Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 113


__ADS_3

STOP PLAGIAT


Di dalam rumah yang hanya tinggal Dimas dan Rena tak sekalipun di lewatkan suami yang begitu merindukan tubuh istrinya. Perpisahan yang terjadi membuat Dimas lebih bergairah melakukan kewajibannya tanpa sedikitpun Ia melepaskan istri dengan tubuh kian membuatnya lebih cepat merasakan naik. Hasrat yang mereka pendam selama dua tahun perpisahan terlampiaskan malam ini tanpa ada sedikitpun celah diantara mereka.


Pukul 9 pagi, Rena yang mulai terbangun nerasakan pinggang yang begitu sakit atas permainan suami yang terlalu berhasrat dan liar melakukan tanpa pernah sedikitpun merasa lelah. Langkah yang tertatih Ia langkahkan menuju kamar mandi untyk sekedar membersihkan diri sebelum Ia memasak untuk suami yang Ia cintai. Bekas merah yang terdapat terlalu banyak melukiskan betapa memuncaknya hasrat suami yang semakin lihai dalam mempermainkan tiap inci tubuh Rena.


Setelah tiga puluh menit menyelesaikan acara mandi, Ia keluar dan dipatinya suami yang sudah duduk di atas ranjang dengan segelas air minum di tangannya. Dada yang masih terbuka dengan selimut masih menempel dari perut hingga bawah Ia sandarkan di sandaran tempat tidur.


" Kok udah bangun mas? " tanya Rena menghamoiri suaminya dengan daster yang Ia kenakan semalam serta handuk melilit pada rambut basahnya.


" Kamu kenapa jalannya gitu sayang? " tanya Dimas melihat langkah istri yang begitu hati hati seraya memegangi pinggangnya.


" Gara gara Kamu mas, kok nanya lagi sih " seru Rena duduk di samoing paha suaminya yang masih bersandar dengan tersenyum.


" Kamu sih nagihin sayang " kilah Dimas tersenyum mengusap lembut pinggang istrinya.


" Sakit banget ya? " tambah Dimas terus mengusao lembut pinggang Rena.


" Engga mas, udah nanti juga hilang kok " ucap Rena tersenyum.


" Mas mau makan apa? Aku maskin habis ini " tambah Ren menarik tangan Dimas dari belakang pinggangnya.


" Engga usah sayang, Kita keluar aja ya hbis ini makan diluar sekalian jemput anak anak " sahut Dimas sudah amat merindukan canda tawa kedua buah hatinya.


" Ya udah, mas mandi ya Aku buatin minum dulu " pamit Rena beranjak dari duduk usai mencium lembut kening suaminya.


" Iya sayang " sahut Dimas dengan terus menatap lekat setiap langkah tertatih Rena hingga membuatnya merasa bersalah telah membuat istrinya seperti itu.

__ADS_1


Hasrat yang meluap tanpa Ia sadari telah menyakiti istri yang amat Ia harapkan untuk kembali menjadi seorang Ibu dalam waktu dekat ini. Permainan begitu panas antara mereka berdua juga menimbulkan beberapa luka goresan pada punggung Dimas akibat genggaman kuat dari jari jari Rena hingga kukunya meninggalkan luka goresan pada punggung tegap suaminya.


Usai menyiapkan minuman hangat untuk Dimas yang Ia antarkan ke kamar beserta pakaian ganti suami yang sengaja Ia ambil dari kamar atas agar suaminya tak perlu repot naik turun untuk mengganti pakaian.


" Sayang, Kamu di situ gak? " teriak Dimas dari dalam kamar mandi.


" Iya mas, kenapa? " jawab Rena yang juga berteriak seraya berjalan ke arah pintu kamar mandi.


" Engga ada handuk " seru Dimas dan dengan cepat istrinya mengambilkan sebuah handuk baru dari dalam almari kecil di dekat kamar mandi tempat beberapa keperluan mandi di sana.


Rena memanggil suami yang memintanya untyk langsung masuk karena hendak menyelesaikan mandinya di dalam. Istri yang sudah membawa sebuah lipatan handuk putih besar itu memasuki kamar mandi dan meletakkan handuk di deoan pintu kaca temoat suaminya memanjakan tubuh dengan air shower di dalam.


" Aku taruh sini ya mas " seru Rena dari balik pintu kaca yang terlihat suaminya asik membilas rambut dibawah guyuran air shower.


" Iya sayang, terimakasih " sahut Dimas seraya mematikan saluran air menyudahi acara menyegarkn dirinya dan meraih handuk yang dibawakan istrinya lalu melilitkannya di pinggang.


Dimas hanya tersenyum tanpa mengatakan apa apa dengan berusaha mengeringkan rambut menggunakn handuk kecil yang Ia ambil dari dalam almari.


" Pasti perih kan ini " tambah Rena menatap setiap punggung suaminya seksama.


Ia keluar mengambil obat di dalam kotak obat untuk mengobati setiap luka yang Ia timbulkan semalam. Dengan hati hati seraya meniupnya lembut, Rena langsung mengobati punggung suaminya dengan penuh kasih sayang dan kelmbutan begitu Ia kembali untyk mengambil obat.


Setelah memakaikan obat, Rena meraih kaos yang sudah Ia siapkan dan membantu untuk mengenakannya pada lelaki yang terus menatapnya sembari menahan tawa karena rasa bersalah begitu jelas terukir dari sorot mata Rena. Usai membantu suami dan memberikan secangkir teh herbal hangat, Rena bergegas berganti pakaian agar bisa cepat bertemu dengan anak anaknya.


Pukul 11 siang merek mulai keluar dari rumah yang lebih dulu membungkus makanan di sebuah restoran untuk Ia makan bersama keluarga yang telah Ia hubungi lebih dulu melalui sambungan telpon yang tak lupa merek membelikan kue serta es krim kesukaan anak anaknya terbih Aulia.


Sampainya di rumah Dedrick, beberapa pelayan yang menemani Brian dan Aulia bermain diminta Dimas untuk mengambil makanan di dalam mobil dan menyiapkannya.

__ADS_1


" Anak anak Papi kerjanya main terus sampai bau kaya gini " goda Dimas yang duduk di lantai bersama kedua anknya sementara Rena masih membantu untuk mengeluarkan beberapa bungkus makanan.


Dimas mengajak anak anak nya masuk agar Ia bisa menyapa semua keluarga yang masih berkumoul bersama di dalam.


" Eh pengantin baru sudah datang " celetuk Dedrick tersenyum menggoda cucu yang terlihat begitu segar dan bahagia.


Dengan mengembangkan senyum Dimas mencium semua tangan orang tua yang ada di ruang keluarga bergemuruh menertawakan dirinya atas godaan yang dilintarkan oleh Dedrick. Rena menyusul ke ruang keluarga dan mengajak merek untuk langsung makan setelah mencium tangan lebih dulu pada Papa, Kakek dan Papa mertuanya serta menyapa Tyo serta Siska.


" Mami bisa tari jaipong? " tanya Aulia tiba tiba di meja makan ketika mereka semua sudah duduk dan siap menyantap makan.


" Jawa Barat Ren, Kamu bisa kan ya? " sahut Erwin menambahkan.


" Kenapa sayang? " tanya Rena tersenyum ke arah Aulia.


" Ajarin Aku sama teman teman dong Mi, Kita ada penilaian tari tradisional " pinta Aulia manja yang sudah lebih dulu di beritahu Erwin jika Maminya sering tampil untuk membawakan tarian tradisional beberapa daerah.


" Susah loh itu nak " seru Rena sembari mulai makan.


" Kamu kasih contoh dulu Ren habis ini biar Aulia yang tentuin bisa atau enggaknya " pinta Erein yang selalu bangga dengan putri semata wayangnya.


" Wah Aku engga sabar deh mau lihat mbak " seru Siska penasaran dan dibalas senyum oleh Rena.


" Oke habiskan makannya dulu ya " sahut Rena ke Aulia.


Dimas yang masih menyuapi Brian dan tak mengerti apapun mengenai gerakan dari tarian yang di maksud Aulia hanya diam dan saling pandang bersama Adiknya seperti biasa ketik merek sama sama tak mengerti. Sementara Dedrick dan Erwin begitu menantikan menantu rumah mereka menunjukkan bakat yang mereka sudah tahu dari waktu Rena masih kecil dan suka menari di acara acara kecamatan.


Pukul dua siang setelah semua selesai dengan acara makan dan melanjutkan untuk mengobrol ringan sembari menunggu perut Rena sedikit lega dengan rengekan Aulia yang sudah tak sabar di ajari oleh Maminya. Dengan malu malu karena keluarga yang menatap ke arahnya Rena memulai gerakan bubuka yang dengan lincah berputar di ruang tengah cukup luas rumah Dedrick. Iringan lagu tanjung baru yang penuh semangat di tiap alunannya mengiringi gerak luwes nan energik Rena yang membuat semua orang menatap kagum pada perempuan dengan balutan celana jeans panjang serta kaos putih tersebut. Pinggul dan bahu yang dengan lincah nan gemulai mengikuti alunan tak seklipun mengedipkan mata suami yang terus menatap kemolekan istri di hadapannya hingga tanpa sadar tatapan Dedrick mengarah ke arahnya dengan senyum heran melihat cucunya terbengong melihat istrinya sendiri

__ADS_1


__ADS_2