Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyat 187


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Walaupun merasa aneh karena suaminya langsung membawa ke rumah sakit, padahal belum tentu jika dirinya akan melahirkan hari ini, Rena hanya bisa pasrah dan menuruti semua keinginan suaminya.Rena sendiri tak ingin jika suaminya menjadi begitu khawatir juga keluarga yang lain.


Aulia dan Brian sengaja ditinggal dirumah dan hanya Dimas dan Rena saja yang pergi ke rumah sakit, dengan di antar oleh Pak Adi yang sudah dihubungi lebih dulu oleh lelaki dengan wajah terlihat tegang tersebut.


Sengaja Dimas juga meminta Bi Lastri datang ke rumah Tyo untuk membantu menjaga kedua anaknya. Auli pun diminta agar tak masuk ke sekolah lebih dulu, demi berjaga jaga jika Maminya benar benar melahirkan hari ini.


" Nek, kenapa Kita engga ikut Mami sama Papi aja sih ? Aku kan kasihan sama Mami " seru Aulia juga terlihat takut melihat Maminya kesakitan tadi.


" Nanti sayang ya, Kita tunggu kabar dari Papi dulu " lembut Natalie menuruti keinginan Dimas untuk tak ikut ke rumah sakit sebelum pasti, agar tak terlalu repot juga dengan Brian dan Aulia.


" Tapi Mami sama Adik Aku engga apa apa kan Nek ?" tanya gadis kecil dalam dekapan neneknya.


" Kita doakan saja ya sayang, biar Mami sama Adik baik baik saja " lembut kembali Natalie mengusap rambut cucu pertamanya.


Tyo pun memutuskan untuk tak bekerja hari ini demi menunggu kabar dari Kakaknya. Sengaja Ia bersiaga di rumah agar sewaktu Kakak iparnya benar benar melahirkan, Ia bisa langsung cepat bergegas ke rumah sakit.


Siska yang belum lama ini melahirkan, juga terlihat khawatir melihat Kakak iparnya tadi. Pasalnya Dia sendiri tak begitu merasa tersiksa seperti Rena yang tak henti terlihat menahan rasa sakit.

__ADS_1


Rena memang selalu menyembunyikan rasa sakitnya dan lebih memilih untuk merasakan sendiri semuanya. Untuk itu Dimas yang begitu menghapal watak istrinya, langsung memutuskan membawa saja ke rumah sakit.


Sampainya di sebuah gedung dimana begitu terasa kuat bau obat, Dimas dengan bantuan perawat membawa Rena ke ruang pemeriksaan. Seorang Dokter kandungan pribadi juga sudah bersiap membantu cucu menantu pemilik rumah sakit.


Pemeriksaan demi pemeriksaan di jalani Rena, yang ternyata sudah mengalami pembukaan tiga. Dan wajar saja jika Rena merasa sakit tak kunjung hilang.


Dimas mulai mencari tahu kenapa bisa lebih cepat dari tanggal dimana seharusnya Rena melahirkan, namun penjelasn Dokter yang menyatakan hal itu wajar seketika menenangkan hati Dimas.


Tapi ekspresi tegang juga tak bisa begitu saja hilang dari dimas, yang belum biasa mengatasi rasa takut akan darah. Mengingat baru kali ini Ia menemani istrinya melahirkan, Dimas merasa gugup akan apa yang harus Ia lakukan nanti di dalam ketika Rena melahirkan.


" Mas, Kita jalan jalan di depan aja ya " pinta Rena masih terbaring di ranjang.


" Engga apa apa Pak Dimas, jalan jalan sebentar juga bisa mempercepat proses pembukaan " jelas Dokter tersenyum.


" Masa sih ?" tanya Dimas tak percaya, mengembangkan tawa Rena.


Pertanyaan Dimas yang seakan meragukan Dokter tersebut, terdengar begitu menggelitik bagi Rena. Sedangkan Dokter wanita tersebut hanya tersenyum, dengan merasa aneh. Karena Ia tahu pasti jika lelaki yang masih duduk memegangi tnganistrinya itu sudah memiliki dua anak lebih dulu.


Tanpa diketahui Dokter jika Dimas bukanlah seorang suami dan Ayah yang beruntung, karena tak pernah ada di saat kedua anaknya lahir dulu. Untuk itu kini Dimas merasa begitu cemas melihat kondisi istrinya yang baru Ia tahu bagaimana tersiksanya seseorang yang hendak melahirkan.

__ADS_1


Meskipun tak begitu yakin, Dimas tetap membawa istrinya berjalan jalan dengan setia menemani memegangi lengan perempuan yang tengah menahan rasa sakit itu.


Dimas meminta seorang perawat untuk mengabari rumah Tyo dan Dedrick untuk memberitahukan kondisi istrinya saat ini. Karena Rena juga ingin melahirkan ditemani oleh Papanya seperti saat Ia melahirkan Brian sewaktu di Paris.


" Sayang, perut Aku mules banget ya " rintih Dimas merasa aneh pada perutnya.


" Mas salah makan apa kemarin di kantor ?" tanya Rena duduk sejenak untuk mengatur napas.


" Engga ini kaya mules giman gitu sayang, pinggang sama punggung Aku juga sakit banget. Apa karena kebanyakan duduk ya ?" jelas Dimas sering merasakan hal itu beberapa kali, namun baru kali ini mengeluh pada istrinya karena terlalu sakit di banding kemarin kemarin.


" Mas ke Dokter dulu deh, biar di periksa takutnya ada apa apa juga loh mas " seru khawatir Rena memegang punggung suaminya.


" Ngarang aja, nanti urus Kamu sama anak Kita dulu baru Aku " jelas Dimas duduk di samping istrinya.


Memang akhir akhir ini Dimas terlalu keras bekerja hingga melupakan kondisi kesehatannya sendiri. Karena saking inginnya bisa menemani istrinya melahirkan dan merawat anak mereka di awal awal kelahiran.


Wajah khawatir ditunjukkan Rena sambil membantu suaminya mengusap punggung, walau dirinya sendiri juga merasakan sedikit sakit namun tak begitu menyiksa seperti tadi.


Rena mencoba meminta suaminya untuk mengatur napas agar sedikit membuat rileks dan mengurangi rasa sakit, dan dituruti saja oleh Dimas yang memang merasakan rasa sakit semakin menjadi. Merasa aneh dengan kondisinya sendir, Dimas mencoba tenang agar bisa menemani istrinya. Ia tak ingin kembali melewatkan momen penting kelahiran anaknya.

__ADS_1


__ADS_2