mereka berpisah, kini sudah besar dan menggemaskan. Dimas menatap putranya dengan mata berkaca bahagia karena akhirnya Ia bisa bertemu dengan anak dan istrinya meski kini telah menjadi mantan istri. Ia meraih tubuh anak kecil itu dan menggendong dalam pelukan haru.
" Ini Papi sayang " seru Dimas mengeluarkan buliran air mata dengan mencium putra nya.
" Akhirnya Papi bisa ketemu Kamu nak " seru Dimas memeluk tubuh anak nya membuat Rena menangis sambil memalingkan wajah.
" Pa... pi... " seru anak kecil tersebut ke arah Dimas dan langsung dipeluknya erat dengan air mata yang mengalir.
" Iya sayang ini Papi, Papi Kamu " sahut Dimas tak kuasa menahan perasaan nya.
__ADS_1
" Brian, sini sama Mami sayang " ucap Rena meraih tubuh anak nya dari belakang yang meronta tak ingin terlepas dari gendongan Dimas.
" Apa namanya Brian? " tanya Dimas menatap ke arah wajah Rena yang semakin cantik.
" Iya " singkat Rena sambil berusaha mengangkat tubuh putranya yang melingkarkan tangan di tengkuk Dimas tak ingin di gendong oleh Rena.
" Biarkan dia sama Aku sebentar saja, dia juga anak Aku " ucap Dimas masih putranya.
Rena membiarkan Brian berada dalam pelukan Dimas karena bagaimanapun juga naluri anak dengan orang tua nya tak akan pernah bisa di bohongi, bagaimanapun juga Dimas adalah ayah biologis dari Brian dan Rena tak ingin memisahkan anak dari papi nya.
Erwin yang melihat kehadiran Dimas melalui jendela rumahnya menghampiri Dimas di luar dengan wajah tak enak lalu menegur pria yang terus mendekap anak kecil di pelukannya erat.
" Kenapa Kamu kemari? apa belum puas Kamu membuat anak Saya menderita? apa belum cukup dengan surat cerai yang Kamu kirimkan untuk anak Saya sampai Kamu harus datang memastikan penderitaan nya? " tegas Erwin dengan menahan suaranya karena banyak nya orang disana.
Dimas yang terkejut mendengar perkataan Erwin tak mengerti sama sekali dengan apa yang di ucapkan papa dari mantan istrinya karena yang Ia tahu adalah Rena yang tiba tiba mengirimkan surat putusan perceraian padanya.
" Omong kosong " singkat Erwin tak mempercayai perkataan Dimas.
" Saya berani bersumpah atas nyawa anak anak Saya, Saya tidak pernah mengirimkan surat cerai ke Rena bahkan Saya yang terkejut mendapat surat keputusan cerai yang di ajukan Rena" jelas Dimas dengan serius.
" Apa Kamu bercanda sekarang? " tanya Erwin yang tak mampu mengerti apapun karena Dimas berani bersumpah atas nyawa anak mereka yang Ia tahu jika Dimas sangat menyayangi anak mereka.
" Kamu yang ceraikan Aku, gimana bisa Kamu dapat surat dari gugatan Aku? " tanya Rena tak mengerti apapun dengan apa yang terjadi.
" Aku engga pernah ceraikan Kamu, Aku berani bersumpah bahkan demi nyawaku sekalipun karena memang Aku tidak pernah menceraikan Kamu, justru Kamu yang mengirim surat keputusan itu ke Aku. Kamu bisa tanya Tyo, Dia juga baca surat itu " jelas Dimas panjang lebar semakin membuat mereka bertiga tak memahami apa yang terjadi.
Erwin mengajak Rena dan Dimas untuk masuk ke kamar Rena karena tak enak jika sampai terdengar oleh pelayat yang datang. Dimas meninggalkan anak anak mereka bersama Dedrick, Siska dan Teddy sementara Tyo ikut bersama ketiganya menjadi saksi atas ucapan Dimas.
Dimas dan Tyo mulai menjelaskan apa yang dikatakan oleh Dimas dan kejadian dimana Dimas mendapat surat keputusan cerai atas gugatan Rena.
__ADS_1
" Aku engga pernah kirim itu " seru Rena mengejutkan Dimas dan Tyo.
" Apa mungkin ada yang berusaha memisahkan kalian? " tanya Erwin yang mulai menangkap kejadian yang menimpa anak dan menantunya.
" Mama " seru Dimas dan Tyo bersamaan dengan saling pandang yang begitu yakin jika itu adalah ulah Natalie dan semakin membuat Dimas membencinya.
" Sialan, Aku harus ketemu Mama! " gumam Dimas mengepalkan tangan dengan geram.
" Jangan gegabah, kita selidiki semua lebih dulu " pinta Erwin yang tak ingin membuat kesalahan lagi atas hidup putrinya.
" Pa, Papa percaya sama Aku, Aku engga pernah ceraikan Rena Pa. Gimana mungkin Aku ceraikan istri yang sedang mengandung anak Aku, Aku terlalu cinta sama Rena dan engga mungkin lakuin hal itu " ucap Dimas dengan sungguh sungguh meyakinkan Erwin.
" Maafkan Papa Dimas, kalau saja Papa tidak membawa Rena untuk memberi pelajaran pada Natalie mungkin kalian tidak akan seperti ini " ucap Erwin menepuk pundak Dimas yang berdiri di hadapan nya dengan menyesal.
" Engga Pa, ini semua salah Mama. Papa engga salah apapun, Kita sudah dipermainkan selama ini " ucap Dimas memeluk Erwin.
Rena yang tak menyangka jika Natalie sanggup melakukan hal itu, tak mampu mempercayai jika kehancuran hidupnya di buat oleh tangan orang yang telah melahirkan suaminya.
" Rena, Kamu percaya kan sama Aku? " tanya Dimas meraih tangan Rena yang duduk terdiam di atas tempat tidur.
" Aku masih tidak mengerti semua ini, kanapa mama melakukan hal itu " sahut Rena dengan tatapan tak percaya.
" Ren, pecaya sama Aku dan Kita bisa ulang semua dari awal sama anak anak Kita " pinta Dimas masih berjongkok di hadapan Rena sambil terus menggenggam tangan wanita yang masih sangat Ia cintai.
" Aku engga tahu harus ngomong apa, Aku " ucap Rena terputus karena mendengar suara tangisan Brian.
Rena segera berlari keluar menghampiri putranya meninggalkan Dimas, Tyo dan Erwin. Rena meraih Brian dari gendongan Siska mencoba menenangkan putra nya. Dimas, Tyo dan Erwin mulai mengikuti Rena keluar karena tangisan Brian yang bisa berhenti. Dimas meraih tubuh kecil Brian dan meletakkan di pelukannya sambil menepuk pelan punggung putra yang baru Ia temui tersebut. Sikap lembut Dimas mampu menenangkan Brian dalam waktu sekejap membuat semua keluarganya saling pandang melihat Brian begitu tenang dalam dekapan Dimas meski mereka baru saling bertemu.
Dimas membawa putra nya keluar untuk mencari udara segar karena mungkin putra nya menangis karena gerah. Rena mengikuti Dimas keluar sementara Aulia masih bersama Siska didalam. Semua mata yang memandang Dimas menggendong anaknya merasakan haru dan berharap jika kehidupan Dimas dan Rena akan membaik dengan berjalannya takdir yang mempertemukan mereka hari ini.
__ADS_1