
Dengan mata membulat tajam Dimas menatap ke arah wanita yang tengah mengandung anak ke dua nya tersungkur di lantai tak berdaya dengan kedua pembantu juga Aulia yang sudah bersimpu di samping Rena mencoba untuk menyadarkan wanita cantik yang terlihat begitu pucat dan lemah.
" RENA!!! " teriak Dimas kencang lalu berlari menghampiri Rena dan bersimpu di samping tubuh Rena mencoba meraih kepala wanita yang ia cintai dengan kedua tangan kekar meletakkannya mendekat papa dada bidang yang sudah terlapis kemeja kerja rapih.
" Bangun sayang, kenapa Kamu bisa kaya gini " seru Dimas mengangkat tubuh lemah Rena menuju ke kamar tamu dan merebahkannya di sana.
" Bi, telfon dokter sekarang " pinta Dimas tegas ke arah bi Ijah yang mengikuti Dimas ke kamar tamu, yang dengan segera Ia berlari ke arah telfon rumah yang berada di ruang tengah dan mencoba untuk menghubungi Dokter keluarga.
Dimas menggosok tangan Rena yang terasa dingin dengan kedua telapak tangan nya dengan mata terus menatap ke wajah pucat istri nya dan bibir yang terus memanggil nama Rena khawatir. Aulia yang berada dalam gendongan bi Lastri terus menangis karena takut kehilangan mami yang ia sayangi.
" Bibi, apa mami meninggal seperti mami Auli ? " tanya Aulia di sela tangis nya karena yang ia tahu adalah ibu kandung nya telah meninggal dunia.
" Engga Non, Mami non cuma pingsan karena capek. Non berdoa buat Mami sama adik di perut Mami ya " jelas bi Lastri mengusap rambut Aulia berusaha menenangkan gadis kecil yang terlihat begitu ketakutan.
" Kenapa Rena bisa pingsan sih Bi ?" tanya Dimas kuat ke arah bi Lastri hingga membuat pengasuh putri nya tersebut merasa takut karena tatapan Dimas yang tajam.
" Itu Pak, dari kemarin Ibu tidak mau makan katanya mau tunggu Bapak makan malam " jelas Bi Lastri.
__ADS_1
" Gimana bisa kalian membiarkan seorang wanita hamil tidak makan sama sekali ? kalian tahu itu akan berbahaya bagi tubuh dan anak yang di kandung kan ?" seru Dimas setengah marah.
" Iya Pak, saya minta maaf. Kami sudah mencoba membujuk Ibu tapi beliau tidak mau Pak " jelas bi lastri yang memang sudah mencoba mengambilkan makan agar di makan oleh Rena namun tetap di biarkan tanpa ia sentuh sedikit pun.
Tanpa melanjutkan perkataan nya Dimas mengusap pipi Rena untuk mencoba membangunkannya dengan wajah yang sangat cemas. Tak lama Dokter Bram mulai memasuki kamar tamu dengan di antar oleh bi Ijah. Dokter Bram mulai memeriksa detak jantung dan juga darah Rena bersama Dimas yang berdiri di samping pria tinggi besar berkacamata tersebut. Usai memeriksa tubuh Rena dokter Bram menjelaskan kondisi Rena yang kelelahan dan kurangnya nutrisi serta dehidrasi dan kurang nya darah, lalu meminta Dimas untuk melakukan pemeriksaan lanjutan tentang kondisi janin ke rumah sakit karena di takutkan jika kondisi Rena berpengaruh pada janin nya. Dokter Bram menyarankan untuk memberikan Rena semua obat yang telah ia dapat dari pemeriksaan pertamanya saja.
Setelah memeriksa dan memberikan penjelasan pada Dimas, pria yang memakai kemeja biru tersebut pamit undur diri karena harus segera menuju rumah sakit memeriksa pasien di sana. Dengan di antar kembali oleh bi Ijah, Dokter Bram meninggalkan Dimas yang mengantarnya sampai pintu kamar tamu.
" Bi, tolong bantu Auli mengganti pakaian di kamar setelah itu ajak dia sarapan " perintah Dimas yang memberikan libur pada putrinya hari ini
" Auli, sama bi Lastri dulu ya sayang, papi jaga mami sama adik kamu di sini " tambah Dimas mengusap lembut rambut Aulia dan tersenyum melihat putrinya mengangguk menuruti kata kata Dimas.
Dimas duduk di tepi ranjang samping tubuh Rena dan membelai lembut rambut Rena yang sudah mulai tersadar dengan bantuan dokter Bram.
" Kamu makan ya, aku minta bibi ambilkan " ucap Dimas lembut sambil terus membelai rambut Rena mengarahkannya ke belakang.
" Iya mas, kamu juga " jawab Rena lemas dan langsung Dimas beranjak dari duduk nya untuk pergi menemui bi ijah di dapur namun tangannya tertahan oleh Rena.
__ADS_1
" Jangan pergi " seru Rena pelan menitikkan air mata nya karena takut jika Dimas akan pergi tanpa kabar seperti kemarin.
" Iya " jawab Dimas tersenyum lalu duduk kembali menggenggam tangan Rena.
Dimas mulai berteriak memanggil bi Ijah yang dengan segera bi Ijah menghampiri majikannya.
" Ada yang bisa bibi bantu Pak ?" tanya bi Ijah di samping Dimas.
" Iya, tolong ambilkan makan buat Ibu " seru dimas menatap ke arah bi Ijah.
" Baik Pak " jawab bi Ijah meninggalkan Rena dan Dimas pergi mengambil makanan di meja makan.
Rena yang masih melinangkan air mata nya mulai memohon kepada Dimas dengan suara yang masih lemah.
" Maafin atas ucapan aku mas, Aku terlalu emosi. Tolong kamu jangan tinggalkan aku, aku butuh kamu mas " seru Rena dalam air mata.
Dimas yang langsung memeluk tubuh rena hangat dengan perasaan menyesal dan bersalah karena niatnya untuk menghukum Rena atas tuduhan yang ia berikan ternyata malah berakibat buruk bagi Rena.
__ADS_1
" Aku yang minta maaf sama kamu sayang, aku tahu kata kata aku kemarin udah sakiti kamu. Tapi harusnya kamu juga jangan engga makan kaya gini kasihan kamu juga anak kita " ucap Dimas di samping telinga Rena sembari tetap memeluk tubuh lemah perempuan yang begitu berarti untuk nya kini.