
STOP PLAGIAT! HARGAI KERJA KERAS SAYA JUGA KELUARGA SAYA YANG MEMILIKI KISAH INI!
Jarak tempat Dokter Bram praktek tak terlalu jauh dari rumah, kebetulan ia juga baru saja selesai jam praktek dan tengah dalam perjalanan kembali pulang ketika Tyo menghubungi. Sehingga Dokter pribadi keluarga itu dapat segera datang untuk memeriksa kondisi tangan Rena yang semakin memerah.
"Tangan Ibu ini sangat sensitif terhadap panas, jadi terkena panas sedikit bisa jadi iritasi seperti ini." Dokter Bram menjelaskan pada lelaki yang menunggu disamping istrinya.
"Tapi tidak ada yang perlu di khawatirkan kan, Dok?" tanya Dimas kepada Dokter Bram, tanpa sedikitpun melepaskan tangan seseorang yang ia khawatirkan akan merasakan sakit kembali.
"Tidak kok, Anda tenang saja. Saya akan berikan resep salep oles untuk luka Bu Rena, juga obat untuk diminum agar iritasi Bu Rena cepat membaik. Selama tidak terkena air dulu dalam dua hari pasti sudah sembuh." Dokter Bram kembali menjelaskan sembari menuliskan resep usai memeriksa.
"Terima kasih banyak, Dok!" ucap Dimas.
Setelah memeriksa tangan istri dari seorang tampak masih cemas itu, Dokter Bram pun berpamitan dan di antar oleh Tyo sampai depan. Segera Tyo keluar untuk menebus resep diberikan, setelah berpamitan dulu pada istri yang menyuapi Aulia di meja makan.
Di dalam, Diams menatap luka istrinya dan berulang kali bertanya untuk memastikan rasa sakit mungkin timbul kembali. Dimas tak pernah menyangka jika luka itu bisa menyebabkan iritasi pada istrinya, dan merasakan sebuah rasa iba terlukis jelas dalam aura wajah tampannya.
Mengajaknya untuk berpindah ke ruang makan, Dimas melayani Rena dengan baik. Dari mengambilkan makan hingga menyuapi tanpa perduli tatapan mata tertuju padanya. Semua mungkin tidak akan terjadi jika dari awal ia memperingatkan istrinya agar tak turun langsung dalam setiap pekerjaan rumah.
"Ini, Kamu makan dulu habis itu minum obat dan istirahat di kamar." Dimas berucap sembari menyodorkan piring tersusun makanan di atasnya.
"Makasih ya, Mas." Rena menjawab seraya tersenyum dan dibalas senyum singkat suaminya.
Melihat istrinya tampak kesusahan, Dimas meraih piring dan mulai menyuapi perlahan. Tyo yang baru saja menebus obat di apotik terdekat tampak keheranan akan sikap kakaknya. Dimas merasakan keanehan seperti seseorang diperhatikan, ia mulai menatap ke arah orang orang di meja makan dan mendapati tatapan adiknya.
"Obatnya, Mas." Tyo menyadarkan diri dan menyerahkan kantong putih berisi obat.
"Makasih ya, Dek. Yaudah Kamu makan sana, makanannya ada di meja bukan di muka Mas!" ucap Dimas tegas, merasa risih dengan tatapan ditujukan padanya, sementara Tyo tersenyum sendiri seraya menggaruk tengkuk merasa malu dengan tatapan diberikan dan ketahuan.
Tyo duduk di samping istrinya, sigap Siska mengambilkan makan dan Tyo menunjuk untuk apa saja yang perlu dimasukkan ke dalam piring. Banyak sekali yang ingin dinikmati Tyo, karena semua tampak lezat dan tak bisa di dapatkan di luar Negri.
"Mami, Auli boleh engga tidur sama om sama tante?" tanya Aulia, sudah menghabiskan makan sedari tadi.
"Iya sayang, boleh.Tapi harus gosok gigi sama cuci tangan dan kaki dulu ya?" jawab Rena tersenyum pada putrinya.
"Oke, Mami!" jawab bocah tersenyum lucu di hadapan Maminya itu.
"Bi, tolong ambilkan baju tidur Auli di kamar ya. Sekalian sikat gigi di kamar mandi," pinta Rena pada Bi Lastri seraya meminta tolong.
__ADS_1
"Iya, Bu!" jawab Bi Lastri, segera beranjak pergi ke kamar Aulia untuk mengambil baju tidur dan sikat gigi seperti yang telah di perintahkan oleh majikannya.
Merasa sudah lega dengan perut kenyangnya, Aulia turun dari kursi berjalan kearah orangtuanya memberikan ciuman selamat tidur. Siska meminta ijin pada Tyo untuk membawa keponakan mereka ke kamar tamu dan diberikan ijin. Siska pun meraih tubuh Aulia untuk digendong, entah mengapa meski sudah besar Aulia sangat menyukai digendong.
Sedangkan ketiga orang di meja makan itu masih setia duduk, namun Dimas tak menikmati makan dan hanya menyuapi istrinya hingga habis. Usai makan, Rena berpamitan ke kamar pada suami juga adik ipanya. Dimas dan Tyo memutuskan untuk menikmati teh hangat serta mengobrol di teras sembari mencari udara segar.
"Mas udah cerita semua sama Mba Rena? apa dia mau mengerti? tapi Aku seneng lihat Mas yang sekarang, lebih bisa menunjukkan persaan dan bersikap hangat." Tyo bertanya pada kakaknya begitu mereka duduk berdua di teras.
"Belum, tapi suatu hari pasti akan Mas kasih tau semuanya. Gak mungkin Ms terus bohongi dia, lagipula dia juga sangat baik dan sewajarnya Mas bersikap seperti ke Rena." Dimas menjelaskan dengan pandangan kosong ke depan.
"Aku harap semua akan baik baik aja, entah itu Mba Rena atau.." ucap Dimas tak berani menyebutkan nama, takut jika seseorang mendengar.
"Semoga aja, tapi Mas juga bingung sama perasaan Mas. Sebenernya apa yang Mas rasain ke Rena sama dia, mungkin sama atau beda. Tapi yang jelas semua terlalu sulit buat dipahami. Ada yang mengganjal, Mas tau udah nyakitin sangat parah ke orang lain, dan sekarang secara gak langsung Mas juga udah nyakitin Rena." Sendu Dimas bercerita apa adanya, apa yang dirasakan hatinya.
"Hm, udahlah jangan bahas lagi!" kata Dimas membuang napas kasar.
Obrolan yang tak ingin diketahui oleh siapapun, meski tanpa ia mengerti jika kedua asisten rumah tangganya juga sudah memahami permasalahan hidupnya. Dimas mengehntikan pembicaraan dan melanjutkan percakapan ringan menanyakan kabar dan juga pekerjaan.
Asiknya mengobrol, tidak disadari keduanya jika waktu terus saja berjalan dan kini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dimas meminta adiknya untuk beristirahat karena baru saja menempuh perjalanan panjang. Mereka masuk kedalam tanpa lupa meminta pelayan untuk mengunci pintu.
Matanya lekat menatap wajah pulas dihadapannya mulai membelai lembut wajah cantik tertutup sebagian rambut. Sebuah dorongan dalam diri menuntun Dimas memberikan sebuah kecupan hangat tepat di kening istrinya dan memundurkan wajah kembali.
Dimas semakin bingung akan perasaannya sendiri, ia tersadar dari apa yang dilakukan semenjak di kamar putrinya tadi sore. Sebuah hal yang entah itu memang benar cinta ataukah hanya rasa bersalah atas sebuah kejujuran terus tertunda.
Jika benar ia sudah mencintai Rena, maka akan dijalani semua perasaan yang entah kemana akan membawanya berlabuh nanti. Dalam hati dan pikiran kacau, Dimas meraih tangan tak sakit istrinya untuk digenggam dan mulai memejamkan mata menyelami alam mimpi.
****
Pagi harinya Rena terbangun dari tidur, betapa terkejutnya dia saat melihat wajah suaminya yang begitu dekat. Tangannya pun masih digenggam oleh suaminya, sampai Rena harus melepaskannya perlahan untuk pergi ke kamar mandi.
Rena harus pergi magang pagi ini, Ia mulai membersihkan diri di dalam kamar mandi. Ia tak mungkin untuk liburr karena pasti berpengaruh pada nilai diberikan. Rena hanya ingin lulus dan memberikan sebuah prestasi dalam karir pada papanya.
Dimas tak merasakan keberadaan istrinya, ia membuka mata dan menatap ke sekitar. Mendengar suara dari dalam kamar mandi, ia pun turun dari ranjang usai meneguk air putih lebih dulu dan melangkah ke arah kamar mandi.
"Ren, Kamu di dalam?" tanya Dimas sembari mengetuk pintu kamar mandi perlahan.
"Iya, Mas! sebentar lagi Aku keluar!" sahut Rena dari dalam kamar mandi sedikit meninggikan suara agar terdengar.
__ADS_1
Mendengar jawaban istrinya, Dimas meninggalkan pintu kamar mandi dan duduk di tepi ranjang untuk menyalakan ponsel dan mengecek pesan juga panggilan dari seseorang dinantikan. Tapi ternyata apa yang telah dikirim pun belum terkirim, menandakan jika memang nomor itu tak aktif tanpa diketahui keberadaan pastinya.
"Aku udah selesai, Mas. Mas mau ke kamar mandi?" tegur Rena pada seseorang sedikit melamun dan menatap layar tanpa disadari sudah mati.
"Eh, engga kok. Tadi cuma nyari Kamu aja," sahut Dimas meletakkan ponsel di atas meja.
"Kenapa? ada butuh sesuatu kah?" tanya Rena.
Dimas mengangkat kepala untuk menatap perempuan din hadapannya, terlihat hanya kimono membalut tubuh yang hanya sepanjang paha saja. Rambut basah pun tampak tergulung handuk dengan wajah berbekas sedikit air, tampak semakin cantik dari sebelumnya.
"Kamu ganti baju dulu sana, Aku keluar sebentar." Dimas berpamitan usai menyadarkan dirinya dari tatapan membuatnya sedikit berdesir sebagai seorang lelaki normal.
Ucapan seseorang langsung beranjak pergi itu, menyadarkan rena melihat tubuhnya sendiri. Ia baru sadar jika hanya mengenakan kimono karena buru buru keluar saat suaminya memanggil, Rena takut jika suaminya itu hendak menggunakan kamar mandi.
Meraih pakaian magang, rena mengganti pakaiannya dan mengeringkan rambut juga memberi sedikit polesan make up pada wajah. Semua dilakukan cepat agar tidak membuat suaminya menunggu di luar terlalu lama, Rena keluar untuk memanggil suaminya karena sudah selesai bersiap.
"Kamu mau kemana pakai pakaian itu?" tanya Dimas melihat Rena berbalut cantik pakaian magang.
"Ya mau ke kantor magang dong, Mas" Rena menjawab tanpa merasaa ada yang salah.
"Engga boleh dulu sebelum kamu sehat!" larang Dimas penuh penekanan.
"Ya engga bisa gitu dong, Mas. Aku juga butuh nilai biar cepat lulus dan bisa mulai karir aku sendiri!" jelas Rena pada Dimas namun malah membuat Dimas marah ketika Rena menyinggung masalah karir.
Pasalnya istri Dimas meninggalkan dirinya dan Auli juga hanya demi karir, begitu pula orang yang ingin dinikahinya dulu. Tiba tiba Dimas menjadi takut jika Rena akan melakukan hal yang sama disaat ia mulai memiliki perasaan padanya. Dengan wajah terlukis kemarahan, Dimas masuk ke kamar di susul Rena di belakang.
"Mas, Kamu kenapa?" tanya rena merasa aneh dengan perubahan ekspresi cepat suaminya.
"Kenapa diam aja, Mas?" tanya kembali Rena.
"Kalian perempuan apa engga cukup hanya dengan merawat anak juga suami saja di rumah? kalian pikir suami engga akan mampu menafkahi, sampai harus mengejar karir diluar? apa suami juga anak tidak pernah ada artinya sama sekali dibanding karir?" tanya Dimas beruntun.
"Aku bukan orang semiskin yang kalian kitra! Aku mampu membiayai hidup siapapun, bahkan itu Kamu!" bentak Dimas tiba tiba, membuat istrinya takut.
Begitu emosinya Dimas akan apa yang disinggung oleh istrinya, semua hanya tentang karir yang membuatnya terus menunggu juga kehilangan berulang kali. Dimas tidak mengerti bagaimana bisa semua hanya memikirkan karir tanpa pernah mau mengerti perasaannya sedikitpun. Paling tidak itulah yang dipikirkan selama ini oleh seseorang berdiri di dekat ranjang, dan dipeluk oleh istrinya dari belakang.
"Maaf, Aku engga bermaksud buat Kamu mara. Aku engga niat buat sakiti Kamu, Maaf. Aku akan turuti apapun yang Kamu mau," tulus Rena dengan perasaan takut kehilangan juga amarah ditunjukkan, mengeluarkan bulir air mata tanpa sengaja.
__ADS_1