
STOP PLAGIAT
" Lihat apa Dim? " goda Erwin sembari menepuk lembut pundak menantunya yang terkejut dengan senyum malu malunya.
" Mas Dimas, matanya sampai mau lompat " tambah Tyo menggoda Kakaknya yang menggaruk tengkuk tersebut.
Lelaki yang masih menyandarkan tangan di ats sandaran tangan sofa melanjutkan untuk menatap istrinya dengan gerakan pinggang begitu gemulai hingga kepalanya kembali bersandar pada telapak tangan sembari menatap tajam Rena yang masuh fokus menunjukkan beberapa gerakan jaipong pada Aulia.
" Seksi banget " gumam Dimas lirih yang terdengar seperri bisikan bagi Erwin yang duduk di samoingnya mulai mengembangkan senyum menahan tawa mendengar ucapan menantunya.
Gelengan kepala Dedrick dengan mata masih mengamati cucu pertamanya itu tak oernah henti membuatnya tersenyum geli sembari menyenggol lengan Teddy agar juga melihat Dimas.
" Ren, sekarang biar Auli yang coba " tegur Teddy ke arah menantunya agar anak mesumnya tak lagi melongo dengan mata hampir lepas.
Rena menghentikan gerakan juga musik yang mengiringi tiap gerakan tubuhnya dengan seketika menyadarkan suami dengan segala fantasi di kepalanya.
" Kok berhenti? " tegur Dimas tanpa sadar ketika istrinya melangkah pergi menghampiri Aulia dengan seksama mengamati maminya bersama Siska yang juga mengagumi kakak iparnya tersebut.
Gelak tawa menggelegar seketika mendengar ucapan Dimas yang Ia lontarkan tanpa sadar.
" Suami Kamu masih mau lihat lagi nak " goda Dedrick.
" Mas Dimas ketagihan ya " celetuk Siska menahan tawa.
" Papi jatih cinta sama Mami ya " sahut Aulia polos tersenyum ke arah Dimas di iringi tawa semua orang di ruang keluarga tersebut.
Rena menatap wajah suami yang mulai kembali malu malu dan menghampirinya karena melihat wajah mengantuk putra di atas pangkuan Papi yang tak menyadari jika bocah kecil dalam pangkuannya tersebut mulai mengantuk.
__ADS_1
" Mas, Brian ngantuk tuh " seru Rena meraih tubuh anaknya untuk Ia gendong.
" Mas, mas sampai engga sadar anaknya ngantuk daritadi untuk engga jatuh Brian " celoteh Tyo menggoda Kakaknya kembali.
" Bawa ke kamar tamu aja nak " pinta Dedrick.
" Iya Kek " sahut Rena menggendong tubuh Brian dan menepuk lembut punggung bocah yang melingkarkan tangan di pundak Maminya.
" Auli, latihannya nanti dirumah aja ya sayang sekarang Kamu juga tidur dulu " tambah Rena pada putrinya.
" Iya Mami, Aku tidur sama Tante ya " pinta Aulia di anggukki oleh Rena.
Permpuan yang dengan sabar menggendong tubuh putra mulai terlelap di pundaknya itu melangkah menuju ruang tamu dan di ikuti oleh Dimas di belakangnya.
" Kemana Dim? " tanya Erwin melihat Dimas beranjak dari duduk.
" Mau siapin tempat Brian dulu Pa " sahut Dimas membuat lainnya menyunggingkan senyum seakan tahu maksud dari Dimas mengikuti istrinya ke kamar.
" Apa sih Dek " tegus Dimas jengah ke arah Lelaki dengan balutan kaos putih tersenyum geli ke arahnya.
Dimas meninggalkan keluarganya yang masih terus menggoda dirinya karena menatap istri tanpa henti dari tadi bahkan kini mengikuti ke kamar layaknya pengantin baru yang tak bisa lepas dari pasangannya. Ia memasuki kamar yang lebih dulu istri dan anaknya masuk ke dalam dan dengan pelan mengunci kamar tersebut agar tak terdengar keluarganya. Tubuh kekarnya Ia rebahkan di belakang tubuh sintal istri yang memiringkan tubuh untuk menepuk lembut pinggul putranya agar lebih lelap dalam tidur.
" Mas, banyak orang di luar " seru Rena merasakan tangan suami menyusup ke dalam kaos yang Ia kenakan.
" Kamu bisa kaya gitu sih sayang " sahut Dimas mengingat setiap gerakan istrinya ketika menari.
" Apanya sih mas? " tanya Rena tak memahami perkataan suamu yang rajin memainkan jari jarinya dari semalam.
__ADS_1
" Tarian tadi sayang, engga kuat lihat Kamu gitu " seru Dimas manja di tengku istrinya.
" Kamu yang mesum mas, orang orang lihat Aku kaya gitu juga biasa aja kok " sahut Rena mengejutkan suaminya.
" Kamu di depan orang kaya tadi? " tanya Dimas terkejut menghentikan tangannya sembari mengangkat kepala agar bisa melihat wajah istrinya.
" Iya mas, kalau tampil di acara kan banyak yang lihat dan mereka biasa aja engga ada yang kaya Kamu gini " jelas Rena.
" Kapan? " tanya Dimas semakin terkejut.
" Terakhir semester dua deh mas kalau engga salah buat wakili kampus waktu itu. Papa juga datang kok mas " tambah Rena menjelaskan menimbulkan tatapan tak percaya suami dengan napas kasar Ia hembuskan.
" Engga boleh lagi, bolehnya di depan Aku aja " gerutu Dimas.
Istri yang masih menepuk lembut putranya hanya tersenyum mendengar suaminya menggerutu dengan tangan kembali menyusup ke dalam baju istrinya demi memainkan buah dada besar di sana. Napas memburu Rena makin membangunkan kembali hasrat suami yang tak pernah merasa puas tersebut.
" Mas, jangan disini nanti aja dirumah ya " pinta Rena merasakan sesuatu bergejolak dari belakang tubuh bawahnya.
" Aku jadi terus terusan mau kaya gini sih " batin Dimas menyadari hasratnya tanpa henti meninggi mrnginginkan istrinya semenjak semalam.
" Maaf sayang, Aku juga engga tahu cepat banget pinginnya " sahut Dima merasa bingung pada dirinya sendiri.
Mendengar sahutan dari suaminya, Rena membalikkan tubuh menghadap lelaki yang menghentikan kegiatan tangannya tersebut.
" Engga apa-apa mas, ini juga kewajiban Aku sama aja ibadah buat Aku " ucap Rena menenangkan suaminya yang merasa bersalah akan hasrat yang begitu cepat naik padahal dulu tidak seperti sekarang ini meski suaminya tetap manja seperti dulu.
" Kasihan Kamu sayang kalau terus ladeni Aku " sahut Dimas dengan wajah bersalahnya.
__ADS_1
" Engga kok mas, Aku seneng bisa buat Kamu seneng " ucap Rena memeluk suaminya dengan wajah Ia tenggelamkan pada dada bidang di hadapannya.
Dimas yang tak mampu menahan keinginannya menikmati kembali bibir merah Rena dengan lembut dan penuh perasaan setelah melepaskan diri dari pelukan istrinya. Hasrat yang seketika memuncak Ia salurkan kembali meski dengan adanya Brian yang sudah terlelap dan tak mendengar suara kenikmatan orangtua yang bermain di bawahnya. Mulut yang Ia tutup dengan telapak tangan demi menahan suara atas perlakuan suaminya agar tak terdengar keluar mengingat keluarganya berkumpul di sana. Hasrat liar yang tersalurkan membuat Dimas merasakan kepuasan tiada henti meski dari semalam Ia sudah berulang kali merasakan kenikmatan tersebut bersama istrinya. Keawajiban seorang suami yang kini kembali Ia laksanakan dengan cinta serta perasaan begitu besar pada istrinya bersama harapan besar akan hadirnya kembali buah hati dalam rahim orang yang Ia cinta tersebut.