Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 149


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Erwin yang sudah duduk di sofa karena merasa lemas pada kakinya mendengar semua ucapan Dimas dan fakta putrinya hamil hingga tak bisa membuat keduanya terpisah, tak ingin jika Rena kembali merasakan penderitaan seperti dulu. Namun mengetahui kenyataan jika putrinya mendapat kekerasan dari suaminya membuatnya juga tak tega meninggalkannya tinggal bersama Dimas.


Tyo membantu Kakaknya untuk kembali duduk dengan rasa tak kuasa melihat kondisi begitu tak berdaya yang kembali harus menghadapkan kakaknya dalam situasi hampir kehilangan. Dedrick juga Teddy masih merasa marah dengan sikap Dimas namun mengkhawatirkan kondisi mental lelaki yang kini masih menunjukkan ekspresi tak berdaya dan begitu terlihat lemah.


" Papa, Aku tahu sudah buat Papa kecewa. Tapi Aku mohon beri satu kesempatan lagi pada Kami, kalau nanti Mas Dimas melakukan hal yang sama Aku rela untuk berpisah dan ikut kemanapun Papa pergi " ucap Rena bersimpuh dengan meletakkan kepala di atas pangkuan Erwin.


Pria yang menyandarkan tubuh pada sandaran sofa tersebut menitikkan air mata dalam hatinya yang terluka harus melihat putri kesayangannya memohon demi lelaki yang bahkan sudah sangat melukainya. Siku yang Ia sandarkan pada sandarang tangan sofa menopang wajah sedih dan amat terluka.


" Papa, tolong kasihani anak anak Pa. Aku tidak mungkin membuat mereka hancur bersama dengan hubungan ini. Mereka tidak mengerti apa-apa, dan Brian juga sangat membutuhkan Papinya " tambah perempuan yang masih terus menangis di pangkuan Erwin sambil bersimpuh di lantai tersebut mencoba meyakinkan serta membujuk Papanya diiringi tatapan tak tega dari keempat laki laki yang melihatnya amat tulus ingin melanjutkan hubungannya.


" Papa hanya ingin melihat Kamu bahagia nak, tapi kenapa hidup Kamu jadi seperti ini. Bahkan mama ataupun Papa tidak pernah memarahi Kamu tapi suami Kamu malah tega melukai Kamu seperti ini. Papa harus apa Rena? " ucap Erwin menitikkan air matanya.


" Maafkan Aku Pa sudah begitu mengecewakan Papa tapi Aku mencintai mas Dimas dan Aku butuh mas Dimas Pa, tolong jangan pisahkan Kami " sahut Rena membuat suami yang tak diijinkan bicara hanya mampu menatapnya sendu dengan air mata terus membasahi pipinya.

__ADS_1


" Apa Kamu akan bahagia jika bersama Dia? apa Kamu bisa menjalani kehidupan dengan lelaki kasar seperti Dia? " tanya Erwin mengusap kepala putrinya penuh kasih sayang.


" Mas Dimas bukan orang yang kasar, Dia baik Pa. Hanya saja waktu itu Aku yang sudah keterlaluan hingga mas Dimas melakukan hal itu, Aku janji akan bahagia menjalani pernikahan ini. Aku sepenuhnya sudah memaafkan mas Dimas dan ingin memulai segalanya dari awal, tolong ijinkan Kami dan restui Kami kali ini Pa " ucap Rena panjang lebar demi meyakinkan Papanya agar tak terpisah dari suaminya lagi.


" Baiklah nak, tapi hanya kali ini. Jika lain kali terjadi hal seperti ini, Papa tidak akan memtoleransi lagi dan akan membawa Kamu juga anak Kamu pergi selamanya dari kehidupan suami Kamu " ucap Erwin membuat Rena amat bahagia.


" Apa Paa memaafkan mas Dimas? "tanya Rena menatap ke arah Erwin dengan penuh harap.


" Iya nak, asal Dia bisa menjamin kebahagiaan Kamu juga anak anak Kamu " ucap lelaki yang kini meraih tubuh putrinya untuk Ia peluk dengan erat.


" Terimakasih banyak Pa, Aku tidak akan mengecewakan Papa ataupun membuat Papa sedih lagi " ucap Rena dalam pelukan Papanya.


Dimas berjanji pada dirinya tak akan pernah melakukan apapun yang bisa menghancurkan kehidupan rumah tangganya lagi. Bahkan Ia bertekad untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik sebagai suami juga ayah bagi anak anaknya yang mampu menghadapi semuanya dengan kesabaran juga kepercayaan.


Cinta antara keduanya mampu meyakinkan kembali hati kerasnya Erwin dan juga melegakan Dedrick dan Teddy meski mereka berdua belum sepenuhnya memaafkan sikap Dimas yang di anggap mencoreng nama keluarga dengan sikap kasarnya terhadap Rena.

__ADS_1


Erwin meminta Dimas untuk mendekat dan memeluk keduanya memberikan berbagai nasehat serta berharap akan kehidupan lebih baik juga kebahagiaan di antara keduanya. Ia meminta Dimas agar bisa menjadi seorang teman, suami juga Ayah yang mampu membimbing Rena serta mengingatkan dengan kata kata jika putrinya melakukan kesalahan tanpa perlu melakukan kekerasan.


" Papa serahkan sepenuhnya putri Papa ke Kamu, jaga Dia dan jangan pernah sakiti ataupun membuatnya menangis lagi atau Kamu akan tahu akibatnya Dimas " ucap Erwin menyatukan kedua tangan Dimas dan Rena.


" Aku janji Pa tidak akan pernah membuat Rena menangis ataupun menyakitinya lagi, terimakasih atas kesempatan yang sudah Papa kasih untuk Kami dan tidak akan oernah Kami sia sia kan hal itu : sahut Dimas penuh keyakinan.


" Terimakasih Erwin, Om tahu Kamu memang orang yang sangat baik. Karena hanya orang baik seperti Kamu dan Nesa yang mampu memiliki anak berhati mulia seperti Rena " ucap Dedrick berlinang air mata dengan di rangkul oleh Tyo pada pundaknya.


" Aku akan pastikan Dimas tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan Aku janji akan menghukum sendiri putraku jika sampai sedikitpun Ia melukai putrimu " ucap Teddy menambahkan.


" Terimakasih banyak Pa, Aku sayang sama Papa " ucap Rena kembali memeluk lelaki yang masih duduk di sofa tersebut.


" Papa juga sayang sama Kamu nak, jangan menangis lagi itu tidak baik untuk janin dalam kandungan Kamu " seru Erwin mengusap lembut punggung putrinya yang kembali mengingatkan Dimas akan pengakuan istrinya tentang kehamilan yang mereka tunggu tunggu.


" Iya Pa, doakan Kami agar selalu bahagia Pa " pinta Rena.

__ADS_1


Dimas masih menahan rasa ingin tahunya tentang pernyataan kehamilan Rena karena suasana yang masih belum mendukung untuknya bertanya. Lelaki yang terus mengembangkan pertanyaan dalam benaknya itu membawa Rena untuk duduk sambil terus menggenggam tangan istrinya dan menyeka air mata yang masih membasahi wajah cantik istrinya.


Kasih sayang seorang Ayah pada putrinya begitu besar ditunjukkan lelaki yang tak henti memperhatikan pasangan suami istri yang duduk di samping diri nya berada di sofa terpisah. Ia merasa bangga pada putrinya yang bahkan mampu memaafkan suaminya tanpa menyimpan adanya dendam dalam hati. Meski sudah begitu parah lelaki disamoingnya dengan tatapan penuh kasih sayang itu menyakiti, namun tetap Ia bersabar menjalani semuanya dan tetap membela lelaki yang amat Ia cintai itu. Didikan dan petuah petuah yang selalu Ia dan Nesa juga Neneknya berikan seakan tak sia sia selama ini hanya dengan melihat sikap dewasa serta pemaaf Rena.


__ADS_2