
STOP PLAGIAT!
Mentari yang mulai menyusupkan sinar melalui jendela kamar mengejutkan Rena dari mimpi indah dan bergegas membangun putri yang masih nyenyak di samping tubuhnya.
" Sayang, bangun dulu sekolah udah setengah enam " seru Rena lirih menggoyangkan tubuh gadis kecil yang masih terlelap.
Perempuan yang sudah duduk di atas tempat tidur dengan menggulung rambut terus berusaha membangunkan putrinya yang mulai membuka mata. Rena mengajak Aulia untuk perlahan meninggalkan Dimas yang masih tampak nyenyak mendekap tubuh Brian. Ia langsung membantu putrinya bersiap karena hari semakin siang membuat keduanya buru buru menyelesaikan semuanya.
" Mami, Aku engga makan ya udah mau telat " seru Aulia berjalan menuruni anak tangga bersama Rena yang membawakan tas putrinya.
" Sarapan di jalan ya nak, Mami bawakan makan " sahut Aulia bergegas menuju dapur untuk mengambil kotak makan yang langsung Ia isi dengan makanan yang sudah tersedia di meja tak lupa susu yang Ia tempatkan pada gelas bertutup kuning milik putrinya.
" Harus di makan loh ya " seru Rena begitu sampai di teras rumah menyusul putrinya yang tengah memakai sepatu.
" Iya Mami " sahut Aulia bergegas meraih kotak makan juga gelas yang di bawakan Maminya sebelum Ia mencium tangan perempuan yang masih mengenakan daster tidur tersebut.
" Pak, jangan ngebut ya " pesan Rena pada Pak Adi seraya membantu putrinya masuk mobil dan menciumnya dari jendela yang terbuka lebar.
" Iya Bu " sahut Pak Adi langsung masuk bersiap menyalakan mesin untuk mengantar Nona kecil yang langsung menyantap sarapan di jok samping kemudi.
Rena masih menunggu di teras hingga mobil yang mengantar putrinya keluar baru Ia kembali ke dalam untuk membuatkan minum suaminya lalu membawanya ke atas agar ketika bangun bisa langsung di minum oleh lelaki yang masih mendekap tubuh kecil putranya dengan begitu lelap. Ia memilih untuk menyirami taman sembari menunggu kedua orang yang di cintai nya bangun tanpa mengganggu mereka.
Luka memar yang sudah mulai memudar di kedua tangannya tak perlu lagi Ia tutupi meski menimbulkan tanya oleh Bi Lastri yang menghampiri untuk menyapa majikannya usai memandikan kelinci sebelum di gendong kembali oleh Brian seperti setiap harinya. Rena berkilah jika memar yang mulai memudar pada lengannya hanya karena tubuh yang terlalu lelah hingga menimbulkan memar yang tak semudah itu di percaya oleh Bi Lastri karena Ia tahu tentang pertengkaran kedua majikannya yang begitu hebat untuk pertama kalinya. Namun Bi Lastri tak berani untuk bertanya apapun dan minta ijin untuk mengurus kelinci di samping rumah.
Lelaki yang mengenakan celana piyama panjang senada dengan kimono tidur berwarna hitam menggendong bocah laki laki kecil dengan wajah bantal tersebut menghampiri perempuan berbalut daster serta rambut tergulung tinggi memegang selang air untuk menyirami taman rumahnya.
" Pagi sayang" tegur Dimas langsung melingkarkan tangan kanan di perut istrinya dengan mencium lembut pipi Rena yang terkejut dengan sentuhan suaminya.
" Mas, udah bangun? " sahut Rena menoleh ke arah suami yang masih menggendong putranya.
Rena mencium pipi putranya yang sudah minta untuk turun untuk kembali melihat kelinci kesayangannya.
" Aku siapin pakaian Kamu buat ke kantor dulu ya " ucap Rena pada Dimas yang menurunkan putranya.
__ADS_1
" Engga usah sayang, Aku engga ke kantor hari ini " sahut Dimas kembali berdiri.
" Kenapa mas? " tanya Rena.
" Kangen sama Kamu " sahut Dimas memeluk istrinya manja mengembangkan senyum istrinya.
" Aku lanjutin ini dulu kalau gitu ya, Kamu mandi dulu " ucap Rena meraih selang air yang Ia buang ke tanah untuk menyapa suami juga anaknya tadi.
" Mandi nanti aja sama Kamu sama Brian " manja Dimas kembali melingkarkan tangan pada perut istrinya yang sudah mulai kembali menyirami taman.
Bibir lembut tak henti mencium tengkuk istri yang masih menyirami taman menguraikan rasa rindu yang teramat dalam untuk istrinya. Rindu yang telah lama Ia pendam karena kepergian ke Belanda juga pertengkaran yang berbuntut panjang. Meski merasa sedikit cemas akan adanya orang yang datang, Rena tak berani untuk menolak perlakuan manja suami yang terus melingkarkan tangan pada perutnya.
" Aku kangen banget sama Kamu " lirih Dimas terus mencium tengkuk istrinya.
" Mas, nanti ada yang lihat, engga enak kalau Bibi keluar atau Pak Adi datang" seru Rena dengan merasa geli akan nafas yang terasa begitu hangat di tengkuknya.
" Kenapa? biarin aja kan udah nikah sayang" sahut Dimas dengan santai tak ingin melepas sedikitpun istri yang baru berbaikan dengannya.
Suara pagar yang terbuka memaksa Rena melepas pelukan suaminya namun kembali lelaki itu melingkarkan tangannya lagi tanpa perduli mobil yang dikendarai Pak Adi mulai masuk diikuti dengan city car hitam di belakangnya.
" Ternyata mereka beneran balik lagi ya? Aku pikir waktu itu Dia cuma main ke kantor terus balik ke Paris " seru seorang perempuan dengan balutan blazer dan rok ketat sampai lutut berwarna coklat nude di dalam mobil yang mengikuti Pak Adi.
" Namanya cinta " singkat seorang lelaki yang mengemudikan mobil tersebut.
" Itu namanya engga tahu malu, udah ninggalin di ceraiin sekarang balik lagi " geram perempuan dengan tampang tak suka tersebut.
Pak Adi yang turun dari mobil di susul dengan kedua pegawai Dimas tersebut ragu ragu untuk menyapa Dimas, namun lelaki yang masih melingkarkan mesra tangannya menoleh ke arah ketiganya dan menegur mereka.
" Oh kalian sudah datang " seru Dimas pada kedua pegawai yang berdiri bersama Pak Adi.
" Pak Adi, tutup lagi pagar nya ya " pinta Dimas lembut.
Rena yang terkejut dengan kehadiran dua pegawai suaminya langsung mematikan air usai melepas pelukan suaminya lebih dulu.
__ADS_1
" Pagi Pak, Bu" sapa sopan pegawai dengan balutan kemeja putih di depan teras rumah.
" Pagi, silahkan masuk " sahut Rena sopan dan berjalan bersama Dimas menghampiri keduanya.
" Ibu di rumah? Saya pikir Anda kembali ke Paris " sapa perempuan yang terus memperhatikan dada Dimas yang sedikit terlihat dari balik kimono nya.
Rena hanya membalasnya dengan senyuman sambil memperhatikan kemana arah mata perempuan di hadapannya memandang.
" Mas, ganti baju dulu " pinta Rena lirih tak ingin tubuh suaminya dinikmati oleh perempuan lain.
" Engga usah sayang cuma sebentar kok " sahut Dimas tak menyadari pegawai perempuannya terus mengamati dada bidang yang sedikit terbuka.
" Ya udah tapi rapikan dulu, dada Kamu kelihatan " lirih Rena kembali dengan melirik dada suaminya yang tersenyum melihat kecemburuan terlukis di wajah istrinya.
Dengan senyum mengembang dan mata melirik perempuan dengan raut wajah cemburu di sampingnya, Dimas merapikan kimono yang Ia kenakan dan menutupi rapat dada bidangnya lalu menyuruh kedua pegawai tersebut masuk bersama Dimas lebih dulu masuk bersama istri yang terus Ia lingkarkan tangan pada pinggangnya sembari berjalan ke dalam rumah.
Perempuan yang telah mencoba mendekati Dimas juga Aulia selama dua tahun kepergian Rena tersebut benar benar merasa tak suka akan kedekatan Dimas juga Rena yang berjalan di hadapannya seraya terus mengumpat dalam hati. Meski Dimas tak pernah peduli dengan perempuan lain selain istrinya selama perpisahan mereka, namun pegawai perempuannya terus mencoba mendekati melalui Aulia yang tak mengerti akan maksud dan tujuan perempuan yang begitu baik padanya.
Dengan sopan, Rena mempersilahkan keduanya untuk duduk dan hendak beranjak pergi namun tertahan oleh Dimas yang meminta Rena untuk menemani dirinya karena tahu jika istrinya tengah merasa cemburu.
" Mas, Aku buatkan minum dulu" seru Rena lirih pada suami yang menahan tangannya untuk pergi.
" Ada Bibi sayang " sahut Dimas lembut dan tersenyum semakin membuat perempuan yang duduk di hadapan mereka terlihat jengkel.
" Maaf bukankah Bapak sama Ibu sudah bercerai ya? " tanya perempuan di hadapan Dimas dengan lancang yang langsung mendapat sorot mata dingin nan tajam dari Bosnya.
" Saya tidak menggaji Kamu untuk mengurusi kehidupan Saya! " tegas Dimas tak menyukai pertanyaan tentang kehidupan pribadinya.
" Maaf Pak " sahut perempuan yang langsung diam seribu bahasa karena tatapan tajam Dimas menuju ke arahnya.
" Mas " seru Rena menarik tangan suaminya karena takut akan amarah yang akan kembali pada diri lelaki yang tak henti menatap tajam dan dingin pada pegawainya.
Lelaki yang tak ingin membuat istrinya kembali takut padanya mencoba meredam rasa ingin marah pada pegawai perempuan yang tengah lancang bertanya masalah pribadi padanya. Ia meminta Bi Ijah yang membawakan minum ke ruang tamu tersebut untuk mengambil beberapa berkas di meja ruang kerjanya.
__ADS_1
Tak lama Bi Ijah kembali dengan berkas yang diinginkan majikannya seraya menatap tak suka pada perempuan cantik yang duduk di sebrang tempat majikannya duduk. Ia seakan mengingat selama dua tahun kepergian Rena yang membuat perempuan tersebut merasa dirinya sebagai majikan yang akan menggantikan posisi Rena di rumah ini. Rena yang menyadari tatapan tak suka Bi Ijah menegur asisten rumah tangga yang langsung tersadar dan pamit undur diri mengembangkan banyak pikiran di kepala Rena yang masih di genggam tangannya oleh Dimas sambil menerangkan tugas kedua pegawainya.