Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 178


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Bunyi alarm pada ponsel, membangunkan tidur nyenyak Rena dengan tangan berusaha meraih ponsel di samping bantal nya. Mata seketika terbuka lebar tak mendapati suaminya di depan wajahnya seperti biasa. Namun pinggang terasa berat, menundukkan pandangan Rena dan melihat wajah suami begitu dekat dengan perutnya. Senyum mengembang melihat wajah lelap namun tak meninggalkan ketampanannya itu. Jari jari lembut membelai rambut lelaki yang semalam sudah berusaha keras menenangkan calon buah hatinya, namun malah membuatnya semakin aktif dan akhirnya Dia terlelap dengan sendirinya.


" Mas bangun, kenapa tidurnya di sini? " lembut Rena tak bisa bergerak karena tangan dan wajah suaminya terlalu dekat di perut.


" Papi.. " tambah Rena berseru sambil tersenyum memainkan brewok tipis suaminya.


Rasa geli pada wajah, seketika ditepuk tangan oleh Dimas hingga menggelakkan tawa istrinya. Berulang kali selalu sepeti itu hingga membuat sakit perut perempuan yang tengah mencoba mengatupkan kedua bibir, sembari tetap menatap gemas suaminya.


" Sayang jahil banget sih? Aku masih ngantuk " gerutu Dimas dalam suara parau dan mata tak sanggup terbuka, makin mengeratkan pelukan pada pinggamg istrinya.


" Pindah sini mas, Aku mau ke kamar mandi " lembut Rena menepuk bantal di samping bantalnya.


" Cium dulu, semalam Aku engga Kamu cium " manja Dimas mengusap usap wajah pada perut buncit istrinya hingga memekik geli.


" Ya makanya sini dulu mas, kalau Kamu dibawah gimana mau cium Aku nya? " ucap Rena menatap kebawah.


Perlahan Dimas menarik tubuhnya sendiri untuk berjajar dengan istrinya. Mata terasa lengket sama sekali tak terbuka namun tetap merayap ke atas, hingga kepalanya sudah berada di atas bantal. Bibir di majukan begitu dekat masih dalam mata terpejam, kembali memecahkan tawa Rena sambil memegangi perut.


" Ketawa sih? " protes Dimas membuka sedikit matanya.


" Bibir Kamu mas, jangan di maju majuin dong geli Aku lihatnya " sahut istri dengn memcoba menghentikan tawa tersebut, dan mencium lembut bibir suami di hadapannya.


" Mandi dulu sayang, baru ibadah jangan bangun tidur gini " ucap Dimas beranjak duduk membantu istrinya.

__ADS_1


" Makasih papi " manja Rena lalu mengikat rambut ke atas sebelum Ia ke kamar mandi.


" Sama sama Mami cantik " jawab tak kalah manja Dimas tersenyum.


Keduanya memilih mandi bersama agar mempersingkat waktu, karena sudah hampir pukul tiga. Tawa tak pernah terhenti dari Dimas setiap kali mandi bersama dengan istrinya, semenjak perut perempuan yang Ia cintai terlihat begitu besar. Tak jarang perasaan aneh ditertawakan juga muncul dari wajah cantik Rena, hingga merasa jengkel.


Tubuh gemuk dengan perut besar terlihat amat lucu bagi lelaki yang kini sudah membantu membaluri tubuh istrinya dengan sabun. Sebelum membangkitkan sesuatu yang dari tadi sudah protes, Dimas mempercepat untuk membilas tubuh istrinya karena tak ingin terlambat menjalankan ibadah bersama.


Keduanya tak pernah melewatkan satu waktu pun ketika bisa melakukan kewajiban bersama. Hal itu semakin mendekatkan juga mengeratkan hubungan suami istri, yang tak henti berterimakasih dalam ucapan syukur akan semua yang telah mereka dapat saat ini. Waktu juga sudah mengajarkan kedua orangtua itu untuk terus menghadapi segala hal dengan penuh sabar dan keyakinan.


Tak ingin melanjutkan tidur dan terlewat melakukan ibadah selanjutnya, Dimas memilih duduk bersandar di atas ranjang bersama istrinya. Lantunan ayat calon Papi dari anak ketiga itu, memanjakan telinga Rena yang mengikuti dalam hati. Calon anak mereka pun seakan ikut mendengar, hingga tanpa henti terus bergerak sangat kuat dan membuat Maminya menyipitkan kedua mata, sambil terus mengusap lembut perutnya.


" Sayang kenapa? sakit? " khawatir Dimas melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan istrinya.


" Hm, ngerayu " singkat lelaki dengan tangan mulai memegang perut istrinya.


Kembali laki laki tampan tersebut melanjutkan apa yang tadi di baca, dengan mengusap lembut perut dimana memang calon buah hatinya merespon melalui gerakan. Lagi lagi mampu membuat Dimas merasakan sebuah sensasi luar biasa, merasakan tendangan kuat dari calon buah hati yang sudah Ia tunggu tunggu kelahirannya.


***


Pukul 05.30 Dimas dan Rena keluar untuk berjalan jalan menghirup udara segar, dan sudah ada Tyo juga Siska lebih dulu keluar. Senyum ramah ke arah tetangga yang mereka lalui, tak pernah lepas dari wajah bahagia keempat orang yang kini sudah berjalan bersama.


" Kalian berdua ini engga takut kulit kakinya pecah pecah ya? " seru Dimas melihat Siska dan Rena berjalan tanpa alas kaki.


" Kata Mama kaya gini lebih baik loh mas Dimas " sahut Siska mulai terbiasa berjalan pagi tanpa alas kaki.

__ADS_1


Sedikit membingungkan, karena istri dari Tyo tersebut tak pernah sekalipun terlihat tanpa alas kaki, walaupun di dalam rumah. perempuan dengan profesi sama seperti Kakak iparnya itu, selalu menjaga kulit dan tubuhnya sebelum hamil. Namun kini Ia lebih terlihat santai walaupun melewati kerikil di jalan ataupun rumput dengan embun, tanpa sekalipun merasa risih seperti sebelum hamil.


" Mbak Siska, wah sudah besar ya. Pasti cewek deh nanti soalnya mbak kelihatan tambah cantik " tegur salah seorang ibu ibu dengan pakaian training hijau muda dan sepatu olahraga menghampiri keempatnya.


" Apa saja Bu, yang penting sehat " sopan Siska tersenyum.


" Wah, keluarga Mbak Siska ini memang cantik cantik dan ganteng ya. Jadi iri Saya lihatnya " tambah kembali ibu ibu tetangga rumah Tyo itu melihat ke arah Dimas dan Rena.


Keempatnya hanya membalas dengan senyuman atas pujian dari wanita paruh baya itu. Saling tegur sapa selalu dilakukan Siska pada semua tetangga nya, mengikuti jejak Rena yang memang lebih dulu sering berkomunikasi dengan dengan tetangga kompleks.


Kesibukan Siska dulu, membuatnya tak terpikir sama sekali untuk saling tegur sapa dengan tetangga, karena memang waktunya habis untuk bekerja. Tapi kini Ia lebih sering berinteraksi dengan semuanya, bahkan mengikuti kegiatan rutin bulanan.


" Sayang, Aku dibilang ganteng. Ibu itu engga tahu kalau anak Aku mau tiga " tawa Dimas tadi diperhatikan dengan seksama oleh tetangga Adiknya.


" Maksudnya Aku, bukan Mas Dimas "celetuk Tyo menggoda dan terdorong punggungnya oleh tangan berotot Kakaknya.


" Orang tadi lihat ke Aku bukan Kamu, jadi yang ganteng Aku dong " protes tak mau kalah Dimas, mendapat gelengan kepala kedua perempuan yang langsung menggandeng lengan suami mereka masing masing.


" Sama sama ganteng " seru kedua istri tersebut dan kembali melanjutkan langkah, dengan Tyo juga Siska berjalan di depan.


Seorang penjual sayur menggunakan motor, menjadi pelabuhan sementara Rena dan Siska untuk sekedar berbelanja, karena ingin memasak bersama usai pulang jalan jalan.


Dimas dengan hidung sensitifnya, lebih memilih menjauh karena bau ikan menggantung pada kayu yang terpasang pada keranjang berisi sayuran, terbuat dari bambu tersebut.


Tanpa ingin menyinggung si penjual, Dimas berpura pura berjalan bersama Tyo menjauh demi melegakan hidungnya. Hidung lelaki tampan itu memang tergolong sensitif pada bau dari dulu, dan tak pernah tahan pada bau yang tak disukainya. Tak jarang hal itu juga membuatnya mual hingga kesakitan sendiri, makanya Dia selalu menghindari setiap bau yang tak disuka agar tak menyinggung orang lain.

__ADS_1


__ADS_2