Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 163


__ADS_3

Stop Plagiat!


Sudah terlihat sebuah mobil SUV putih memasuki halaman rumah Dimas yang masih tak berani masuk rumah, dan rela menunggu hingga satu jam lebih di taman rumah bersama Brian. Seorang pria paruh baya turun dari mobil keluaran baru itu, membawa satu tas bekal berwarna biru muda.


Pak Nanang, supir pribadi Tyo yang diminta mengantar rujak serut oleh Natalie, menghampiri lelaki yang lebih dulu berjalan ke arah nya. Dengan sopan pria berpakaian abu tua itu menyerahkan tas yang Ia bawa lalu berpamitan pergi, karena harus mengantar Natalie dan Siska yang hendak pergi ke mall.


Tak lupa, lelaki dengan senyum mendapatkan rujak serut dari supir itu langsung menghubungi Mamanya dan berterimakasih. Langkah kaki dipercepat Dimas memasuki rumah untuk membujuk istrinya, usai lebih dulu menitipkan Brian pada Bi Lastri.


" Sayang, ini rujaknya udah di buatin lagi sama Mama " ucap Dimas menghampiri istrinya di dalam dapur.


" Sayang, udah dong kan Aku tadi engga tahu kalau Kamu mau makan. Lagian ini juga udah di buatin lagi sama Mama " bujuk Dimas berjalan menghampiri istri yang masih sibuk dengan microwave di atas meja dapur.


Tas berisi rujak serut, diletakkan Dimas di atas meja dapur agar Ia bisa memeluk perut istrinya dari belakang. Sisi wajah masih berjenggot tipis Ia usapkan pada pipi mulus Rena, sambil mengusap lembut perut dimana ada buah cinta mereka di sana.


" Ada Bibi, pergi sana " lirih Rena karena tangan kotor dengan adonan kue.


" Bibi nya aja diam kok, engga apa-apa ya Bi kan udah nikah " sahut Dimas menoleh ke arah Bi Ijah yang mengembangkan senyum geli atas tingkah majikannya.


" Saya pamit jemur pakaian dulu ya Bu, Pak " pamit Bi Ijah merasa rak enak harus melihat sikap manja majikannya.


" Iya Bi " singkat perempuan dengan tangan terus membuat bulatan bulatan kecil nastar, karena Ia juga mendengar suara mesin cuci yang berhenti.

__ADS_1


" Mas geli " tambah Rena menggeliat ketika jari jari suaminya dengan sengaja mengusap janin dalam perut istrinya.


" Masa sih? kalau gini? " sahut Dimas tersenyum lalu mengusap usap lagi wajah berjenggot nya ke samping leher istrinya.


Dengan mendengus kesal karena suami terus mengganggunya membuat kue, Rena langsung membalikkan tubuh masih dengan tangan kotor.


" Mas, Aku lagi buat kue. Kamu ke depan sana sama Brian " pinta Rena menaikkan pandangan menatap ke arah mata suami yang lebih tinggi darinya.


" Ya jangan marah dulu, kalau Kamu masih marah Aku tetap aja di sini gelayutin Kamu " ucap Dimas mulai menarik mendekat kedua pinggang istrinya.


Kedua tangan kotor sengaja di letakkan Rena ke kedua sisi tubuh suaminya menjauh agar tak mengenai kaos yang masih melekat pada tubuh lelaki di hadapannya. Kaki mulai berjinjit dari Rena hendak mencium pipi suaminya, namun tak sampai karena Dimas tak membungkukkan sedikit tubuh hingga membuat keduanya tertawa kecil.


" Engga sampai " tawa Rena menurunkan kaki yang berjinjit di sahut tawa gemas suaminya.


Pipi kiri berjenggot tipis itu langsung dicium lembut oleh bibir merah yang langsung mengembang senyum. Namun sikap genit Dimas malah mengarahkan semua sisi wajahnya untuk mendapat bagian dari bibir istrinya.


Senyum mengembang langsung terhenti ketika istrinya mulai mendaratkan ciuman kilas pada bibirnya, yang dengan cepat di nikmati oleh lelaki yang semakin menarik dekat pinggang istrinya.


" Mas, udah nanti Bibi kesini " ucap Rena mengingatkan.


" Jadi pengen, ke kamar yuk " goda genit Dimas menyeringai.

__ADS_1


" Jangan dulu ya mas, kan Kita belum ke dokter kandungan juga. Nanti sekalian nanya nanya masalah itu juga kalau udah tahu kondisi kandunganku " jelas Rena menolak lembut keinginan suaminya karena tak ingin hasrat tinggi Dimas membahayakan janin dalam perutnya.


" Iya sayang Aku lupa, Kita belum periksa. Nanti sore ya, Aku telpon Dokternya dulu habis ini " sesal Dimas benar benar melupakan untuk ke rumah sakit memeriksakan kondisi istri juga calon anaknya.


" Cium lagi aja deh " tambah genit lelaki yang langsung menikmati kembali bibir istrinya.


" Udah ah, Dia udah mau banget ini " tambah kembali lelaki yang merasakan keinginan untuk melakukan lebih namun harus Ia tahan.


Bergegas Dimas mengambil kotak makan dari tas dan Ia masukkan ke dalam lemari es agar lebih enak saat Istrinya nanti menikmatinya. Hasrat yang Ia kubur dalam, mengiringi langkah nya keluar dari dapur dan duduk di meja makan menunggu hingga miliknya kembali seperti semula, karena tak ingin merasa sakit saat Brian minta pangku atau gendong nanti.


Mata masih begitu lekat memperhatikan suaminya yang meneguk air minum di meja makan, sambil senyum Ia kembangkan karena suami begitu berusaha menurunkan keinginannya dengan mengatur napas.


" Mas, mas semenjak ngidam kenapa lucu banget sih " gumam Rena tersenyum menggigit tipis bibir bawah, sembari menggelengkan kepala menatap suaminya.


Sisa adonan kembali di bulatkan oleh Rena usai diisi dengan selai nanas. Kue kering kesukaan putrinya itu dengan sabar Ia buatkan, karena semenjak kembalinya Dia ke rumah, Aulia lebih sering memakan camilan hampir tiap waktu.


***


Beberapa jam sudah selesai mengerjakan semua pekerjaan membuat kue dan membersihkannya, Rena langsung mengambil rujak serut dalam lemari es dan Ia nikmati sembari duduk di taman menemani suami juga anak nya.


Pakaian kotor ayah dan anak itu, semakin gemas dilihatnya karena suami mau meladeni putranya memandikan kelinci kelinci. Meski harus menggunakan sarung tangan juga masker mulut, Dimas tetap telaten membersihkan satu persatu kelinci dengan bercanda bersama putranya, yang tak absen untuk sesekali mengarahkan air ke tubuh Papinya sambil tertawa bahagia.

__ADS_1


Napas kasar terus di buang oleh Dimas karena tingkah usil Brian sama seperti Kakaknya, namun seorang Ayah yang tak tega menghilangkan tawa bahagia putranya, tetap membiarkan saja tubuhnya di guyur hingga hampir sepenuhnya basah.


__ADS_2