
STOP PLAGIAT
Natalie masih saja mengurai air mata penyesalan dalam rangkulan putranya. Tanpa henti Dimas mengusap lembut lengan wanita yang bersandar pada dada bidang nya.
"Sudah Ma jangan menangis lagi, bajuku kotor nanti," goda Dimas berhasil membuat Mamanya tertawa menepuk lembut dada putranya.
"Anak nakal!" tawa kecil Natalie menghentikan air mata dan mengusapnya dengan tisu yang sudah Ia raih dari atas meja.
"Aku senang Mama baik seperti ini, Aku sangat menyayangi Mama jika seperti ini," ucap lelaki yang masih memangku putranya.
"Kalau Mama jahat?" goda Natalie bertanya melirik wajah tampan putra pertama yang kini sudah pintar bercanda seperti Tyo.
"Aku membenci Mama," goda kembali Dimas, lagi lagi membuat Mamanya tertawa.
Keakraban untuk pertama kalinya terlihat begitu mengharukan di mata Siska yang sudah kembali dari belakang bersama Aulia. Tanpa sengaja bulir air mata menetes dari wajah cantik v shape Siska, yang sudah memperhatikan keduanya dari tadi.
Rasa syukur terucap begitu saja dalam batin perempuan yang tengah mengandung anak pertamanya itu. Terasa begitu lengkap sudah keluarganya, dan hanya bisa berharap jika mertuanya akan bisa menyayangi Kakak iparnya. Pelukan juga kasih sayang yang selalu di dambakan Rena dari Mama mertuanya, diharapkannya bisa cepat terwujud.
__ADS_1
Kesabaran tak pernah membohongi hasil, itulah kata yang terucap dari batin Siska dengan merangkul keponakannya. Memang butuh waktu lama dan juga penderitaan panjang untuk kedua Kakak iparnya mendapatkan kebahagiaan juga restu, namun itu juga menjadi sebuah pembelajaran tersendiri bagi Siska yang menyaksikan langsung perjuangan keduanya.
"Dimas, bukankah Brian masih kecil? kenapa Rena sudah mau memiliki anak lagi? apa Dia tidak menggunakan alat pencegah kehamilan?" penasaran Natalie dari waktu Ia tahu jika menantunya kini sudah kembali hamil, padahal baginya Brian masih sangat membutuhkan kasih sayang di usianya.
"Tidak Ma, Kami tidak menggunakan pencegah kehamilan. Lagipula Dimas yang menginginkan anak lagi biar ramai rumah nya, Dimas juga engga pernah bisa tahan kalau sedang berdua dengan Rena bawaannya pengen cicil bikin Adiknya anak anak," jelas Dimas seraya menggoda dengan tawa kecil tanpa mali nya.
"Kamu ini, sudah mau punya anak tiga masih aja kaya pengantin baru," tawa geli Natalie mencubit perut putranya lirih.
"Biarin, Mama juga buat Adik dong buat Dimas sama Tyo. Apa Mama sama Papa masih saling diam?" celetuk asal lelaki yang juga merasa penasaran akan hubungan orangtuanya yang mulai merenggang karena masalahnya.
"Sudah jangan bicarakan orang tua itu, Dia bahkan tidak menghubungi Mama sama sekali," celetuk jengkel Natalie mengembangkan senyum putranya kembali akan ekspresi yang ditunjukkan Mama nya.
"Aduh Kamu berat lama lama, Papi capek. Turun ya main sama Kakak, kesemutan kaki Papi," tambah Dimas menurunkan paksa putranya.
Aulia yang dari tadi berdiri bersama Tantenya, juga mendengar ucapan Papinya pada Brian dan langsung menyeletuk seraya berjalan menghampiri Adiknya.
"Sini Dek sama Kakak, jangan sama Papi. Kita telpon Mami yuk bilangin ke Mami kalau Papi ngeluh jaga Kita," celetuk Aulia mengajak Adiknya masuk ke dalam usai sukses membuat Papinya membulatkan mata.
__ADS_1
Di dalam Aulia sudah berbicara pada telpon yang tak tersambung, Dia sengaja ingin kembali mengerjai Papinya. Dimas yang sudah mengejar kedua anak nya itu langsung mengambil telpon rumah dari genggaman putrinya, yang sengaja di letakkan Aulia di telinga berpura pura bicara pada Maminya.
Mendengar Aulia mengadu dengan melebih lebih kan cerita, mata melotot langsung di arahkan pada putrinya sambil membela diri di telpon rumah yang ternyata tak terhubung. Sadar jika kembali dikerjai putrinya, Dimas meletakkan keras telpon rumah Adiknya dan mengejar kedua anak yang sudah lebih dulu berlari mencari perlindungan pada Neneknya.
"Dasar bandel, sini Kamu!" teriak Dimas berlari ke arah ruang tamu, dimana Aulia sudah duduk di balik punggung Neneknya sambil tertawa, sementara Brian sudah mau untuk di pangku oleh Nenek yang ikut menertawai putranya itu.
"Dimas, engga boleh bilang anak bandel jadi doa loh," coba Natalie mengingatkan putra yang berusaha menarik putrinya, namun Aulia memegangi kaos hijau tua yang melekat pada tubuh Neneknya sambil tetap bertahan di balik punggungnya.
"Habis Dia selalu aja kerjain Aku Ma, masa tiap hari engga ada berhentinya Dia kerjain Aku. Suka banget kalau Maminya udah cemberut kesel, ngadu yang engga engga," gerutu kesal Dimas berdiri di hadapan Mama nya yang tertawa bersama Siska.
"Mas Dimas, mas Dimas lama lama makin lucu aja sih mas sama Aulia, kaya seumuran," celetuk Siska tertawa.
"Tuh suami Kamu juga tuh kalau ngomong sama Auli engga pernah di rem, masa Ma Tyo bilang ke Auli katanya Aku engga boleh marah, gak boleh cemburu nanti ditinggal Mami, kan engga pantas Ma anak kecil di kasih tahu hal kaya gitu," protes kesal Dimas masih kesal karena ucapan Tyo memancing Aulia untuk menceritakan semua tentang yang Ia lakukan saat kepergian istrinya semalam.
Natalie dan Siska semakin tertawa lepas bersama melihat wajah serta ucapan Dimas seperti seorang anak kecil yang sedang mengadukan saudaranya. Lelaki yang jengkel itu duduk di sofa tunggal di hadapan Mama serta Adik ipar nya, lalu meneguk satu gelas air putih yang sudah ada dari tadi di meja untuk nya.
"Capek sendiri ngomel, kenapa Rena engga capek ya kalau ngomel," lirih Dimas bergumam mengipasi wajah dengan kerah kaos yang Ia tarik tarik ke depan usai meletakkan gelas di yang sudah kosong di atas meja.
__ADS_1
Lagi lagi celotehan asal Dimas terasa begitu menggelitik bagi kedua orang yang masih menatapnya dengan senyuman juga gelengan kepala. Natalia yang lama tak berbincang dengan putra dinginnya itu, sedikit merasa terkejut akan banyaknya perubahan Dimas. Tingkah semakin seperti anak kecil saat putranya itu merengek minta di buatkan rujak serut karena tanpa sengaja Ia habiskan, kini bisa Ia saksikan sendiri dengan mata kepalanya.
Namun rasa bahagia juga tak bisa ditutupi dari binar mata wanita berusia namun tetap cantik dan segar itu, karena bisa kembali berkumpul dengan putra pertamanya. Bahkan saat lama berpisah jarak, Dimas tak pernah menghubungi Mamanya jika tak dihubungi lebih dulu.