Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 150


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Selepas Erwin, Dedrick, Teddy juga Tyo pergi meninggalkan rumah Dimas, dimana Dedrick meminta agar Papa cucu menantu nya tersebut menginap di kediaman pribadinya dan tak sanggup di tolah oleh pria yang amat menghormati Dedrick dari dulu.


Dimas dan Rena kembali duduk di ruang tamu pada sofa panjang dimana lelaki tersebut mampu menggenggam tangan istri yang Ia tatapnya amat dalam. Ia mulai memikirkan akan apa yang dikatakan oleh istrinya pada Papa mertua tentang kehamilan yang tak pernah Ia ketahui sebelumnya.


" Apa Kamu benar benar hamil? apa Kita akan punya anak lagi? " tanya Dimas menatap ke arah wajah istri yang kini menunduk di hadapannya.


" Maaf mas, Aku terpaksa bohong masalah itu " ucap Rena dengan nada bersalah juga menyesal seketika mengubah ekspresi bahagia Dimas menjadi terkejut juga kecewa.


" Kenapa sih harus bohong? apalagi ini masalah sensitif, jika sampai Papa tahu gimana? Aku udah jujur semuanya ke Papa biar Kita tidak lagi punya kebohongan, tapi sekarang Kamu malah menambah kebohongan baru " ucap Dimas panjang lebar dalam nada kecewanya dan melepaskan genggaman pada tangan Rena, mengubah posisinya menghadap depan.


" Maafin Aku mas, Aku engga ada cara lain buat meyakinkan Papa. Aku engga mau pergi, itu semua Aku lakukan terpaksa untyk mempertahankan rumah tangga Kita " sahut Rena memegang lengan lelaki yang kini memijat kepalanya dengan hati juga harapan yang hancur.


" Bukan dengan kebohongan Rena, apalagi maslah kehamilan yang akan cepat diketahui oleh semua orang " tambah Dimas masih meluapkan rasa kecewanya.


" Maaf... " lirih Rena menundukkan wajah dengan perasaan bersalah.


" Kamu tahu, Aku sangat berharap akan kehamilan Kamu. Aku sudah sangat bahagia mendengar ucapan Kamu tapi sekarang semuanya hancur begitu saja, apa Kamu bagaimana kecewa nya Aku sekarang? " panjang lebar Dimas menunjukkan kekecewaan diri nya.


Rena hanya tertunduk dengan segala rasa bersalahnya karena membuat suatu kebohongan begitu besar. Ia tahu jika suaminya pasti akan kecewa mengetahui dirinya tidak hamil karena suami yang begitu mengharapkan hadirnya seorang anak lagi di antara keluarga kecil mereka.

__ADS_1


Air mata terus terurai dari kedua mata indah Rena dan membuat suaminya tak tega. Dengan perlahan, Dimas meraih tubuh istrinya untuk Ia peluk agar peremouan di sampingnya bisa tenang dan berhenti menangis.


" Maaf, Aku tidak bermaksud memarahi Kamu. Jangan menangis lagi, Aku mohon " lembut lelaki dengan dekapan hangat pada tubuh istri yang menyandarkan sisi wajahnya pada dada bidang Dimas.


" Sudah sayang, Aku engga bisa lihat Kamu nangis lagi. Terlalu menyakitkan lihat Kamu seperti ini, Kita bisa berusaha untuk menjadikan kebohongan ini sebagai kenyataan " bujuk Dimas agar istrinya bisa diam menghentikan tangis nya.


" Maafin Aku mas, Aku cuka engga mau keluarga Kita hancur " lirih Rena.


" Iya sayang, terimakasih sudah mau berjuang bersama untuk keutuhan rumah tangga Kita, jangan pernah menangis lagi " ucap Dimas mengangkat wajah istrinya untuk Ia usap lembut setiap air mata yang membasahi pipi mulus Rena.


" Aku engga bisa bayangin kalau tadi Kamu benar benar pergi lagi, Aku takut tadi Kamu akan setuju untuk pergi seperti dulu " tulus Dimas menatap dalam wajah istri yang menggelengkan kepala.


" Aku engga akan pernah tinggalkan Kamu ataupin anak anak mas. Aku akan selalu berada di sisi Kamu untuk menjaga anak anak Kita " ucap Rena tulus.


Rasa ingin menyerah menghadapi segala badai yang menerpa bertubi tubi, selalu hinggap pada pikiran Rena yang selalu Ia buang dengan menggantikan kedua anaknya sebagai pusat dan tujuan hidupnya.


" Mas, Aku mau Kamu berjanji sama Aku. Jangan pernah memikirkan apapun sendiri, jangan menyimpan beban Kamu sendiri. Kita ini suami istri sudah selayaknya Kamu saling berbagi dalam segala hal " lirih Rena dengan ingatan yang kembali oada sikap juga kelakuan aneh suaminya seharian kemarin.


" Iya sayang, Aku janji sama Kamu. Engga akan ada rahasia ataupun kebohongan di antara Kita. Semua yang ada pasti akan langsung Aku ceritakan sama Kamu " sahut Dimas mengiringi hatinya yang juga berjanji pada diri sendiri.


" Sekarang mas mau makan apa? Aku buatkan " ucap lembut Rena penuh kasih sayang dengan memegang tangan suaminya.

__ADS_1


" Makan Kamu " balas Dimas tersenyum genit untuk memecahkan segala suasana penuh tangis mereka dari tadi.


" Boleh " sahut perempuan yang kini menghoda kembali suaminya dengan senyuman juga tatapan yang Ia buat seksi.


" Kamu sekarang genit banget, tapi Aku suka sama genit nya Kamu dan nakal nya Kamu. Apalagi nakal nya Kamu di ranjang, suka banget " sahut lelaki yang kini mencium lembut sisi leher istrinya seraya menggigit kecil leher putih tersebut dan membuat istrinya tersenyum sambil bergidik.


" Masa sih suka? mau lebih? Aku bisa lebih nakal lagi loh mas " seksi Rena dalam nadanya sambil menggigit tipis bibir bawah dan melingkarkan tangan pada tengkuk suaminya.


" Oh ya? " senyum lelaki dengan menarik lembut pinggang istrinya duduk di atas pangkuannya saling berhadapan.


" Seberapa nakal sih istri Aku sekarang? suka banget kalau godain suami ya pakai ngomong seksi lagi " gelitik Dimas dengan tawa di antara kedua nya.


Perut yang menjadi titim sensitif Rena selalu menjadi sasaran empuk Dimas ketika merwka sedang berdua dan berusaha memecahkan keadaan. Tak jarang lelaki tersebut diam diam menyusupkan tangan ke balik pakaiab yang di kenakan istrinya meski ada dua anak mereka hanya demi membuat istrinya menggeliat dengan tawa geli, terdengar begitu menggemaskan bagi laki laki yang mulai menyusupkan wajah pada dada besar istrinya.


" Mas, tuh " seru Rena melirik ke sudut atas ruangan dimana terdapata CCTV terpajang indah mengintai setiap gerakan yang terjadi di ruang tamu itu.


" Pengen Aku lepas deh " gerutu Dimas lalu tersenyum menggendong istrinya di depan.


Dengan masih melingkarkan kedua kaki di pinggang suami serta tangan melingkar pada tengkuknya, Rena mencium lembut leher suaminya dengan wajah mulai menyusup.


Kaki Dimas mengarahkan pintu untuk menutup sebelum membawa istrinya ke kamar tamu. Rumah yang masih sepi akan terus menyaksikan seberapa usaha mereka membangun rumah tangga di balik kehangatan cinta juga hasrat mereka berdua.

__ADS_1


Bagi Rena, menciptakan suasana hangat dengan suami adalah kunci keharmonisan keluarga kecil mereka. Hingga tanpa segan ataupun malu Ia terus menunjukkan sisi lain dari dirinya, dengan segala tingakh nakal dan godaaan liar pada suami yang dangat mudah terpancing agar tak sampai lelaki tersebut jajan di luar ataupun tergoda.


__ADS_2