
PLAGIAT? INGAT TUHAN ITU ADA. LEBIH BAIK SUSAH DI DUNIA DARIPADA DI AKHIRAT. NAUDZUBILLAHIMINDZALIK.
Terlihat Dion meraba tempat sampingnya, dirasa tak menemukan siapapun ia pun terbangun. Mulai meregangkan otot dan duduk mengumpulkan nyawa, tidak menyadari jika mertua jua istrinya sudah mengamati. Dimas menggelengkan kepala dan membuang napas kasar melihat menantunya. Aulia dan Rena hanya tersenyum melihat Dion menggaruk kepala, lalu menunduk dengan kedua kaki dibukanya lebar.
"Udah nikah tapi bangun tidur engga ada yang cium, hampa banget nih hidup ya" gumam Dion seraya menunduk, tetap bisa di dengar ketiga orang masih memperhatikannya.
"Mau di cium? sini papi cium pakai tangan" ucap Dimas membulatkan mata Dion, cepat mengangkat kepala dan menoleh.
"Hehehe papi" cengengesan Dion menggaruk tengkuk.
"Haha hehe haha hehe" menatap Dimas ke arah menantunya.
Seketika tersadar saat mendengar suara berat sedikit serak mertuanya, Dion mulai beranjak dan melangkah ke arah ranjang dimana istrinya trrsenyum bersama mami mertuanya. Ia pun duduk di belakang Aulia, di samping kaki wanita tetap melebarkan senyum tulus.
"Mami udah sehat?" perhatian Dion ke arah mertua yang mengaggung dalam senyum.
"Udah nak, kamu ajak Aulia ke kamar ya abis itu sholat. Kalau mau tidur dulu engga apa apa, pasti punggung kamu sakit tidur di lantai" lembut Rena.
__ADS_1
"Iya mi, mami jangan sakit sakit lagi ya cepat sehat kan udah punya menantu, abis ini punya cucu masa mami nya sakit sih? entar yang bantu kita siapa mi?" ucap Dion di tepuk lirih pahanya oleh Aulia, karena menyinggung masalah anak membuatnya malu.
"Kamu pikir mami ini baby sitter apa?!" tegas Dimas, langsung Dion menelan saliva nya kasar.
"Ma, ma, maksud Dion tuh..." sahut Dion terputus ucapan mami mertuanya.
"Mami ngerti kok sayang, papi cuma godain kamu aja" senyum wanita masih bersandar dengan selimuy sampai perut.
"Kamu panggil aku sayang kalau ada mau nya aja, tapi panggil dia sayang sayang terus sih?!" kesal Dimas menatap istrinya.
"Papi ih engga malu bnget kalau ngomong pasti aja suka asal, asal engga tahu tempat" goda Aulia tertawa kecil.
"Udah bangun papi" sahut Brian sudah mendengar pembicaraan dari tadi namun tetap berada di balik selimut.
Dinda, Brian dan Randi langsung bernajak dan mencium mami mereka bergantian, dengan lebih dulu menggeser paksa tubuh kakaknya. Memeluk dan mencium orang yang sangat mereka sayangi, berbahagia ketika melihat senyum kembali terhias pada wajah cantik mami mereka.
Dimas meminta anak anaknya untuk membersihkan diri di kamar masing masing, begitu juga dirinya yang langsung melangkah pergi ke kamar mandi usai berpamitan sejenak pada istrinya. Keempat anak dan satu menantu mereka, meminta ijin keluar sebelum Dimas masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Kelimanya menapaki anak tangga menuju kamar masing masing. Memang kamar keempatnya berada di lanti atas, dan hanya kamar Dimas dan kamar tamu juga dua kamar lainnya ada di bawah. Sengaja memang ia membangun rumah dengan banyak kamar, karena menyadari keluarga besarnya mungkin akan berkunjung dan menginap.
Begitu memasuki kamar, Aulia langsung melangkah ke kamar mandi untuk bergantian bersama suaminya. Dion menunggu di sofa dengan memainkan ponsel sejenak. Aulia belum mau untuk bisa mandi bersama, walau Dion sudah berusul kepadanya agar hubungan mereka lebih hangat. Tapi rasa malu masih membelenggu Aulia walau tubuhnya sudah dilihat oleh suaminy keseluruhan.
"Aaaaaa" teriak Aulia tengah mandi, dan Dion langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu.
"Jangan berteriak, dikira aku macam macam lagi sama kamu" protes Dion tanpa melihat istrinya yang sudah berjongkok.
"Kamu ngapain? cepet keluar deh, aku lagi mandi" ucap Aulia berjongkok di bawah shower.
"Ya mandi aja, orang ada batas kaca juga. Aku cuma mau buang air kecil udah engga tahan" santai Dion berucap.
"Ketutup, tapi tetep aja kamu bisa lihag nanti" protes Aulia dalam wajah sangat merah.
"Udah liat, hapal semua tiap inci nya" santai kembali Dion menggoda.
"Kalau ngomong suka aja asal, ngalah ngalahi papi ini sih bukan mirip lagi" gumam lirih Aulia.
__ADS_1
Memperhatikan suaminya di balik kaca tempat shower berada, Aulia tidak berani untuk bergerak karena canggung juga malu. Meskipun shower berada dalam ruang kaca sendiri, Aulia tetap saja tidak nyaman berada di dalam kamar mandi bersama suaminya. Dengan keadaan seperti ini, Aulia seperti patung yang bahkan untuk bernapas saja terlalu sulit.