
STOP PLAGIAT
Lelaki yang masih sangat merindukan istrinya dengan berat hati harua mengakhiri sambungan telpon karena beberapa kali Ia mendengar istrinya tersebut menguap dan memintanya untuk melanjutkan tidur. Meski tak ingin mengakhiri pembicaraan dengan suaminya, Rena mengiyakan ucapan lelaki yang lebih sering terdengar suara tawanya tersebut karena memang rasa kantuk kembali mendera dirinya.
Perempuan dengan raut wajah mengantuk namun begitu merasa bahagia itu kembali ke kamar Aulia untuk menyusul kedua anaknya dan terlelap bersama lagi. Sementara Dimas yang duduk di depan kamar rawat Natalie merasa begitu bahagia bisa mendengar suara istri yang sangat Ia rindukan dan ingin secepatnya kembali pulang agar bisa bersama dengan istri juga kedua anaknya. Ia berharap ketika nanti kembali akan mendapatkan kabar bahagia dari Rena yang terus Ia goda selama panggilan telpon berlangsung dengan candaan mesra dan intim seperti biasanya. Ia begitu berharap istrinya bisa hamil lagi secepatnya dan dapat menebus semua rasa bersalah telah membiarkan Rena mengalami hari hari sendirinya di kala Ia sedang mengandung untuk pertama kali dalam hidupnya bahkan harus merasakan sakitnya melahirkan seorang anak sendiri.
" Kangen banget sama Kamu sayang " gumam Dimas lirih merasakan debaran jantungnya ketika Ia begitu bahagia mendengar suara istrinya.
Walau Dokter telah mengatakan jika Natalie telah melewati masa kritis dan tinggal pemulihan saja, Dimas masih belum merasa tenang sebelum hasil tes berikutnya keluar. Meski tak sekalipun Ia mendekat pada Natalie yang selalu menanyakan dirinya ketika sadar karena dengan melihat wajah Natalie maka akan kembali membuka luka lama yang belum sepenuhnya terobati atas perlakuan buruk Natalie padanya juga keluarga kecilnya.
Erwin, Dedrick maupun Teddy sudah berusaha untuk membujuk Dimas agar mau menemui Natalie, namun ternyata membujuk Dimas tak semudah ketika Rena yang membujuknya dan tetap pada pendiriannya tak akan menemui Natalie lalu kembali setelah menerima hasil pemeriksaan lanjutan Natalie.
Tak satupun dari keluarga Dimas menyinggung tentang Rena atas permintaan Erwin demi menjaga kesehatan Natalie agar kembali pulih. Erwin yang melihat menantunya duduk sendiri menghampiri dengan membawakan satu cup kopi untuk Dimas.
" Terimakasih Pa " seru Dimas meraih cup berwarna coklat yang diberikan Erwin padanya.
" Apa Kamu sudah menghubungi Rena? " tanya Erwin yang sama sekali belum menghubungi putrinya tersebut.
" Sudah Pa, Dia baik baik saja " sahut Dimas mengembangkan senyumnya.
" Papa sudah kangen sama Rena sama anak anak kalian tapi Papa harus secepatnya kembali ke Paris " sahut Erwin menghela napas panjang.
" Dimas janji akan sering mengajak mereka mengunjungi Papa nanti " ucap Dimas mengembangkan senyum Erwin yang meminum kopi di tangannya.
__ADS_1
" Dim, maafkanlah Mamamu. Rena akan sedih jika tahu Kamu masih belum bisa memaafkannya " bujuk Erwin melingkarkan tangan di pundak menantunya.
" Aku masih butuh waktu Pa, semua yang Dia lakukan sudah begitu keterlaluan. Aku engga sanggup bayangin kalau takdir tidak pernah menyatukan Kami kembali lalu bagaimana cara Kami menjalani hidup kedepannya Pa " sahut Dimas.
" Papa mengerti bagaimana perasaan Kamu, tapi berusahalah membuka hati Kamu untuk Natalie. Bagaimanapun juga Dia ibu kandung Kamu nak, toh sekarang Kalian sudah bisa berkumpul lagi " seru Erwin yang tanpa henti bersyukur setiap hari karena melihat kebahagiaan Rena bisa berkumpul kembali dengan keluarganya.
" Iya Pa, Dimas akan coba " jawab Dimas dengan menundukkan wajah.
Erwin masih terus mencoba mempersatukan kembali menantunya dengan Natalie karena Ia yakin jika menantunya tersebut memiliki hati yang baik.
"""
Di rumah, Rena menjalani harinya lebih bahagia dengan hatinya yang sudah tenang. Ia melakukan aktifitasnya seperti biasa di pagi hari tanpa sedikitpun merasa lelah untuk mengurus kedua anaknya meski tanpa kehadiran Dimas. Canda tawa kedua anaknya selalu menemani di kala Ia begitu merindukan suaminya. Rena masih menyibukkan diri dengan menjaga Brian dan mengerjakan pekerjaannya untuk mengisi setiap waktu yang Ia lewati.
" Mi, Papi belum bisa di hubungi? " tanya Aulia di sela latihannya.
" Sudah sayang, semalam Papi telfon tapi kalian sudah tidur. Kamu kangen sama Papi ya? " sahut Rena tersenyum pada putri cantiknya.
" Iya Mi, Kita telfon Papi yuk pakai video " pinta Aulia yang begitu merindukan bercanda juga ledekan Dimas.
" Iya, nanti setelah latihan ya " sahut Rena membelai ujung kepala Aulia yang terlihat begitu senang.
" Makasih Mami, Auli sayang Mami " ucap Aulia memeluk pinggang Rena yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Aulia sudah tak sabar menunggu hingga sore hari agar bisa berbincang dengan lelaki yang selalu menggoda dirinya ketika manja pada Rena karena usia Aulia yang di anggapnya sudah besar dan tak pantas untuk bersikap seperti seorang anak kecil.
Ketika sudah menyelesaikan latihan, Rena memandikan lebih dulu anak anaknya sebelum menghubungi Dimas agar terlihat lebih segar saat Papinya melihat mereka berdua meski hanya melalui layar ponsel yang akan Ia sambungkan nanti.
Aulia, Rena juga Brian sudah bersiap di ruang tamu untuk menghubungi Dimas, namun orang yang mereka rindukan itu lebih dulu menghubungi atas keinginan Erwin, Dedrick juga Teddy yang ingin melihat anak anak Dimas. Lelaki yang tanpa malu langsung memanggil Rena sayang itu mulai mengobrol dengan berebut bersama lainnya hingga membuat Rena bingung harus menjawab siapa dulu.
Brian dengan tawa lucunya bersama Aulia melepaskan segala kerinduan juga kekhawatiran keluarga Dimas yang merasa lega mendapati ketiganya baik baik saja. Dimas yang tak henti menatap Rena karena begitu sangat merindukan istrinya tersebut selalu mendapat godaan dari Dedrick seperti biasa yang dengan sengaja menguasai layar bersama Erwin juga Teddy agar Dimas tak mampu melihat wajah cantik istrinya yang terus mengembangkan senyum di layar.
" Kakek tega banget, lihat tuh mas Dimas udah cemberut aja " terdengar suara Tyo dan langsung membuat Aulia menyapa omnya.
" Kamu juga sama " gerutu Dimas karena Adiknya menggeser tubuhnya untuk bisa melihat dua keponakan lucu yang memanggil namanya.
" Mbak, mas Dimas marah " seru Tyo seperti anak kecil yang tertawa bersama ketiganya melirik ke arah Dimas yang melipat tangan di depan dada menunjukkan tatapan jengah.
" Papi kaya anak kecil " sahut Aulia meski tak melihat wajah Dimas di layar yang di sambut tawa oleh keempat lelaki yang masih sibuk berbicara dengan Aulia, Rena dan Brian tanpa memberikan kesempatan pada Dimas.
" Papi kangen Mami " seru Dimas melebarkan senyum istrinya.
" Engga tahu malu udah tua kangen kangen segala " goda Dedrick tersenyum melirik ke arah Dimas.
" Emang kangen " gerutu Dimas yang hanya terdengar suaranya saja oleh Rena, Brian dan Aulia yang menertawakan lelaki dengan suara jengah itu.
Ketiga orang yang duduk di ruang tamu sambil menyandarkan ponsel di meja itu terus berbincang dan tertawa bersama kala mendengar suara jengah Dimas yang semakin menjadi karena tak diberikan kesempatan sama sekali oleh keluarganya untuk menatap wajah istri juga anak anaknya.
__ADS_1