Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 145


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Di kantor polisi, Ana dicerca dengan banyak pertanyaan namun perempuan yang masih tetap kekeh jika semua yang terjadi atas dasar suka sama suka sehingga tak membuatnya merasa bersalah sedikitpun. Meski semua bukti sudah ada, Ia tak sekalipun takut akan semua bukti tersebut karena baginya perasaan pada Dimas bukanlah sebuah kesalahn yang pantas untyk di hukum.


Pengacara Erwin yang sudah datang tak terkejut akan foto yang ditunjukkan oleh Rian karena memang foto tersebut sudah pernah diterima oleh Erwin sewaktu Rena tinggal di Paris bersamanya.


Seorang Ayah yang dengan sengaja tak menunjukkan apa yang dikirim ke perusahaannya itu, tak mempercayai akan kebenaran foto yang Ia anggap sebagai ulah dari Natalie yang sengaja memprovokasi dirinya untuk memisahkan Dimas juga Rena.


Tyo, Teddy, juga Dedrick tak mampu membayangkan bagaimana kemarahan Erwun jika tahu tentang kebenaran foto tersebut bahkan tahu jika menantunya sudah melakukan hubungan terlarang dibalik foto yang langsung Ia buang kala itu.


Kekhawatiran ketiganya memuncak kala ponsel Dedrick berdering dan menunjukkan nama Erwin pada ponsel silver yang kini dipegang Dedrick dengan mata membulat. Dengan di dampingi anak serta cucunya, Dedrick keluar dari kantor polisi untuk mengangkat panggilan dari besannya meski harus memenuhi pikiran juga perasaan tak enak.


" Om, apa Om tahu ada masalah apa sama Rena sekarang? " tanya Erwin dari ujung telpon yang sudah tersambung karena tak sabar harus menunggu hingga putrinya menceritakan semuanya.


" Apa Rena belum cerita sama Kamu? lebih baik jika Rena sendiri yang menceritakannya karena Om takut jika ada salah kata Om nanti " kilah Dedrick cemas.


" Sekarang Aku sedang menuju bandara dan akan sampai besok, tolong jangan bilang ke Rena kalau Aku datang Om " tambah Erwin membulatkan mata Dedrick beriringan dengan detak jantung cepat serta rasa khawatir akan apa yang menimpa cucunya nanti.


" Baik nak, kalau begitu Kami tunggu di rumah kebetulan Kami juga ada di sini " sahut Dedrick ragu.


Sambungan telpon yang sudah terputus membuat Dedrick merasakan lemas pada kedua Kakinya dan di bantu oleh kedua pria yang saling tatap tersebut agar Dedrick bisa duduk di sebuah kursi kayu panjang depan kantor polisi. Dengan segala kecemasan juga rasa khawatir berlipat dari sebelumnya, Dedrick mengatakan kepada Tyo juga Teddy jika Erwin akan datang dan tiba esok hari yang sontak saja langsung membulatkan mata keduanya khawatir seperti halnya Dedrick.


Dedrick memutuskan untuk menghubungi Dimas, meski Erwin telah melarang untuk memberitahukan kedatangannya. Namun Dedrick ingin agar cucunya tahu dan bisa bersiap akan apa yang terjadi nanti.

__ADS_1


Di kantor Dimas masih memeluk istrinya dalam keadaan yang sama hanya berbalut selimut nyaman menutupi tubuh mereka. Nada dering yang indah mengalunkan irama piano tersebut membangunkan keduanya dan memaksa Dimas harus beranjak meraih ponsel di dalam saku jas nya.


Suara Dedrick dari ujung telpon membuat lelaki yang sudah bersandar kembali dan meletakkan kepala istrinya di dada bidang itu membuatnya semakin merasa takut ketika Kakenya menceritakan semua foto yang sudah pernah di terima mertua yang kini sudah berangkat ke Indonesia demi mengetahui langsung semua yang terjadi dan menimpa putrinya hingga harus menggunakan pengacara pribadi.


" Kenapa mas? " tanya Rena khawatir melihat suaminya meletakkan ponsel dengan begitu lemas di atas selimut yang menutupi tubuh bawah lelaki yang bersabdar pada sandaran tempat tidur.


" Papa mau datang sayang, dan besok Dia sampai sini " lirih Dimas dalam kecemasan yang tak bisa di sembunyikan dan mengejutkan Rena.


" Apa mas? " tanya perempuan yang membulatkan mata dengan duduk menutupi tubuh dengan memegangi selimut di samoing tubuh suaminya.


" Aku takut Papa bawa Kamu sama Brian pergi, gimana kalau kedatangan Papa memang untuk itu? Aku engga mau Kita terpisah lagi sayang " ucap Dimas menunjukkan segala rasa cemasnya pada Rena.


" Kita coba bicara pelan pelan sama Papa ya mas, Aku harap beliau bisa mengerti " sahut Rena juga merasa cemas akan sikap apa yang akan ditunjukkan Papanya jika tahu semuanya meski sudah ada bukti jika suaminya tak bersalah, terlebih bekas luka pada pelipisnya.


" Aku janji mas, Kita akan terus bersama " ucap Rena menenangkan suaminya.


" Lebih baik Kita pulang sekarang, ini sudah sore mas kasihan anak anak " tambah Rena ingin menghabiskan waktu bersama kedua buah hatinya sebelum badai besar kembali datang menerpa kehidupan rumah tangga nya.


" Iya sayang, Kita mandi dulu ya " sahut lelaki yang menatap lekat wajah istrinya itu.


Mengingat Erwin yang pernah memaksa istrinya untuk ikut ke Paris tanpa peduli akan apapun lagi, membuat Dimas merasakan rasa takut jika sampai hal tersebut harus terulang kembali dan pasti sudah tak mampu untuk Ia tanggung rasa sakit kehilangan istri juga anak keduanya.


Usai membersihkan diri, mereka langsung turun dan menuju ke rumah setelah membelikan beberapa makanan ringan untuk menebus kesalahan mereka telah meninggalkan kedua anaknya di rumah begitu lama.

__ADS_1


" Sayang, baso yang di taman kompleks itu udah ada belum ya? " tanya Dimas tiba tiba amat menginginkan baso pinggir jalan kesukaan istrinya.


" Kenapa mas? Kamu mau beli? " tanya Rena terkejut karena suminya tak pernah suka jika dirinya makan di pinggir jalan.


" Iya sayang, Aku pengen banget makan baso itu. Engga tahu tiba tiba kaya kebayang aja gitu basonya " sahut lelaki yang mengecap mulut kosong sambil terus mengemudi dan di tatap heran oleh istrinya.


" Kamu sehat mas? itu makanan pinggir jalan loh " ucap Rena mengingatkan.


" Sehat lah, iya tahu sayang memangnya kenapa orang Aku lagi pengen banget makan itu " sahut lelaki dengan mengembangkan senyum ke arah istrinya.


" Aneh " gumam lirih Rena.


Memang terasa amat aneh melihat suaminya begitu sangat menginginkan baso jalanan yang bahkan membuatnya marah ketika istri juga anaknya mulai begitu menikmati jajanan nikmat tersebut. Bahkan mulut Dimas yang tak henti mengecap meski tak ada apapun dalam mulutnya itu semakin menambah keanehan Rena yang tak henti menatap ke arah suaminya.


Rasa ingin segera menikmati baso mang Udin, membuat Dimas melajukan cepat kendaraannya dan berhenti tepat di taman kompleks dimana mang Udin sudah menjadi primadona dengan di kelilingi banyak pelanggan mengantri. Dengan senyum mengembang puas, Dimas turun dari mobil beraama Rena untuk ikut mengantri bersama lainnya demi menikmati enaknya baso mang Udin yang sudah melegenda.


Ketika sudah tiba giliran mereka, Dimas sengaja memesan 10 bungkus baso untuk semua orang dirumah namun membuat istrinya amat heran.


" Engga kebanyakan mas? kan cuma ada tujuh orang di rumah " ucap Rena menatap aneh pada pria yang sudah mengunyah baso dengan mengambilnya langsung dari panci menggunakan garpu.


" Engga sayang, nanti kalau mau nambah kan gampang " sahut Dimas santai terus mengambil baso dari panci beruap milik mang Udin.


Masih dengan keanehan menghiasi mata juga pikirannya, Rena setia menemani suami yang begitu menikmati makanan ditangannya lebih mirip seperti Aulia juga Brian yang begitu girang tak henti terus mengambil lagi dan lagi baso mang Udin penuh ekspreai puas dan bahagia tak seperti tadi yang begitu terlihat cemas.

__ADS_1


__ADS_2