Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 157


__ADS_3

Terimakasih buat yang masih mau baca ya.. Maaf bukan author marah kemarin, cuma memang baper aja gitu kesel udah bikin malah di protes terus, ngerasa dihina aja.


STOP PLAGIAT!


----------------------------------------------------------------


Setelah puas menikmati es krim, Dimas dan Rena melanjutkan kembali perjalanan mereka mencari tukang baso sayur langganan Rena di dekat kampus. Dalam perjalanan, Dimas tak henti meminta istrinya untuk menyuapi coklat karena tak rela menghentikan mulutnya menikmati manisnya coklat, meski sebelumnya tak pernah ingin Ia memakannya.


" Aku nyalain lagu boleh gak mas? sepi banget " ucap Rena terbiasa dengan suara berisik kedua anak nya ketika di dalam mobil.


" Boleh dong sayang " sahut Dimas masih mengecap coklat di mulut nya sembari terus mengemudi dalam kecepatan sedang.


Rena mengambil ponsel dalam tas kecil nya, dan menghubungkan pada tape mobil melalui Bluetooth. Ia memutar lagu yang sering di dengarnya bersama dua sahabat yang amat Ia rindukan saat ini. Sonya dan Andin bahkan tak pernah sempat menghubungi Rena karena kesibukan di kantor Erwin. Hanya sesekali melalui chat mereka terhubung, namun tak lama.


Dengan rasa rindunya, Rena mulai ikut bersenandung dengan lagu yang sudah Ia putar sambil terus menyuapi suami yang mendengarkan sambil mengembangkan senyum. Mata Dimas tak henti melirik istrinya, dengan wajah bahagia karena lagu begitu enak di nyanyikan Rena.


***jujur saja Ku tak mampu


hilangkan wajahmu di hatiku


meski malah mengganggu


hilangkan senyummu di mataku


ku sadari, aku cinta padamu...


meski ku bukan yang pertama


di hatimu tapi, cintaku terbaik untukmu


meski ku bukan bintang di langit


tapi cintaku yang terbaik

__ADS_1


jujur saja ku tak mampu


tuk pergi menjauh darimu


meski hatiku ragu


kau tak di sampingku setiap waktu


ku sadari, aku cinta padamu***...


" Aku juga sadar kalau cinta sama Kamu " goda Dimas mencium punggung tangan istri yang sudah Ia raih.


" Kok jadi senyum senyum sendiri? " heran Rena melihat suaminya mengemudi dengan terus mengembangkan senyum.


" Aku ge er sayang " celetuk lelaki dengan mata melirik penuh ekspresi wajah malu malu seperti ABG yang tengah jatuh cinta.


" Ya ampun mas, Kamu kok bisa gitu sih muka nya? " seru Rena bergidik geli sendiri melihat ekspresi suaminya.


" Bukan jijik mas, geli aja. Masa anak udah mau tiga masih malu malu kucing gitu kan geli Aku lihatnya " jelas perempuan yang memiringkan tubuh menghadap suaminya dengan tersenyum lebar.


" Iya ya, udah mau punya anak tiga tapi Kamu masih aja kelihatan kaya anak kuliah tiap hari makin cantik makin bikin jatuh cinta aja " ucap Dimas menatap lurus ke depan karena hampir mendekati lampu merah.


" Masa sih? beneran? " tanya Rena mengembangkan senyum seraya menggigit bibir bawah, dengan kepala menyandar pada jok menatap suaminya.


" Bohong lah " goda Dimas melihat ekspresi istrinya tersenyum dan secepatnya berubah jengkel.


" Nyebelin " gerutu Rena masih dalam posisi yang sama namun menundukkan pandangannya, tanpa meluhat jika suaminya tengah mengembangkan senyum begitu lebar dengan wajah gemas.


" Gemas deh " seru Dimas menarik hidung mancung istrinya dengan begitu gemas.


" Kok berhenti? masih di depan mas baso nya " ucap Rena ketika mobil mulai menepi.


" Mau cium Kamu, ngidam nya udah parah banget sayang " sahut Dimas langsung mengecup lembut bibir istrinya, dan menikmati sebentar.

__ADS_1


" Love you " lirih Dimas melepas bibirnya, namun tetap metakkan telapak tangan pada leher jenjang Rena dan menciumnya kembali sebelum mulai melajukan kendaraan.


" Love you too " jawab Rena melukiskan senyum bahagia di wajah yang mengarah pada suaminya.


Masih dengan senyum mereka, Dimas melajukan kembali mobilnya menuju sebuah tempat baso langganan istrinya sewaktu kuliah. Mata nya membulat ketika melihat rombong baso berwarna biru di dekat trotoar, dengan tikar di gelar di belakang abang baso berdiri tepat di atas trotoar.


Ia tak mempercayai matanya, jika seorang pengusaha juga desainer ternama yang hampir dikenal seluruh dunia, makan di tempat seperti itu. Meski ramai, namun tetap saja itu pinggir jalan dimana debu pasti banyak hinggap pada makanan itu. Status Erwin yang bahkan melebihi keluarganya itu, benar benar membuatnya tak percaya akan hidup sederhana istrinya selama ini, yang sempat Ia pikir jika Rena hanya gadis desa dari keluarga sederhana sebelum dirinya bertemu Erwin. Karena sewaktu menikah Ia hanya menemui nenek Rena meminta restu, tanpa sekalipun mereka menyebut tentang kekayaan mereka. Dan sewaktu terhubung melalui telpon dengan Erwin pun, Dimas tak tahu siapa mertuanya yang terdengar begitu kalem menyerahkan putrinya.


" Kita cari tempat lain aja ya mas " ucap Rena memperhatikan suaminya terus menatap tempat baso di hadapannya.


" Engga usah, udah kepingin banget Aku sayang. Kita turun aja " sahut Dimas tak mau perduli lagi dengan kondisi tempat makan karena rasa ingin segera menikmati baso di hadapannya.


Bergegas Ia membuka pintu dan turun membantu istrinya, lalu berjalan bergandengan menuju abang baso yang langsung menghapal Rena. Dengan sopan Bang Slamet menyapa Rena yang juga tersenyum sopan padanya, dan memesan dua mangkuk baso sayur.


Rena mengajak suaminya duduk di atas tikar tanpa adanya tempat meneduh selain pohon besar yang berjajar. Ia menahan senyum dengan mengatupkan kedua bibir, melihat suaminya tak henti memperhatikan rombong dengan tempat cuci mangkuk di samping rombong tersebut.


" Sebentar ya mas, Papa " ijin Rena sudah mengambil ponsel dalam tas nya dan melihat nomor Erwin pada layar ponsel pink miliknya.


Erwin ingin menanyakan keberadaan putrinya, karena merasa cemas tak ada kabar apapun dari Rena usai pergi dari kantor polisi. Dimas yang sudah melahap lebih dulu baso di hadapannya, membuat Rena terpikir melakukan video call dan di setujui oleh Erwin yang juga ingin melihat wajah putrinya.


Segera Rena mematikan telpon dan menghubungi papanya kembali, dan meminta lelaki yang ada di rumah Dedrick menunggunya itu agar menunjukkan video yang tersambung pada keluarga suaminya.


" Ini kalau Kita engga tahu Dimas ngidam, pasti sudah kena serangan jantung semua " ucap Dedrick melongo bersama Teddy, Tyo, Siska juga Erwin melihat Dimas duduk bersila di atas trotoar menikmati baso dengan lahap.


" Aku kaya mimpi, salah. Mimpi aja engga pernah lihat mas Dimas makan kaya gitu " tambah Tyo mengembangkan senyum Rena, tanpa di sadari oleh Dimas jika semua keluarga memperhatikan dirinya karena Rena menggunakan kamera belakang.


" Sayang, Aku makan ya. Nanti habis telpon Kamu pesan lagi " ucap Dimas sudah cepat menghabiskan satu mangkuk miliknya dan meraih punya istrinya, makin membuat keluarganya tak percaya.


" Iya mas, habisin aja " sahut Rena tersenyum menahan tawa melihat ekpresi semua dalam sambungan video call saling tatap dan melongo.


" Ini kalau ada klien lihat, pasti anggap nya Dimas gila " seru Teddy menambahkan mengingat putranya selalu menginginkan kebersihan dan segalanya begitu sempurna.


Dimas masih tak menyadari jika dirinya di amati keluarganya dengan begitu heran dan saling bergumam masing masing, hingga Rena harus terus menahan tawanya. Saking enak nya menikmati baso, Ia sama sekali tak menoleh ke arah istri yang Ia kira tengah berkomunikasi dengan mertuanya melalui sambungan video, yang memang benar namun kamera terus mengarah padanya tanpa Ia tahu.

__ADS_1


__ADS_2