Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
BAB 70


__ADS_3

Usai menikmati rujak bersama, Dimas mengajak Rena untuk meninjau persiapan pesta yang rencana nya di adakan di hotel milik keluarga Dimas.


Sampai nya di hotel, Dimas dan Rena sudah di sambut hangat oleh staf pegawai di sana. Ia melanjutkan langkah nya menuju tempat persiapan acara dengan tangan yang senantiasa melingkar di pinggang Rena seperti biasa. Dalam gedung persiapan sudah banyak orang yang mulai mengerjakan setiap tugas dan bagian mereka masing masing. Tyo yang menyadari kehadiran Dimas segera berlari menghampiri kakak serta kakak ipar nya.


" Gimana dek? " tanya Dimas begitu Tyo tiba.


" Beres mas, tinggal beberapa persen aja udah siap kok " sahut Tyo yang memang sangat sibuk mempersiapkan acara tersebut beberapa hari terakhir.


" Mas " seru Rena menarik lengan baju Dimas yang masih berdiri di samping nya menujukkan mata ke arah seorang wanita paruh baya namun terlihat muda dan sangat elegan serta anggun dalam balutan celana panjang serta kemeja biru satin yang berdiri bersama seorang laki laki mengamati tiap sudut gedung.


Dimas menghampiri kedua orang tersebut bersama Rena dan Tyo.


"Ma, Pa, kapan kalian tiba? " sapa Dimas kepada kedua orang tua nya dan memeluk mereka bergantian.


" Anak mama, gagah sekali kamu sayang. Mama sama papa baru sampai kemarin " jelas Natalie memeluk tubuh Dimas.


" Kenapa engga kasih tahu aku kalau datang, kakek dimana? "jawab Dimas karena tak mendapati kakek nya berada di sana.


" Kakek di rumah, kamu kesana sama Aulia dong lihat kakek. Mama juga kangen sama cucu mama " ucap Natalie dengan senyum mengembang tanpa memperdulikan kehadiran Rena yang memang ia tidak pernah menyetujui pernikahan Dimas dan Rena yang hanya seorang mahasiswi.


" Siapa dia? " tanya Teddy yang memang belum pernah bertemu dengan menantu baru nya.


" Ini Rena, istri Dimas pa " jawab Dimas melingkarkan tangan ke pinggang Rena yang lalu menjulurkan tangan untuk bersalaman dengan Teddy dan Natalie.


Teddy yang menyambut hangat Rena, memeluk tubuh menantu nya lalu mencium kening Rena lembut. Sedangkan Natalie malah membuang wajah nya ketika Rena menjulurkan tangan ke arah nya. Dimas memperhatikan kelakuan mama yang baru saja tiba dari Belanda terlihat masih tak menyukai Rena.

__ADS_1


" Ma, Rena kasih salam ke mama " seru Dimas ke arah Natalie yang malah melipat kedua tangan nya di atas dada.


" Mama engga terbiasa buat bersentuhan dengan orang asing " tegas Natalie membuat hati Rena seakan hancur dan Dimas yang mengeratkan tangan menggenggam istri di samping nya yang mulai menundukkan wajah nya.


" Dia bukan orang asing, dia istri Dimas menantu mama " tegas Dimas yang lengan nya di tarik oleh Rena mengisyaratkan Dimas agar tak berkata kasar pada orang yang telah melahirkan nya.


" Ma, kenapa mama kaya gitu sama mba Rena sih? " tegur Tyo yang merasa kasihan dengan Rena.


" Dengar ya, menantu mama cuma satu yaitu Siska istri kamu. Selain itu mama tidak mempunyai menantu lagi " tegas Natalie penuh penekanan membuat Dimas geram karena istri nya tak pernah di anggap.


"MA!! " teriak Dimas kuat hingga membuat semua orang menatap ke arah nya.


" Mas, udah " seru Rena pelan menahan tangan Dimas dengan kedua tangan nya agar Dimas tak terpancing amarah.


" Keterlaluan kamu ma " seru Teddy menatap istri yang berdiri dengan angkuh menyamping dari tubuh Rena.


" Puas kamu membuat anak kandung saya melawan saya seperti ini? " seru Natalie menarik kuat tangan kiri Rena lalu menampar pipi menantu yang telah mengandung cucu ke dua nya.


" Cukup ma!! " teriak Dimas kembali menatap dalam wajah Natalie.


" Jangan pernah mama perlakukan istri Dimas seperti ini lagi, jangan buat rasa hormat Dimas ke mama hilang " seru Dimas dengan hati terselimut emosi.


" Mas, aku mohon udah " pinta Rena lirih dengan mata yang menahan air mata nya jatuh.


" Bagus kamu Dimas, kamu berani berkata seperti itu hanya karena gadis kecil mata duitan seperti ini? Dia menikahi kamu hanya karena uang kamu" tegas Natalie.

__ADS_1


" Cukup! " teriak Teddy menghentikan ucapan istri yang melukai perasaan Rena.


" Nak, kamu ajak istri kamu pulang dulu " tambah Teddy lembut kepada Dimas.


" Mama sudah sangat keterlaluan " tambah Tyo.


Tanpa memperdulikan perkataan orang di sana, Dimas menuntun tangan Rena keluar untuk pulang. Ia menyesal tengah mengajak Rena ke hotel yang malah membuat istri nya di permalukan dan tak di hargai.


Dengan masih berusaha menahan air mata di hadapan Dimas, Rena mengikuti tia om langkah suami nya hingga sampai pada lobi hotel menunggu mobil yang telah di ambil oleh petugas valet hotel.


" Maafin mama ya sayang, dia sebenarnya baik orang nya " seru Dimas mengajak Rena duduk sembari menunggu mobil mereka datang sembari mengusap pipi yang telah di tampar Natalie.


" Iya mas, aku engga apa kok " sahut Rena mencoba tersenyum di hadapan Dimas.


" Kita pulang ya sayang " ajak Dimas ketika mobil nya tiba dan beranjak dari duduk menggenggam tangan istri nya dan membantu untuk naik mobil.


Dalam berjalanan Rena terus menatap ke arah jalanan dari kaca jendela mobil, air mata yang sudah tak mampu ia bendung menetes begitu saja yang dengan cepat ia usap agar Dimas tak melihatnya menangis yang malah membuat suami nya semakin marah terhadap mama nya.


Dimas yang mengetahui jika Rena tengah menangis dari pantulan kaca jendela mobil merasakan hati nya benar benar terluka lalu meraih tangan Rena yang berusaha menyembunyikan air mata nya dan menggenggam nya erat.


" Aku engga apa mas, kamu nyetir aja ya " seru Rena menatap ke arah Dimas melebarkan senyum nya paksa agar Dimas tak merasa khawatir.


" Iya sayang, aku cuma mau kaya gini aja " sahut Dimas yang tak ingin Rena tahu jika ia tengah melihatnya menangis.


" Aku engga tega lihat kamu kaya gini, hati aku sakit Ren " gumam Dimas dalam hati mencium punggung tangan Rena.

__ADS_1


" I love you " ucap Dimas usai mencium punggung tangan Rena.


" Love you too " sahut Rena tersenyum meski dada nya begitu terasa sesak dan ingin sekali ia menangis sekuatnya saat itu, namun karena tak ingin membuat suaminya merasa sedih ia terus berusaha menjadi kuat di hadapan Dimas.


__ADS_2