
STOP PLAGIAT!
Tyo yang datang bersama Rian dengan sebuah hasil labolatorium Rumah Sakit tempat mereka mengujikan sisa obat yang di berikan pelayan meminta Dimas untuk ikut keluar bersama mereka. Rena tak ingin adanya hal di tutupi darinya ikut keluar bersama mereka meninggalkan Dedrick dan Teddy mencoba menangani Ana di ruangan Dimas.
Dengan ragu, Rian menjelaskan tentang hasil dari lab obat tersebut yang menyatakan jika obat tersebut adalah obat pembangkit gairah namun membuat orang yang meminumnya tak bisa mengingat apapun bahkan melakukan hal tersebut tanpa sadar seakan dirinya tengah tidur. Mendengar penjelasan Rian, Rena merasa seakan dunianya kembali runtuh begitu juga Dimas yang memang hanya mengingat jika dirinya tertidur tanpa menyentuh Ana sedikitpun.
" Apa maksud kalian Aku sudah menyentuh Dia secara tidak sadar? " tanya Dimas ragu dalam nada gemetar.
" Bisa jadi Pak, tapi Kami juga tidak tahu apa yang terjadi di dalan kamar karena Andre hanya mengantar Anda lalu pergi sehingga hanya Ana yang tahu " jelas Rian sudah menggali segala informasi yang di butuhkan bahkan dari Andre dan juga pelayan.
" Kita kembali ke ruangan saja biar cepat selesai dengan masalah Ana " ucap Rena menghentikan pembahasan yang tak sanggup lagi Ia terima hari ini.
Ketiga pria yang masih duduk di ruangan Andre tersebut menatap ke arah Rena yang masih bisa mengembangkan senyum meski matanya menyiratkan sebuah kesedihan teramat dalam. Kedua kaki yang sudah sangat lemas coba di langkahkan oleh Rena dengan menahan segala kehancuran juga air mata mendengar semua pernyataan Rian usai tadi melihat foto foto suami yang juga Ia lihat adanya tanda merah di dada Ana dalam foto yang Ia zoom.
Mata Dimas tak sanggup lagi melihat istrinya dalam kondisi seperti ini, dengan cepat Dimas berlari menahan tangan istrinya dan meminta Tyo juga Rian keluar memberikan waktu untuknya bicara pada istrinya.
" Sayang, maafin Aku. Aku engga tahu apa yang terjadi, Aku benar benar engga ingat apapun. Kalau sampai Aku sudah...." ucap Dimas tak sanggup melanjutkan perkataannya lagi.
__ADS_1
" Sebaiknya Kita ke ruangan Kamu mas " sahut Rena mencoba mengembangkan kembali senyum yang amat menyakitkan bagi suaminya.
" Kalau Kamu mau marah, Kamu marah sama Aku. Kalau mau nangis, Kamu nangis tapi tolong jangan siksa Aku dengan lihat Kamu seperti ini " pinta Dimas memeluk erat tubuh istri yang sudah tak bisa lagi mengeluarkan air matanya karena hati terlalu sakit Ia rasakan.
" Aki baik baik aja mas " ucap Rena tersenyum dan mengajak suaminya untuk segera pergi ke ruangannya kembali.
Rena bersama ketiga orang pria tersebut menghampiri Ana yang sudah duduk di sofa bersama dengan Dedrick juga Teddy. Mata Dimas tak henti menatap pada istri yang masih terus mengembangkan senyum bahkan ketika Ia menghadapi Ana kembali.
" Ana, sekarang pilihannya cuma 2. Kamu terima surat pemindahan ini atau Kamu akan Saya kirim ke penjara " ucap Rena tenang dengan menyerahkan dua surat ke hadapan Ana.
" Apa ini? Saya tidak melakukan hal ini!"tegas Ana dan dengan cepat Rena memanggil pelayan juga Andre ke dalam tak mengijinkan siapapun untuk ikut campur lagi.
Seorang pelayan menceritakan semua yang terjadi begitu juga Andre dan membuat Ana terpojok hingga mengakui semua yang dengan sengaja Rena merekamnya diam diam melalui ponsel yang sedari tadi sudah merekam semua pembicaraan mereka dari dalam tas yang masih enggan di lepaskan oleh Rena. Pengakuan Ana dalam balutan emosi membuat semua orang terlihat begitu geram, terlebih ketika Ia menjelaskan jika Dimas sudah melakukan hubungan itu bersama Ana dalam ketidak sadarannya.
Ana tetap pada pendiriannya jika Ia meminta lelaki yang menatapnya dengan tajam penuh amarah tersebut untuk bertanggung jawab, dan membuat Rena memutuskan semua dengan sepihak bahkan mengejutkan semua orang.
" Baik jadi Kamu tidak mau ini " seru Rena mengambil surat pemindahan yang Ia robek menjadi empat bagian dengan begitu tenang.
__ADS_1
Rena berjalan menuju meja kerja suaminya diiringi semua tatapan membulat padanya. Perempuan dengan begitu tenang menghubungi kantor polisi yang amat mengejutkan semua orang hingga terperanjat. Karena semua keluarga tak ingin berhubungan dengan polisi yang akan membuka informasi akan kejadian yang menimpa Ayah dua anak tersebut.
Perempuan yang masih berdiri di samping meja kerja suaminya juga menghubungi pengacara pribadi Papanya untuk menangani masalah yang menimpa suaminya tanpa meminta persetujuan dari siapapun.
" Ibu tidak bisa melakukan semua ini! " teriak Ana berjalan mendekat ke arah Rena yang sudah menutup sambungan telpon.
" Kenapa? Kamu sudah menjebak suami Saya dan semua bukti ini sudah cukup untum membuat Kamu di hukum, juga bukti pengakuan Kamu akan memperkuat semua bukti yang ada " jawab Rena begitu tenang dengan mengambil ponsel dari dalam tas nya dan mematikan rekaman yang sudah merekam semua dari awal hingga saat ini.
" Anda benar benar licik!" tegas Ana seraya berteriak mengangkat tangan hendak menampar Rena namun cepat di tahan oleh perempuan yang mencoba terus bersabar itu.
" Tidak Ana, jangan menambah kebodohan Kamu lagi. Kalau Kamu memukul Saya itu sudah bisa di kategorikan penganiayaan, apa Kamu mau hukuman Kamu terus berlipat? " ucap perempuan dengan mata tajam ke arah Ana tersebut dan menghempaskan kasar tangan Ana.
Semua orang di ruangan yang sudah diminta Rena tetap diam tanpa ikut campur terus menatap heran dengan semua yang Ibu dua anak itu lakukan dalam nada bicara begitu tenang tanpa sedikitpun emosi. Namun mendengar Rena menghubungi pengacara terhebat yang dimiliki Erwin, membuat semua keluarga merasakan takut jika sampai Erwin tahu lebih cepat tanpa adanya persiapan dari mereka dan bisa berakibat fatal bagi hubungan pernikahannya.
Rena sendiri sudah mempertimbangkan segalanya sebelum melakukan semuanya untuk melawan Ana. Ia sudah siap jika Papanya tahu, karena semua bukti yang menyatakan suaminya tak bersalah meski sudah melakukan hubungan terlarang bersama sekretaris yang menjebaknya sudah cukup untuk dipergunakan membela suami tercintanya di depan Erwin. Kemarahan mungkin akan meledak juga pemaksaan perpisahan, namun Ia yakin akan bisa meyakinkan Papanya sendiri.
Ajaran orang tua untuk selalu membela siapapun yang benar, memberikan Rena banyak kekuatan dalam melawan Ana sendirian. Semua yang terjadi memang amat melukai dirinya terlebih suami yang selalu manja dan memiliki gairah besar terhadapnya sudah melakukan hubungan badan dengan wanita lain. Namun mengingat kejadian tersebut terjadi saat perceraian mereka, Rena tetap berusaha memaafkan dan melupakan apa yang terjadi walau berat.
__ADS_1