Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 13


__ADS_3

STOP PLAGIAT, HARGAI KERJA KERAS SAYA JUGA KELUARGA SAYA SEBAGAI PEMILIK KISAH.


"Terima kasih karena Kamu sudah mau jadi istri Aku, Ibu untuk Aulia dan menyayangi dia dengan tulus. Aku tidak tau harus ngomong apa lagi selain terima kasih ke Kamu," tulus Dimas memeluk istrinya seraya mengusap lembut rambut perempuan sudah membalasa pelukan.


"Mas, gak perlu terima kasih. Itu semua sudah kewajiban Aku sebagai Ibu, lagipula Aku juga menyayangi Mas sama Aulia," jawab Rena tak kalah tulus, tanpa sengaja mengutarakan isi hatinya sendiri.


Merasa terkejut juga bahagia  mendengar perkataan istrinya, Dimas mengeratkan pelukan. lelaki yang sudah mampu mencintai Rena sedikit demi sedikit itu tak menyangka jika Rena menyayangi dirinya, entah mulai dari kapan. Namun ada hal lain dalam hatinya, sebuah hal tak mampu diutarakan.


"Maaf," batin Dimas.


"Aku kebawah dulu, Mas. Mau bantu Bibi nyiapin makan malam," pamit Rena melepaskan pelukan perlahan.


Mendapat anggukan kepala dari suaminya, Rena keluar meninggalkan kamar serba pink putrinya dan menuju ke dapur untuk membantu segala sesuatu yang perlu disiapkan. Sedangkan Dimas duduk termanggu di tepi ranjang menatap kosong kedepan.


"Aku harus segera mengatakan segalanya pada Rena, gak akan baik kalau Aku bohong sama dia. Ya, Aku harus mengatakan semuanya hai ini." batin Dimas meyakinkan dirinya sendiri.


Ia sendiri belum mempercayai akan apa yang telah dilakukan pada Rena barusan, namun membuat perkataan tulus membahagiakan itu membuatnya tersentak akan sebuah kejujuran harus diungkapkan. Bagaimanapun juga ketulusan hati Rena tak boleh terus mendapat kebohongan dan siap menerima segala konsekuensi di depan.


Sementara di dapur, Rena sedikit melamun membayangkan apa yang sudah terjadi tadi. Hatinya merasa tak tenang akan sebuah kata terlontar tanpa sengaja. Sebuah perasaan dipendam dari awal bertemu, tak pernah diduga akan ia ucapkan lebih dulu yang jelas itu sangat memalukan.


Sedikit rasa takut juga menghiasi batin Rena, mengingat ucapan Dimas yang masih belum mampu membuka hati. rena takut jika sampai suaminya marah atau justru meninggalkan ketika ia tahu semua perasaan yang di ungkapkan. rena tak pernah mau berpisah dari Dimas meskipun ia harus menunggu cinta itu diberikan.

__ADS_1


Kecemasan dirasakan membuatnya melamun dengan tangan tetap mengaduk sayur. Tanpa sengaja tangan memegang gagang panci itu tersiram kuah air panas dari tangan satunya, ia memang mengaduk lalu mengangkat sendok sayur hingga menyiram sendiri tangan.


"Au," pekik Rena terkejut akan rasa panas ditangan kiri.


"Ibu, Ibu tidak apa apa?" tanya Bi Ijah khawatir.


"Engga, Bi. Cuma kena air panas aja kok, bukan hal serius." Rena menjawab memaksakan senyum lebar, berjalan ke arah wastafel untuk mengucur tangannya.


"Saya ambilkan obat dulu," pamit Bi Ijah cepat, menuju kotak obat dekat tangga.


"Engga usah, Bi. Biar Aku aja, Bibi lanjut masak ya?" cegah Rena dengan tangan sangat merah.


"Baiklah, Bu. Kalau begitu lebih baik Ibu istirahat, biar Saya yang menyelesaikan semuanya." Bi Ijah mematuhi keinginan majikannya.


"Sama sama, Bu. Ini sudah tanggungjawab Saya," kata Bi Ijah sopan.


Rena pergi meninggalkan dapur untuk mengambil obat tanpa henti meniup tangan terasa panas juga perih. Tanpa disadari, suaminya sudah menapaki anak tangga untuk turun ingin ke ruang kerja, namun terhenti ketika melihat ke arah samping tangga.


"Kamu kenapa?" tanya Dimas menghampiri dengan wajah khawatir.


"Engga apa apa, Mas." Rena melebarkan senyum dengan tangan dipegang oleh suaminya.

__ADS_1


"Engga apa apa gimana?@! tangan Kamu melepuh kayak gini!" tegas Dimas menatap ke arah tangan sangat merah.


Menuntun istrinya untuk duduk, Dimas membawa salep luka bakar tadi di ambil oleh rena dalam kotak obat. Perlahan seraya meniup tanpa henti, Dimas mengoleskan obat menggunakan cutton bud yang juga diraihnya tadi. Tampak sebuah kebahagiaan dalam wajah Rena mendapati suaminya tampak perhatian padanya.


"Udah, Mas. Aku engga apa apa, kalau mainnya di dapur ya wajar dong kena luka bakar kayak gini, jadi Mads engga perlu khawatir." Rena berucap lembut, melihat kekhawatiran dalam sorot mata suami tanpa berhenti meniup lukanya.


"Hati hati dong, untung cuma tangan. Kalau sampai semua badan Kamu gimana?!" tegas Dimas menatap tajam ke arah istri malah memberinya senyuman.


"Sekarang tunggu sini dan duduk diam, Aku balikin obat dulu!" tegas kembali Dimas, berjalan ke arah kotak P3K dekat tangga.


Meletakkan obat kembali pada tempatnya, agar lebih mudah dicari ketika dibutuhkan. Dimas pun kembali ke sofa dimana istrinya duduk, dan mulai duduk disampingnya meraih tangan untuk diletakkan di atas pangkuan. Remot di samping tempanya duduk, diraih Dimas dan mulai menyalakan TV mencari chanel olahraga favoritnya.


"Mas lepasin ya, malu sama Bibi." Rena meminta lirih pada lelaki menatap ke arah TV.


"Engga, udah diam disini temenin Aku nonton TV." Dimas berucap tanpa menoleh, menarik kembali tangan hendak diturunkan diri dari pangkuan.


Rena pasrah akan perlakuan suami yang fokus TV tersebut, ia duduk bersandar membiarkan tangan berada id atas pangkuan suaminya sembari menikmati acara TV. Memang Rena marasa canggung, takut jika sampai asisten rumah tangga atau Adik juga Adik iparnya melihat nanti.


Sepertinya kejujuran hendak dikatakan Dimas takkan mungkin diungkapkan hari in, mengingat kondisi Rena. Ia harus menunggu lagi sampai semua dapat diungkapkan dengan gamblang tanpa lagi sebuah kebohongan, seperti apa yang dikatakan seseorang ditempat lain itu?


Walaupun nomor tak dapat lagi dihubungi, Dimas selalu menceritakan segalanya meski tak tahu kapan pesan itu akan masuk. Ia mengatakan jika sudah bisa mencintai Rena dan akan menjalankan kewajiban sebagai suami pada umumnya.

__ADS_1


Dimas tahu betul jika cerita yang bagi mungkin akan sangat menyakiti, tapi bagaimanapun dalam setiap hubungan memang memerlukan kejujuran di dalamnya. Lagipula seseorang yang ingin dimilikinya lebih dulu itu, cukup kuat menerima segala hal dalam hidup dan menunjukkan keceriaan setiap waktu tanpa ingin ada yang tahu apa perasaan dalam hatinya.


Hanya sang Mama yang mampu memahami perempuan itu luar dalam, ia kerap kali bercerita tentang banyak hal namun tak sepenuhnya ketika ia merasa sedih. Ia tak mau orang lain memikirkan dirinya lebih, dan memilih menanggung sendiri kesedihan juga luka hati mungkin dirasakan karena sebuah keadaan.


__ADS_2