Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 153


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


30 menit membuat mi instan dengan toping sama seperti dalam gambar kemasan, Rena membawa satu mangkuk mi yang sudah siap dengan irisan telur rebus, sayur, juga irisan ayam ke ruang tamu dimana suami nya masih menunggu.


Wajah sumringah dengan hidung mencium aroma wangi mi di atas meja, ditunjukkan Dimas yang langsung melahap habis meski masih panas.


" Kok engga di makan? " tanya Rena melihat semua toping di atas mi instan tadi masih tertinggal di mangkuk.


" Engga mau sayang, Aku cuma mau makan mi nya aja " sahut lelaki yang kini sudah bersandar pada sandaran sofa.


Dengan membuang napas panjang, Rena mengambil mangkuk suaminya llu memakan toping yang tertinggal agar tak membuang makanan.


" Kenapa dimakan sih? itu kan bekas Aku "seru Dimas menatap heran istrinya.


" Masih banyak di luar sana orang yang engga bisa makan mas, jadi jangan buang buang makanan " jelas Rena melahap semua toping yang ada di dalam mangkuk tanpa sisa.


" Bukan buang buang sayang, emang engga pengen makan, udah jangan di makan jorok sayang " ucap lelaki dengan tangan hendak mengambil mangkuk yang tengah di pegang istrinya.


" Mas, Aku ini seorang istri dan engga masalah makan sisa suami. Itu bukan jorok mas " lembut Rena mengembangkan senyum.


" Ya udah, Kita makan bareng ya biar romantis " senyum lelaki dengan meraih garpu di dalam mangkuk.


Mangkuk yang masih berisi toping mi instant, di habiskan berdua oleh mereka hingga tanpa sisa. Usai puas dengan apa yang di inginkan, Dimas mengajak istrinya untuk tidur dengan menggendong tubuh Rena tanpa malu menuju ke kamar seperti pengantin baru. Kamar yang sudah lebih dulu di ambil pengharus udaranya oleh Pak Adi atas permintaan Rena, menjadi saksi semakin manja nya Dimas terhadap istrinya, dan tak pernah ingin sedikitpun membuat jarak di antara mereka.


***

__ADS_1


Pukul 03.00 seperti biasa, Rena sudah lebih dulu bangun dan membersihkan diri. Rasa ingin tahu tentang apa yang di katakan asisten rumah tangga nya, membuat Rena memelih untuk memeriksa lebih dulu apakah dirinya benar benar hamil dan suaminya yang mengidam, ataukah memang ada sesuatu yang mengganggu mental suaminya.


Dengan ragu dan rasa takut akan kecewa, Rena berharap harap cemas menunggu hasil dari alat berwarna pink yang Ia pegang dengan masih duduk di atas kloset duduk. Mata nya terpejam beriringan dengan hati yang mulai Ia tata untuk bisa melihat hasilnya.


Batin nya terus berharap jika memang apa yang terjadi pada suami nya hanya karena kehamilan, bukan hal lain. Benda putih kombinasi pink panjang itu, masih terus Ia pegang. Matanya perlahan terbuka beriringan tangan yang tadi di atas paha, mulai Ia angkat di depan dada.


Garis dua yang ditunjukkan oleh alah tersebut, tanpa sadar membuat Rena melompat dan berteriak lalu menutup mulut nya dengan telapak tangan. Ekspresi serta perasaan bahagia mampu mewujudkan keinginan suaminya, membuat perempuan dalam balutan daster tidur putih itu bergegas menghampiri suami yang masih pulas.


" Mas, bangun.... " seru Rena menggoyangkan tubuh suaminya penuh ekpresi bahagia.


" Mas... " tetap menggoyangkan tubuh suami nya namun lebih kuat hingga lelaki masih dalam selimut tebal itu membuka sedikit matanya.


" Kenapa? Kamu pengen ya " seru Dimas menarik Rena mendekat dan memeluk nya.


Seketika mata yang tadi masih berat untuk bangun, langsung tersadar sembari telapak tangan menutup mulut nya berlari menuju kamar mandi. Rasa mual begitu kuat Ia rasakan kembali tanpa meraih lebih dulu alat di tangan istrinya.


Senyum mengembang, namun masih merasakan kasihan karena suami menanggung semua yang pernah Ia rasakan dulu. Ia berjalan mengikuti suaminya ke kamar mandi dan mulai memijat tengkuk suami yang membungkuk di meja wastafel dengan begitu tersiksa.


Lagi lagi tak ada yang keluar dari mulut yang sudah Ia cuci. Tangan memegangi perut dengan keringat di wajah serta rasa lemas, berjalan dengan bantuan istrinya kembali ke ranjang.


" Sakit sayang " rintih Dimas merasa tak enak pada dirinya.


" Sabar ya mas, tunggu berapa bulan lagi " seru Rena mengembangkan senyum membuat suami nya yang kesakitan memasang wajah jengkel.


" Aku sakit malah senyum, Kamu engga rasain sih " omel Dimas menarik selimut dengan jengkel.

__ADS_1


" Aku udah rasain kok mas, malah 9 bulan rasain kaya gitu. Engga bisa makan, engga bisa ngapa ngapain, tersiksa banget. Dan sekarang Kamu yang gantiin Aku " seru Rena mengusap lembut wajah suami yang sudah berubah ekspresi bingung.


" Maksud Kamu? " tanya Dimas bingung.


Rena berjalan memutar ke sisi ranjang Dimas yang sempat Ia letakkan alat tes tersebut di atas meja, dan kembali dengan memasang wajah bahagia menyerahkan hasil tes yang langsung di terima suami nya masih kebingungan.


" Kamu hamil? " teriak Dimas terkejut dengan mata membulat di balas anggukan dan senyum bahagia istri yang duduk di samping tubuh nya.


" Sayang ini beneran kan? Kamu engga lagi bohong kan? " tanya Dimas kembali dengan ekspresi wajah yang sama.


" Iya mas, anak anak mau punya Adik " lirih Rena tersenyum memegang sisi wajah suami nya.


" Terimakasih Tuhan " seru lelaki yang langsung memeluk istrinya dengan begitu erat dan bahagia.


" Aku seneng banget, banget sayang. Akhirnya Kita di percaya buat punya anak lagi " tambah Dimas mencium seluruh wajah istrinya.


" Oke mulai sekarang, Kamu engga boleh ngapa ngapin, engga boleh capek dan yang terpenting engga boleh pergi kaya dulu. Aku mau temani Kamu, turuti semua yang Kamu mau apapun itu " tambah lelaki penuh rasa bahagia dengan menggenggam kedua tangan istrinya.


" Iya mas, Aku janji engga akan kemana mana lagi, Kita akan sama sama rawat anak anak juga calon anak Kita " senyum Rena mengembang.


Hadirnya calon buah hati yang kini harus di rasakan Dimas seberapa menderita nya seorang Ibu, belum di sampaikan oleh Rena karena di samoing kasihan, Ia juga menikmati melihat suami nya terus makan semua makanan yang selalu Ia hindari. Paling tidak, suami nya taka akan bawel masalah makanan dan bisa mengijinkan dirinya makan jajanan pinggir jalan bersama kedua anaknya, tanpa mendengar gerutu kejengkelan Dimas.


" Maaf ya mas, engga tega tapi Aku seneng jadi entar aja Aku kasih tahu ya " batin Rena terus mengembangkan senyum.


Pikir Rena, mungkin karena dulu Ia tersiksa sendiri tanpa adanya Dimas ketika hamil Brian, makanya sekarang Tuhan membuat suminya merasakan hal yang sama. Agar lelaki dalam ekpsresi bahagia itu tahu bagaimana rasanya.

__ADS_1


__ADS_2