
STOP PLAGIAT!
" Mas, Kamu kenapa? Kamu sakit? " seru Rena melihat suaminya masih di posisi yang sama ketika Ia pergi dan berjongkok di hadapan lelaki dengan wajah lesu tersebut.
" Mas? " tambah Rena memegang lembut sisi wajah suaminya.
" Kenapa Kamu menjauh dari Aku? kenapa Kamu takut sama Aku? Aku tahu Aku salah tapi jangan seperti ini, Aku engga mau Kamu takut sama Aku. Aku engga akan lakuin itu lagi, Aku janji " ucap Dimas tanpa sadar menitikkan air mata dengan wajah tertunduk.
" Mas, maafin Aku. Aku engga bermaksud kaya gitu " sahut Rena berdiri lalu memeluk suaminya.
" Kasih Aku kesempatan untuk perbaiki semua kesalahanku " pinta Dimas tulus.
" Iya mas, Kita mulai semua dari awal ya " ucap Rena masih mendekap suami yang melingkarkan tangan di pinggangnya.
Dengan berusaha mengusir rasa takutnya, Rena duduk di samping Dimas dan memegang lembut kedua sisi wajah suaminya lalu mencium lembut bibir Dimas lalu menatap dalam mata lelaki dengan pandangan sendu di hadapannya.
" Maaf buat Kamu sedih kaya gini mas, Kita mulai semuanya lagi dan Kita lupakan semua yang sudah terjadi " seru Rena meski Ia sendiri tak begitu yakin jika bisa cepat melupakan perasaan takut dengan kemarahan yang selalu membayangi dirinya.
Dimas menganggukkan kepalanya dan mengembangkan senyum lalu memeluk istri di hadapannya seraya berjanji pada dirinya sendiri takkan pernah mengulang kesalahan yang mungkin membawanya dalam kehancuran ketika istrinya benar benar tak lagi mencintai dirinya dan memilih untuk pergi.
" Sekarang mas mandi terus Kita makan ya " ajar Rena dengan lembut dan penuh kasih sayang.
" Aku engga lapar sayang " sahut Dimas.
" Tapi Aku lapar mas, Aku mau makan sama Kamu " bujuk Rena memasang wajah manja sembari memegang perutnya.
" Ya udah Aku mandi dulu, Kamu duluan aja kasihan anak anak " sahut lelaki dengan senyum mengembang melihat wajah istrinya.
" Aku tunggu Kamu di sini " sahut Rena.
__ADS_1
" Ya udah, bentar ya " jawab Dimas mencium kening istrinya dan bergegas untuk mandi tak ingin membuat istri juga anak anaknya menunggu terlalu lama.
Meski luka pada tubuh juga batinnya belum sembuh sepenuhnya, namun melihat suami yang Ia cintai tampak begitu sedih Rena berusaha untuk melupakan semua yang terjadi meski begitu menyisakan luka yang teramat dalam. Kekecewaan yang Ia rasakan tak akan ada artinya dibanding melihat anak juga suaminya tersenyum dan bahagia. Baginya kebahagiaan keluarga kecilnya adalah prioritas nomor satu yang Ia junjung tinggi di atas perasaannya sendiri.
Dimas yang menyelesaikan mandinya singkat langsung menuju kamar ganti dan di ikutin Rena untuk mengambilkan pakaian suaminya seperti biasa, meski tengah tak saling bicara Ia tetap menjalankan kewajibannya pada Dimas usai pertengkaran hebat mereka.
Dimas dan Rena berjalan bersama menemui Brian juga Aulia seusai suaminya mengganti pakaian, dimana anak anaknya sudah selesai menikmati makan malam dan sudah duduk di depan TV bersama Bi Lastri.
" Papi " teriak Brian berlari ke arah Dimas yang langsung meraih putranya untuk di gendong.
" Anak Papi, udah makan? " tanya Dimas sembari mencium pipi putranya yang semakin bulat.
" Udah " sahut Brian memeluk Dimas dan di ajak untuk duduk bersama istrinya menikmati makan malam mereka.
" Auli, kalau lihat TV duduk " seru Dimas karena putrinya menonton TV dengan tiduran di atas karpet sembari memeluk boneka beruang besar kesayangannya dari kecil.
" Iya Pi " sahut gadis kecil yang langsung duduk bersandar di sofa belakangnya.
" Ih Papi manja banget, tadi katanya engga lapar " seru Aulia memperhatikan Dimas dengan lahap di suapi oleh Rena yang tersenyum mendengar ucapan putrinya.
" Kan Kamu yang bilang kalau Papi engga makan nanti sakit " sahut Dimas dari ruang makan.
" Papi, oleh oleh Aku mana? " ucap Aulia yang sudah menghampiri Papinya sembari memakan ayam goreng di meja.
" Jorok ih belum cuci tangan langsung makan " gerutu Dimas di balas cengengesan putrinya sambil terus mengunyah.
" Ada habis ini Kita ke atas Kamu bongkar sendiri koper Papi " tambah Dimas masih di suapi Rena.
" Oke, Kita bongkar bareng bareng ya Dek " ucap Aulia ke arah Brian.
__ADS_1
" Kalau oleh oleh aja cepat, suruh belajar susah banget " gerutu Dimas.
" Ih engga, tanya Mami Aku belajar tiap pulang sekolah sama malamnya. Iya kan Mi? " protes Aulia.
" Iya mas, Dia pasti ulang pelajaran hari ini kalau pulang sekolah habis bangun tidur, malamnya belajar buat besok " jelas Rena selalu mendampingi putrinya untuk belajar.
" Nilai Kamu bagus? " tanya Dimas tak pernah sekalipun melihat nilai putrinya yang selalu meminta Bi Lastri tiap pengambilan raport ketika tak ada Rena.
" Bagus dong, makanya Papi jangan kerja terus biar bisa temani Aku belajar " ucap Aulia.
Dimas yang memang selalu s uji buk dengan pekerjaan tak bisa menjawab putrinya dan memilih untuk tersenyum dengan mengacak rambut Aulia yang pintar memrotes kesibukan Dimas sekarang karena tak pernah memiliki waktu untuk keluarga.
Setelah menyelesaikan makan dan duduk sebentar, keluarga kecil yang kembali terlihat akrab tersebut menuju kamar Dimas untuk membongkar koper yang belum sempat terjamah sama sekali. Di dalam koper yang sudah berhasil dibuka tersebut Aulia juga Brian mengambil oleh oleh yang dibelikan oleh Dimas.
" Ini punya Aku Pi ?" tanya Aulia membuka kantung berisi baju tidur istrinya yang sengaja Ia beli dan mengarahkan ke orangtuanya.
Dengan membulatkan mata, Dimas yang duduk bersama Rena di sofa membiarkan kedua anaknya membongkar isi koper langsung bergegas berlari dan mengambil gaun tidur berwarna hitam di tangan Aulia membuat Rena membulat tak percaya suaminya membeli hal seperti itu yang bahkan tak pernah Ia bayangkan untuk memakainya sama sekali.
" Anak kecil " gerutu Dimas memasukkan kembali gaun tidur Rena kedalam kantung yang masih ada empat buah lagi di dalamnya.
" Ini punya Kamu sama punya Adek, ini punya Bibi terus ini punya Pak Adi " ucap Dimas membagikan beberapa tas kertas berisi banyak barang untuk semua penghuni rumahnya.
" Makasih Papi, engga perlu banyak banyak sih sebenarnya tapu kalau Papi paksa Auli mau terima dengan senang hati " ucap Aulia cengengesan menerima banyak oleh oleh dari Papi yang menatapnya dengan senyum.
" Papi engga maksa, sini balikin bisa Papi jual di kantor " goda Dimas mengambil beberapa tas belanja yang di dekap Aulia lalu di raihnya kembali dengan cengengesan kembali.
" Brian engga terimakasih sama Papi? " tanya Dimas melihat putranya yang masih sibuk mengacak acak koper lalu berjalan ke arah Dimas yang berjongkok lalu memeluk dan mencium pipi Dimas diikuti Aulia yang mencium pipi sebelah papinya.
" Makasih Papi " ucap Keduanya bersamaan dengan dipeluk oleh Dimas.
__ADS_1
" Sama sama sayangnya Papi" jawab Dimas dengan penuh rasa bahagia yang juga membuat istrinya begitu bahagia melihat ketiganya tersenyum dan saling meluapkan kasih sayang mereka bersama.
Dimas menggendong kedua anaknya bersamaan ke dalam kamar mandi untuk membantu membersihkan gigi sebelum tidur yang sudah menjadi kebiasaan mereka setiap harinya. Lelaki bertubuh tegap tersebut menggendong kembali keduanya ke atas tempat tidur besar miliknya untuk tidur bersama malam ini.