
STOP PLAGIAT!
" Mami, Adik udah bangun engga mau sama Bibi " seru Aulia dari balik pintu kamar orangtuanya dan dengan cepat Rena beranjak dari duduknya.
" Iya sayang " sahut Rena dari dalam kamar dan lebih dulu ke kamar mandi untuk mencuci mukan karena tak ingin putrinya tahu jika Ia usai menangis.
Mata Dimas hanya mengikuti kemana langkah Rena pergi yang tak mengucapkan apapun ketika perempuan yang langsung beranjak meninggalkannya begitu mendengar panggilan Aulia. Rena yang sudah membasuh wajahnya, keluar kamar tanpa menatap Dimas karena masih merasa takut akan kemarahan suami yang sampai memukul pintu almari dengan amarah yang menyelimuti dirinya.
Lelaki yang sudah mengenakan kemeja kerja itu masih duduk di sofa dengan menyandarkan kasar tubuhnya pada sandaran sofa lalu memijat keningnya mengingat akan kemarahan yang begitu keterlaluan hingga membuat istrinya sangat ketakutan. Perasaan bersalah yang timbul pada diri Dimas membuatnya sangat menyesal telah melampiaskan amarah pada istri yang begitu sabar menghadapi setiap emosinya juga tak pernah memperdulikan dirinya demi merawat kedua anakanya.
Pertemuan berbalut rasa rindu yang harusnya menjadi momen paling menyenangkan ketika bertemu kembali, malah menjadi sebuah hal yang amat menyakitkan untuk keduanya, terlebih ketika Dimas tak mampu mengendalikan amarahnya begitu mengetahui jika istrinya tak tidur bersama dirinya yang menunggu hinga dini hari. Lelaki yang tengah membuat istrinya menangis itu menghubungi sekretarisnya agar membatalkan acaranya di luar Kota hari ini dengan alasan kurang enak badan dan meminta untuk di atur kembali jadwal untuk minggu depannya.
Ia tak ingin meninggalkan Rena karena kesalahan yang Ia perbuat dan pasti akan semakin dalam jika Ia harus pergi tanpa adanya penyelesaian lebih dulu yang membuatnya tak bisa fokus pada kerjaannya. Rena yang masih merasa takut merawat Brian di kamar Aulia bersama Bi Lastri yang membantu putrinya berkemas untuk pergi sekolah bersama Papinya seperti kemarin yang sudah di janjikan oleh Dimas pada Aulia.
Setelah keduanya siap, Rena meminta putrinya untuk memanggil Papi yang masih berdiam diri di kamar agar sarapan lebih dulu sebelum pergi ke kantor, sementara Ia dan Brian lebih dulu turun bersama Bi Lastri.
" Papi " seru aulia mengetuk kembali pintu kamar Dimas yang di suruh masuk oleh Papinya dengan segera.
" Ayo makan dulu, Auli nanti telat " ucap Aulia begitu melihat papinya duduk di sofa.
" Mami mana ?" tanya Dimas karena putrinya yang memanggil dirinya bukan Rena.
" Mami udah turun sama Adik, ayo buruan " sahut Aulia dan di angguki oleh Dimas lalu beranjak untuk menyusul Rena.
Dibawah, Rena sudah menyiapkan makan untuk dirinya dan Aulia, namun tak mendapati istrinya di sana. Makanan yang sudah tersaji di piring tempat Aulia dan Dimas biasa duduk sengaja di siapkan Rena sebelum Ia pergi ke depan menyuapi Brian meski Dia sendiri belum sarapan.
" Ibu mana Bi ?" tanya Dimas pada Bi Ijah.
" Ibu sedang menyuapi Den Brian di depan Pak " sahut Bi Ijah menuangkan air minum untuk Dimas dan Aulia.
" Ibu udah makan ?" tanya Dimas kembali masih berdiri di balik kursi tempat Ia membantu putrinya untuk duduk.
__ADS_1
" Belum Pak " sahut Bi Ijah dengan sopan.
" Auli makan dulu ya, Papi mau panggil Mami dulu " pamit dimas meninggalkan putrinya menyusul ke depan dimana Rena menyuapi putra mereke.
Mata yang tertuju pada ayunan taman dengan adanya istri juga putranya yang menggendong kelinci membuat Dimas melangkahkan kaki menghampiri istri juga anak keduanya. Ia berdiri di depan rena yang menunuduk usai Ia melihat sekolas kehadiran suaminya.
" Kamu engga sarapan ?" tanya Dimas berdiri di depan ayunan yang di duduki oleh Rena dan Brian.
" Iya nanti setelah Brian selesai makan, Kamu makan duluan aja sebelum berangkat " seru Rena menundukkan wajah tanpa melihat ke arah Dimas.
" Makan sekarang, Aku engga mau Kamu sakit. Biar Brian makan sama Bi Lastri " ucap Dimas.
" Engga usah, biar Aku bawa makan kesini aja " sahut Rena berdiri dan berjalan melewati suaminya.
Dengan cepat Dimas meraih tangan Rena yang langsung merasa takut dengan debaran jantung tak menentu.
" Ini Aku mau ambil makan kok " ucap Rena dengan nada sedikit gemetar tanpa berani menatap suami yang sudah ada di hadapannya.
" Jangan pukul Aku di sini, paling gak Kamu bisa pukul Aku saat engga ada anak anak " seru rena lirih yang entah mnegapa begitu menyakiti hati Dimas.
" Aku mau pukul Kamu sayang, Kamu jangan takut gini sama Aku. Aku minta maaf udah kasar sama Kamu " ucap Dimas dengan nada tukus beriringan dengan hatinya yang sakit melihat istrinya begitu ketakuatan kepadanya.
Lelaki yang berdiri di hadapan Rena tersebut menarik tubuh istrinya mendekat dan memeluknya erat dengan perasaan begitu bersalah dan semakin menadi ketika melihat Rena seakan trauma akan emosinya waktu di kamar pagi ini.
" Tolong jangan takut seperti ini ke Aku, Aku benar benar minta maaf atas semua sikap kasarku tadi " ucap Dimas dengan nada begitu menyesal dan tulus.
" Iya " singkat Rena melepaskan diri dari suaminya dan berlari ke dalam untuk mengambil makan untuk dirinya sebelum suaminya kembali marah karena Rena tak menuruti perkataannya.
Rena yang berlari menjauh dari suaminya dengan melepaskan pelukan membuat Dimas menghembusakan napasnya panjang seraya meletakkan tangan di pinggang dan tangan satunya mengusap wajahnya karena merasa begitu bodoh membuat istrinya sampai ketakutan pada dirinya.
" Brian, Kamu kan udah mandi nak. Ini kotor engga boleh pegang ini lagi " ucap Dimas menagmbil kelinci yang tengah di gendong putranya yang langsung menangis ketika Papinya mengambil hewan kesukaannya.
__ADS_1
" Brian udah diam dong, itu kotor nak nanti Kamu kena bulunya " tambah Dimas berjongkok di hadapan putranya yang semakin kencang menangis.
Rena yang sudah mengambil makan berjalan cepat begitu mendengar suara tangis Brian yang terdengar hingga dalam rumah lalu menghampiri bocah tersebut dan menggendongnya dan mengambilkan kelinci yang di tunjuk oleh putranya agar Ia berhenti menangis namun lagi lagi di ambil oleh Dimas.
" Itu kotor " seru Dimas tegas ke arah Rena yang berusaha menengkan putranya yang kembali menangis.
" Brian, Papi bilang engga boleh mainan itu ya engga boleh " tegas Dimas ke arah putranya yang menangis.
" Kamu jangan pernah marahin anak ya, Brian masih kecil engga seharusnya Kamu marahin Dia " seru Rena menatap jengah suaminya dan berlalu pergi meninggalkan Dimas yang membuang kasar napasnya dan berjalan ke dekat mobilnya yang sudah di siapkan Pak Adi.
" Auli cepat udah siang ! " teriak Dimas dari dalam mobil.
Rena yang mendengar teriakan Dimas meminta putrinya untuk cepat ke depan bersama dengan dirinya membawa tas Aulia sambil menggendong Brian lalu meinta Pak Adi untuk mengantar Aulia karena suaminya yang masih terselimut emosi membuat Rena tak tega jika putrinya di antar oleh Papinya yang mungkin akan memarahinya di jalan. Dengan memberikan pengertian pada Aulia, Rena membantu Aulia naik ke dalam mobil setelah Ia mencium tangan Dimas.
" Pak, tolong antar Aulia ke sekolah sekalian ini tolong belikan susu buat Brian ya " ucap Rena sopan begitu Aulia sudah masuk ke dalam mobil dan menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu pada Pak Adi.
" Iya Bu " sahut Pak Adi lalu bergegas masuk kedalam mobil mengantar nona kecilnya ke sekolah.
Dimas yang tak suka dengan sikap Rena karena meminta Pak Adi mengantar putri mereka sementara Ia sudah bersiap di dalam mobil langsung keluar dari dalam mobil dan membanting pintu mobil kuat.
" Kamu apa apaan sih ? Kamu engga tahu Aku udah tunggu Auli di dalam malah Kamu suruh Pak Adi " tegas Dimas dan ditinggalkan oleh rena yang tak ingin meladeni amarah suaminya yang mungkin akan melukai dirinya.
" Rena ! " bentak Dimas mengejar istrinya dan meanrik kuat prgelangan istri yang masih menggendong putranya.
" Bi Lastri ! " teriak Dimas yang dengan cepat asisten rumah tangganya menghampiri Dimas dengan raut wajah marah.
" Ambilkan makan yang baru buat Brian dan suapi ! " perintah Dimas tegas pada Bi Lastri tanpa sedikitpun melepas genggaman pada pergelangan tangan istrinya.
" Baik Pak " sahut Bi Lastri meraih tubuh Brian dari majikan yang menahan rasa sakit atas genggaman kuat suminya.
Dimas menyeret kasar Rena ke atas diiringi tatapan penuh tanya dari Bi Lastri juga Bi Ijah yang saling pandang, Lelaki yang kembali marah tersebut mengunci rapat pintu kamar dan menghempaskan tubuh Rena ke atas ranjang kuat hingga istrinya memekik kesakitan.
__ADS_1