Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kesal.


__ADS_3

PLAGIAT? INGAT TUHAN ITU ADA. LEBIH BAIK SUSAH DI DUNIA DARIPADA DI AKHIRAT. NAUDZUBILLAHIMINDZALIK.


Pagi harinya Dimas sudah menunggu di meja makan untuk menikmati sarapan bersama. Tidak adanya Aulia dan Dion, membuat Dimas meminta Brian untuk memanggil kakaknya agar bisa makan bersama. Brian ragu ragu untuk naik, karena tadi waktu melewati kamar kakaknya, kamar itu masih tertutup rapat.


"Kak, ditunggu papi di bawah" ucap Brian mengetuk pintu.


Aulia tengah tertidur di dalam bersama suaminya, tak mendengar ketukan berulang dari Brian. Rasa lelah keduanya semalam, membawa mereka dalam tidur sangat lelap. Bahkan alarm pun hanya diraih untuk dimatikan saja pukul tiga dini hari tadi.


Tidak mendapat sahutan dari dalam, Brian pun kembali turun dan duduk di samping Rendi pada meja makan panjang telah berkumpul keluarga besar di sana menanti.


"Mana kakak?" lembut Rena bertanya dengan duduk di samping suaminya.


"Kamu beneran panggil kakak gak sih?" tambah Dimas menatap putranya.


"Panggil pi, tapi kakak lagi anu.. itu.." jawab Brian bingung ingin menjawab karena takut salah dan berbohong, namun membulatkan mata keluarga.


"Lagi anu apa?!" membulat Dimas bertanya.


"Anu, itu.. kakak engga jawab" jujur Brian tidak ingin berbohong dengan alasan.


"Tinggal ngomong gak jawab aja pakai anu anu segala" gumam Dimas lirih, membuat lainnya tersenyum.


"Galak banget sih kamu Dim sama anak sendiri" ucap Teddy.


"La habisnya ditanya jawabnya anu anu aja, kan mikirnya jadi ngelantur pa" sahut Dimas, melebarkan senyum keluarganya yang mengerti.


"Kaya gak pernah jadi pengantin baru aja" lirih Natalie bergumam.


"Ya pernah ma, tapi mana pernah sih Dimas bangun siang?" ucap laki laki tengah membela diri tersebut.

__ADS_1


"Sering mas" sahut Rena tersenyum, mulai mengambilkan makan untuk suami dan anak anaknya.


"Ya itukan karena kamunya yang ajak bangun siang sayang, pengennya dipeluk aja engga mau bangun" ucap Dimas membuat Tyo tersedak air putih tengah di teguknya.


"Mas Dimas keterlaluan banget kalau ngomong engga ada rem nya kaya Aulia waktu kecil, tuh sekarang gantinya Sandra" protes Tyo dengan baju basah karena tumpahan air minum.


"Kok aku? aku ada remnya lagi Pa, iya kan yayang Rendi?" protes Sandra yang duduk di samping Rendi, tersenyum manja ke arahnya.


Tyo dan Dimas juga Rendi sama sama bergidik dengan ucapan Sandra. Tetap saja sikap genit Sandra membuat kedua saudara itu tidak berhenti terheran, apalagi sikap genitnya semakin menjadi saat di dekat Rendi.


Rendi menarik lengan kaos Brian dan meminta untuk pindah tempat duduk, Sandra cepat manyun. Tapi semua keluarga besarnya malah tertawa terbahak melihat Sandra selalu di cueki oleh Rendi yang dingin.


Di tengah tawa mereka, tiba tiba terdengar langkah kaki menuruni anak tangga. Aulia dan Dion berjalan bersama menghampiri keluarga. Dion langsung duduk usai mencium tangan semua orang tua di meja makan tersebut bersama Aulia.


Dimas memperhatikan langkah putrinya dari saat Aulia menuruni anak tangga dengan di pegang oleh Dion. Merasa geli sendiri mengingat kejadian Rena yang sama sama berjalan aneh saat pertama mereka melakukan kewajiban suami istri.


"Apanya pi?" penasaran Dinda yang mendengar.


"Apaan sih mau tau aja urusan orang tua" protes Dimas melirik putrinya.


Usai mengambilkan makan untuk anak anak dan suaminya, Rena kembali duduk dan membiarkan Aulia mengambilkan makan untuk Dion. Keluarganya sangat bahagia melihat sikap bertanggung jawab dari Aulia, tanpa di minta. Dion pun tersenyum meraih piring berisi makanan dari istri yang tadi pagi menangis kesakitan.


Aulia memang sempat menangis ketika bangun tidur, merasakan sakit pada miliknya. Belum lagi saat melihat bercak darah pada sprei, membuat Aulia ketakutan. Dion pun mencoba mencari tahu di internet akan apa yang di rasakan istrinya. Namun ternyata itu hal wajar untuk hubungan pertama kali dijalankan.


Kepolosan keduanya akan hubungan baru pertama itu, membuat mereka sama sama bingung dan ketakutan. Takut akan ada apa apa dengan Aulia. Namun keduanya tenang ketika tahu semua yang terjadi adalah hal wajar. Dion memang melakukan tiga kali semalam, sampai merasa lelah dan ketiduran bersama. Tidak tahu mengapa pertama merasakan, Dion ingin mengulanginya lagi dan lagi. Hal itu membuat Aulia hanya bisa menurut tanpa sedikitpun protes, karena tahu jika itu kewajiban sebagai seorang istri.


Semua orang tua di meja makan tersebut memperhatikan Aulia dan Dion yang mengikuti Rena dan suaminya untuk makan satu piring bersama. Aulia memang sangat menginginkan hal itu semenjak melihat kedua orangtuanya sering melakukannya. Terlihat romantis dalam kerukunan berumah tangga.


"Makanan masih banyak kenapa satu piring berdua sih? hemat? kan gratis" goda Tyo menatap keponakan tengah menikmati makan bersama suaminya.

__ADS_1


"Romantis Tyo, romantis" jawab Erwin menegaskan kata romantis, memerahkan wajah Aulia dan Dion.


"Romantis kaya orang susah aja" celetuk Brian.


"Oh jadi kamu mau bilang papi sama mami ini orang susah gitu gara gara makan satu piring berdua tiap hari?!" tanya Dimas menatap tajam putra tengah beranjak remaja tersebut.


"Eng, eng, enggak pi" takut Brian menjawab menggelengkan kepala.


"Kakak sih!" kesal Brian ke arah Aulia.


"Yeee enak aja, kamu tuh yang ngomong engga ada filternya" protes Aulia membela diri.


"Udah udah, bertengkar di depan makanan itu engga baik loh" ucap Sandra, mengejutkan semua orang langsung menatapnya.


"Tumben sehat" ucap Siska bergumam.


"Sayang, kamu kira anak kita sakit apa selama ini? dia agak agak aja emang terkadang" ucap Tyo melirik istri di sampingnya.


"Gak usah di belain papa, belain tapi juga ngatain" gumam Sandra melebarkan senyum semua di meja makan tersebut.


"Udah makan, entar habis lagi di makan Rendi. Itu anak diam diam makannya banyak" goda Natalie ke arah cucunya yang terus makan tanpa ikut berbicara dari tadi.


"Papi sama mami ternyata romantis banget, baru tahu aku" batin Dion melirik ragu ragu ke arah kedua mertua yang makan satu piring dengan saling menyuapi.


Ikut mengagumi kebersamaan kedua mertuanya, kini Dion mengerti mengapa istrinya tadi minta untuk mencoba makan satu piring bersama. Sebelum turun, memang Aulia meminta untuk bisa makan dalam piring yang sama.


Dion yang selalu mendengar papi mertuanya memanggil sayang sampai saat ini, benar benar mengagumi hubungan keduanya yang terjaga erat tanpa terpengaruh usia dan waktu. Bukan lagi anak remaja yang sedang jatuh cinta, namun keduanya selalu terlihat seperti orang tengah kasmaran setiap hari.


Bahkan tidak akan ada yang menyangka jika sepasang suami istri yang siap menerima cucu tersebut, sudah memiliki anak anak remaja dan sudah memiliki menantu. Karena paras keduanya sama sekali tak terlihat menua sedikitpun. Satu kulit terlipat pun tak nampak dari wajah terlihat kencang dan segar keduanya.

__ADS_1


__ADS_2