Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 23


__ADS_3

Setelah memasuki kamar mereka, Dimas memutuskan untuk langsung membersihkan diri karena harus memimpin meeting di perusahaannya. Karena sewaktu Tyo menggantikan Dimas memimpin meeting, Dimas kurang puas dengan hasil akhirnya. Untuk itu, ia meminta sekretarisnya menjadwal meeting lagi untuk mengevaluasi hasil meeting sebelumnya.


Sedangkan Rena mulai memilih milih pakaian di ruang pakaian yang ada di kamar ganti suaminya. Karena tidak menyukai bau pakaian dari almari, sengaja Dimas memilih ruangan sendiri untuk pakaian serta aksesoris mahal miliknya. Rena pun keluar membawa satu stel jas berwarna hitam lengkap dengan dasi juga jam tangan yang sesuai.


Setelah beberapa lama asik dengan acara mandi, Dimas keluar dengan hanya melilitkan handuk di pinggang, sehingga tampak jelas perut sixpack dan dada bidang yang lumayan kekar karena Dimas sangat rajin ke gym. Rena yang sedang menyiapkan tas Dimas pun terkejut ketika membalikkan badan dan melihat suaminya hanya memakai handuk di pinggang. Dengan cepat Rena berteriak dan memutar tubuh.


"Kenapa sih Ren? bikin kaget orang aja." tanya Dimas terkejut akan teriakan Rena.


"Mas kenapa keluar engga pakai baju sih?" tanya Rena memunggungi suaminya.


"Ya kan habis mandi, masa iya pakai baju? Tiap hari juga gini aku, cuma kamu aja yang engga pernah tahu." jawab Dimas santai sambil mengibaskan rambut setengah basahnya mengenakan tangan.


"Ya.. ya udah aku keluar dulu, mas ganti baju udah aku siapin di tempat tidur." seru Rena melangkahkan kaki ke arah pintu. Dengan cepat Dimas menarik Rena dan memeluknya dari belakang hingga membuat Rena panas dingin.


"Aku kan tadi udah bilang bantuin aku siap siap jadi ya harus bantu sampai tuntas dong," goda Dimas berbisik di telinga Rena yang semakin membuat tubuh Rena berdesir panas.


"Udah aku siapin mas, kamu tinggal pakai." sahut Rena gugup dan membuat Dimas ingin lebih menggoda istri yang masih saja malu malu.


"Kamu kok masih malu malu sih sama aku? kita nikah udah lama loh Ren. Semalam kita juga udah..." seru Dimas tak melanjutkan perkataan, nyakarena Rena tiba tiba melepas pelukan dan berbalik ke arah tempat tidur mengambil kemeja Dimas. Membantu memakaikan dengan wajah berpaling ke kanan, juga menutup mata serta menggigit bibir bawah mencoba mengatur nafasnya dalam.


Dimas tersenyum melihat istrinya yang terlihat sangat menggemaskan. Terpikirkan untuk lebih menggoda Rena dengan membuka kancing baju yang telah di kancing, agar bisa lebih lama istrinya berada dekat. Tersenyum membuka kancing, sambil menunduk menatap wajah cantik istrinya.


"Udah mas, sekarang aku mau lihat sarapan dulu di bawah." ucap Rena mencoba pergi dari hadapan suaminya.


"Kamu yakin udah? coba kamu lihat." seru Dimas tersenyum, mengamati perempuan di hadapannya.

__ADS_1


Rena dengan gugup mencoba untuk melihat kemeja suami yang telah ia pasangkan tadi.


"Belum kamu kancing kan Ren?" seru Dimas seraya menggoda, menahan tawa di balik wajah santai.


"Kok bisa? kayanya udah aku kancing semua deh mas," bingung Rena hanya dijawab dengan menaikkan kedua bahu oleh Dimas.


Meski merasa aneh, Rena pun mengancingkan kembali satu per satu kancing kemeja Dimas, dan ditariknya langsung pinggang Rena sampai tubuh Rena tanpa jarak dengan Dimas saat ini.


"Mas, mau apa?" tanya Rena gugup. Tanpa menjawab pertanyaan Rena, Ia pun langsung mengecup lembut kening istrinya, dan beralih ke bibir, membulatkan tajam mata Rena.


"Mas..." seru Rena pelan.


"Mulai hari ini, setiap pagi kamu harus kaya gini ke aku," seru Dimas lalu memeluk erat tubuh Rena.


"Aku sayang kamu Rena, aku mau setiap hari hanya ada kebahagiaan dan juga kemesraan di antara kita. Setiap aku bangun kamu harus ada di samping aku engga boleh ninggalin aku kaya tadi." tulus Dimas membelai rambut Rena.


"Ya udah sekarang mas siap siap aku tunggu di bawah ya.." timpa Rena melepas pelukan.


"Oke!" jawab Dimas tersenyum, mengangguk. Ia sendiri juga tengah buru buru sebenarnya, namun tidak bisa jika tidak menggoda Rena pagi itu yang masih merasa sangat malu dengan kejadian semalam.


Rena ke bawah untuk melihat apakah sarapan untuk suami nya sudah siap, namun ternyata bi Ijah sudah menata semua di meja makan.


"Terimakasih ya, Bi" seru Rena pada bi Ijah sambil melebarkan senyum.


"Sama sama Bu, ini sudah tugas saya" sahut bi Ijah sembari menuangkan air ke dalam gelas.

__ADS_1


Dimas yang telah selesai bersiap, segera menuju ke ruang makan untuk sarapan dengan Rena. Dimas mulai mengambil posisi duduk di meja makan sedangkan Rena mulai mengambilkan makan untuk Dimas dan meletakkan di meja di hadapan lelaki sudah sangat tampan dan segar.


"Terimakasih." ucap Dimas, dibalas senyum manis oleh Rena. Ia mengambil makan untuk dirinya dan makan bersama dengan Dimas bersama.


"Aku nanti mungkin pulang telat, jadi kamu tidur dulu aja ya." jelas Dimas melirik istrinya.


"Mas, aku boleh nanya sama kamu?" tanya Rena ragu.


"Iya, kamu nanya aja," jawab Dimas memasukkan makanan ke mulutnya.


"Mas sebenar nya kerja apa sih?" tanya Rena karena ia merasa aneh jika seorang pianis bisa mempunyai banyak barang mewah di dalam ruangan pakaian yang baru pertama du masuki pagi ini. Dimas pun tersedak mendengar pertanyaan Rena dan dengan cepat Rena mengambilkan minum sambil mengusap punggung suaminya.


"Kenapa kamu tiba tiba nanya gitu?" tanya Dimas heran.


"Engga mas, aku cuma nanya aja. Mas lanjutin makannya nanti telat di marahin bos mas loh." seru Rena tak ingin membahas lagi karena melihat Dimas sangat terkejut.


"Maaf Ren, aku belum bisa kasih tahu kamu sekarang, karena aku takut kamu akan pergi setelah tahu aku bohong sama kamu dan tahu aku sebenarnya." batin Dimas dalam hati, lalu menyelesaikan makan.


"Kamu jangan terlalu banyak pikiran, semua yang aku dapat bisa aku jamin halal kok." seru Dimas mengusap lembut kepala Rena untuk meyakinkan dengan senyumnya.


"Iya mas, maaf," jawab Rena tersenyum menatap ke arah suaminya.


"Ya udah aku berangkat dulu ya udah siang." pamit Dimas beranjak dari duduk, disusul dengan Rena yang mengantar sampai halaman rumah.


"Hati hati ya mas," pesan Rena, mendapat balasan ciuman di kening.

__ADS_1


Dimas berjalan menuju kendaraan yang telah di siapkan Pak Adi tepat di depan teras rumah, lalu mulai menyalakan mesin mobil dan melaju keluar rumah. Setelah Dimas pergi, Rena kembali masuk ke dalam rumah dan masuk ke kamar untuk mengerjakan laporan magang di laptopnya.


__ADS_2