
STOP PLAGIAT!
Sampainya di rumah, Auli juga Brian tenagh asik bermain di taman bersama Bi Lastri juga Bi Ijah yang dengan segera disusul oleh orangtuanya membawa satu kantung plastik berisi banyak baso.
" Bi, tolong bawa mangkuk kesini ya Kita makan bareng disini sekalian panggil Pak Adi " ucap Dimas langsung dituruti oleh Bi Ijah meaki lebih dulu saling tatap dengan Bi Lastri karena Tuannya yang mau makan di taman tak seperti biasanya.
" Sini sama Papi " ucap Dimas kembali meletakkan kedua anaknya di atas kedua paha yang sudah duduk bersila di atas rumput taman.
" Mas, Kamu beneran sehat kan? Kamu engga lagi banyak pikiran terus ada apa-apa gitu kan? Aku takut deh mas " seru Rena menatap iba pada suaminya sambil duduk di smoing lelaki yang tertawa kecil mendengar ucapannya.
" Sayang, Kamu pikir Aku gila ya? emang Kamu mau punya suami gila? " sahut Dimas di sela tawanya sambil menggelengkan kepala.
" Aku takut mas " lirih Rena melingkarkan tangan pada lengan suaminya.
Dengan tersenyum, tangan Dimas mulai melingkar pada pinggang istrinya hingga kini Ia bisa mendekap ketiga orang terpenting dalam hidupnya itu. Ia sendiri juga tak tahu mengapa dirinya begitu ingin makan baso ramai ramai di taman, yang biasanya Dia selalu makan di meja makan yang sudah bersih dan tertata rapih makanan di atas meja panjang berlapir kaca itu.
Begitu kedua asistennya datang bersama Pak Adi membawa peralatan makan juga minum, mata berbinar kembali di tunjukkan oleh Dimas yang dengan segera meminta tolong istrinya membukakan baso untuknya juga kedua anaknya. Aulia yang duduk di samping Rena menatap heran pada Papi yang selalu cerewet akan kebersihan itu bahkan tak mencuci tangan lebih dulu meski Ia menggunakan sendok juga gatpu.
" Aneh kan? " bisik Rena pada putrinya yang membulatkan mata tak percaya melihat Papinya kini begitu lahap memakan baso bahkan menambahkan saos juga sambal yang tak pernah disentuknya selama ini dengan alasan tak sehat mengkonsumsi saos juga makanam pedas.
" Iya Mi " sahut Aulia lirih tanpa berkedip melihat Papinya.
" Papi, itu pedas loh " seru Aulia mengingatkan Papinya dengan tatapan heran sama halnya dengan semua orang yang ada di taman duduk tanpa alas apapun.
__ADS_1
" Engga sayang, ini enak kok. Cepat makan nanti dingin engga enak loh " sahut lelaki yang tanpa henti membinarkan mata bahagia hanya dengan satu mangkuk baso panas.
Dedrick, Tyo juga Teddy yang baru menyelesaikan urusan di kepolisian langsung datang ke rumah Dimas untuk melihat kondisi lelaki yang kini malah tertawa berkumpul di atas rumput menikmati makanan membuat ketiganya merasa aneh dan saling tatap.
" Dim? Kamu makan ini? " tanya Dedrick dengan nada heran duduk bersama Tyo juga Teddy di atas rumput bersama lainnya.
" Kakek mau? biar Aku beliin lagi " sahut Dimas yang sudah menghabiskan dua bungkus baso mang Udin.
Dedrick hanya menggeleng sambil menatap tak percaya juga iba pada cucu yang kini Dia anggap sudah mengalami tekanan berat hingga menjadi seperti sskarang bahkan melawan sendiri semua prinsip kebersihannya.
" Bentar ya mas, Aku buatkan minum dulu " pamit Rena yang sudah melarang Bi Ijah dan memilih untuk membuatkan minum semua orang sendiri.
Tyo mengikuti kakak iparnya ke dalam rumah untuk menanyakan tentang apa yang sudah terjadi pada Kakaknya namun Rena juga tak bisa menjelaskan apapun tentang sikap suaminya.
" Mbak juga mikir gitu Dek, mbak takut mas Dimas engga sanggup terima semua keadaan ini " sahut Rena memasang wajah sendu sambil menunggu air mendidih dan duduk di kursi meja makan.
" Aku beneran khawatir sama mas Dimas, aneh banget Dek. Tadi Dia kelihatan cemas banget tahu Papa mau datang, terus di jalan tiba tiba pengen baso di taman kompleks sambil senyum senyum gitu. Mba takut mas Dimas..." tambah Rena tak mampu melanjutkan kata katanya.
" Di rumah sakit Kita ada psikiater mba, apa malam ini Kita panggil kesini ya mba " usul Tyo merasakan kekhawatiran yang sama dengan Kakak iparnya.
" Mba engga berani Dek, Kita coba tanya Kakek sama Papa ya " sahut Rena tak ingin menyinggung ataupun melukai perasaan suaminya jika tiba tiba Ia mendatangkan psikiater ke rumah.
Rena mengajak semua orang untyk menikmati teh yang sudah Ia buat dan di bawa ke taman. Ia mengjampiri suami yang kini tengah bercanda dengan kedua anaknya lalu mengusap lembut lengan suaminya serta berbicara dalam nada sangat halus meminta agar suaminya meminum teh herbal kesukaannya.
__ADS_1
Tyo mencoba berbicara pada Dedrick dan Teddy akan usulnya pada Kakak iparnya dan tak langsung di setujui oleh Kakeknya yang ingin lebih dulu berbicara oada Dimas sebelum lancang mengijinkan Tyo memanggil psikiater.
Dedrick dan Teddy mengajak Dimas ke teras rumah untuk menenangkan lelaki yang tiba tibs berubah begitu cepat hanya dalam satu hari. Kekhawatiran akan terguncangnya jiwa Dimas membuat keduanya bicara dengan sangat hati hati pada ayah dua anak yang sudah duduk di kursi teras rumahnya.
" Dimas, kalau ada apa apa yang mengganggu pikiran Kamu, Kamu bisa cerita sama Kakek juga Papamu " ucap Dedrick lembut melingkarkan tangan pada pundak cucunya sambil berdiri di samping lelaki yang menoleh dan menatapnya.
" Kakek, Aku cuma takut Papa akan bawa Rena sama Brian pergi besok. Aku engga bisa kehilangan anak sama istri Aku lagi Kek, Aku sayang sama mereka " ucap Dimas kembali oada ekspresi cemasnya lagi.
" Kakek juga Papamu tidak akan membiarkan hal itu terjadi nak, Kami akan berusaha membantu Kamu mempertahankan anak juga istrimu " hibur Dedrick namun juga tak memiliki rencana apapun untuk menghadapi kemarahan Erwin yang mungkin terjadi esok.
" Jangan terlalu banyak berpikir nak, Kamu harus pikirkan istri juga kedua anak Kamu. Mereka butuh Kamu nak, jangan seperti ini " tambah Dedrick mengejutkan Dimas.
" Maksud Kakek? memang Dimas kenapa? " tanya Dimas terkejut atas ucapan Dedrick.
" Kami tahu Kamu terguncang dengan masalah ini Dim, tapi masih ada Kita yang bisa bantu Kamu " tambah Teddy dengan nada lembut.
" Sebentar deh, jangan bilang Kakek sama Papa anggap Aku gila sekarang ini? " tanya Dimas menatao kedua orang di sampingnya bergantian.
" Engga Kek, Pa Aku baik aja. Kalau masalah baso dan makan di taman emang Aku cuma pengen aja dan engga ada hubungannya sama masalah ini, Aku engga gila " tambah Dimas melihat keduanya saling tatap.
" Aku memang takut buat hadapi Papa mertua besok, tapi Aku engga gila tolong jangan anggap Aku kaya gitu "tambah Dimas lagi.
Meski beban yang di tanggungnya amat berat, namun Dimas tak merasa jika apa yang Ia lakukan saat ini adalah salah hingga hingga harus di anggap gila juga di tatap aneh sama semua orang. Ia hanya sangat menginginkan untuk melakukan hal tersebut tanpa tahu apa penyebabnya, Ia merasa sangat menginginkan baso kesukaan istrinya dan menikmati di luar saja namun harus di anggap aneh dengan tatapan penuh tanya oleh semua orang yang melihat dirinya.
__ADS_1